MALANG – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama International Labour Organization (ILO) meluncurkan Sistem Enterprise Resource Planning (ERP) dan program akses keuangan inklusif bagi peternak sapi perah di Jawa Timur. Program ini bertujuan meningkatkan akses pembiayaan formal sekaligus mendorong digitalisasi sektor peternakan sapi perah.
Peluncuran yang berlangsung di Koperasi Agro Niaga (KAN) Jabung, Kabupaten Malang, Kamis (11/6), merupakan bagian dari implementasi program PROMISE 2 IMPACT, kolaborasi antara ILO, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, dan OJK yang didukung Pemerintah Swiss melalui State Secretariat for Economic Affairs (SECO).
Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto (IAKD) OJK, Adi Budiarso, mengatakan program tersebut lahir untuk menjawab berbagai kendala yang dihadapi peternak dalam mengakses pembiayaan formal.
“Kami menerima banyak laporan bahwa peternak kesulitan memperoleh pembiayaan karena keterbatasan data usaha yang valid, profil usaha yang belum jelas, kapasitas produksi yang tidak terdokumentasi, serta kondisi keuangan yang belum tertata dengan baik,” ujar Adi.
Melalui sistem ERP, data produksi, keuangan, dan operasional koperasi dapat terdokumentasi secara sistematis dan real time. Data tersebut kemudian terintegrasi dengan layanan Pemeringkat Kredit Alternatif (PKA) dan Penyelenggara Agregasi Jasa Keuangan (PAJK), sehingga memudahkan lembaga keuangan dalam menilai kelayakan usaha peternak.
“Melalui data yang dihasilkan sistem ERP, profil kredit peternak dapat dibangun secara lebih objektif, akurat, dan inklusif. Sistem ini menjadi jembatan yang menghubungkan peternak dengan ekosistem jasa keuangan formal,” jelasnya.
Direktur ILO untuk Indonesia dan Timor-Leste, Simrin Singh, menilai digitalisasi memiliki peran penting dalam meningkatkan produktivitas, memperluas akses pembiayaan, serta memperkuat ketahanan usaha masyarakat.
“Kolaborasi ini menunjukkan bagaimana inovasi, kebijakan publik, dan kemitraan multipihak dapat bekerja bersama untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif,” katanya.
Sementara itu, Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN, Olivier Zehnder, menegaskan bahwa penguatan pelaku usaha lokal merupakan fondasi penting bagi pembangunan ekonomi berkelanjutan.
“Ketika peternak memiliki akses terhadap informasi, teknologi, dan layanan keuangan yang lebih baik, mereka akan lebih mampu meningkatkan produktivitas dan berkontribusi pada pembangunan ekonomi daerah,” ujarnya.
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Adhy Karyono, yang mewakili Gubernur Jawa Timur, menyebut sektor sapi perah memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus menggerakkan ekonomi daerah.
“Melalui digitalisasi dan perluasan akses keuangan, kita sedang membangun fondasi baru bagi sektor peternakan yang lebih modern, produktif, dan berdaya saing,” kata Adhy.
Peluncuran ini menandai keberhasilan integrasi sistem ERP dengan layanan PKA pada tiga koperasi sapi perah prioritas di Jawa Timur, yakni Koperasi Agro Niaga (KAN) Jabung, Koperasi Peternak Sapi Perah Setia Kawan (KPSP Setia Kawan), dan KPUD Tani Wilis. Ketiga koperasi tersebut menaungi lebih dari 10.000 anggota.
Sebagai tindak lanjut, OJK juga menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama para pemangku kepentingan guna mendorong perluasan implementasi program ke berbagai wilayah di Jawa Timur. Keberhasilan di tiga koperasi tersebut diharapkan dapat menjadi model yang direplikasi pada sektor dan daerah lain di Indonesia.***

