Memaknai Jalan Dakwah

oleh -
Ilustrasi. (Youtube: Ayo Ngaji)

Ada yang menganggap dakwah adalah ceramah padahal tidak sekadar itu. Dakwah juga teladan, tulisan, busana, teguran, lukisan, bahkan kesenian. Intinya, banyak hal yang bisa dijadikan alat untuk berdakwah.

Dakwah juga bukan hanya kewajiban pada ustad, kiai, atau ulama, tetapi kewajiban seluruh umat Islam. Apalagi kalau dikaitkan dengan amar maruf nahyi munkar, seperti disabdakan Nabi Muhammad dalam doanya, “Siapa saja yang melihat kemunkaran wajib untuk orang itu mengubah kemunkaran itu dengan kekuasaannya, apabila tidak punya kekuasaan oleh lisan atau tulisan, apabila masih tidak bisa oleh hatinya.”

Jadi, umat Islam wajib dakwah sekurang-kurangnya oleh hatinya, seperti memperlihatkan ketidaksetujuan, tidak ikut campur, atau mengadukan supaya kemunkaran bisa hilang. 

Walaupun dalam Islam ada dakwah yang harus dilakukan dengan cara khusus, ya seperti yang tertera dalam firman Allah yang meluruskan sikap Rasulullah SAW ketika beliau mengerahkan seluruh rakyat untuk berangkat ke medan perang.

Allah SWT berfirman, “Dan tidak wajar kaum Muslimin berangkat semua. Tapi alangkah baiknya apabila sebagian dari mereka menuntut ilmu tentang agama, terus mereka mengingatkan kaumnya apabila mereka pulang ke mereka supaya bisa mempersiapkan diri.”

Jadi, selain setiap orang punya kewajiban berperang, juga ada segolongan orang yang khusus memperdalam dakwah, segala-galanya untuk dakwah. Orang yang mengkhususkan diri terjun di bidang dakwah itu digolongkan kepada golongan asnaf sabilillah yang ada kaitannya dengan zakat.

Banyak sekali tantangan dakwah, di antaranya: pertama, pengaruh globalisasi dengan peralatan yang sangat canggih dan modern, sampai kita terdesak dalam menghadapi pengaruh itu yang kebanyakan datang dari orang-orang sekuler. 

Walaupun kita umat Islam, saat ini sedang mengalami kesempitan yang sangat besar dari pengaruh negatif global tadi. Tapi kita harus tetap memiliki keyakinan bahwa Islam itu agama Allah yang pasti benarnya.

Islam dalam satu waktu itu akan seperti air bah. Walaupun dibendung, tetap saja akan keluar dan terjadi banjir. Islam akan berdiri dengan kuat dan tidak memerlukan bantuan kita. Cuma kita oleh Allah diberi kesempatan untuk bekerja yang hasilnya atau pahalanya besar untuk kita juga.

Ketika ada dai ada yang dikritik, lalu dijawab dengan perkataan, “Saya hanya melaksanakan amar maruf nahyi munkar itu sekadar menjalankan kewajiban. Mudah-mudahan dengan aktivitas ini orang-orang yang tidak takwa menjadi takwa.”

Jadi, ketakwaan itu dari Allah. Kita hanya berusaha. Karena itu, dalam dakwah tidak ada istilah gagal atau putus asa, sebab kita hanya menjalankan perintah syari.

Kedua, banyaknya umat Islam yang memiliki pemikiran sekuler atau pemikiran seperti pemikiran orang Barat. Islam dinilai sama dengan pandangan agama orang Barat. Dengan adanya perilaku seperti itu, maka timbul berbagai macam kejadian, di antaranya ada golongan umat Islam yang berusaha ingin mendekonstruksi konsep Islam dengan konsep liberal, supaya sesuai dengan akal, humanisme, HAM, yang dibungkus oleh berbagai alasan yang seolah-olah Islam.

Tidak sedikit di antara kita juga yang tidak sabar dalam menghadapi berbagai persoalan tadi, sampai mengadakan berbagai aktivitas yang secara umum malah merugikan umat Islam, seperti membuat golongan sendiri, mengkafirkan atau menyesatkan orang lain hanya karena tidak sependapat dengan dirinya. Ada juga umat Islam yang berperilaku brutal, tidak mau menerima usulan yang datangnya dari luar golongannya. Itu juga sama menjadi persoalan dakwah.

Dari bahasan tadi, bisa disimpulkan bahwa saat ini sudah waktunya untuk diadakan cara untuk meningkatkan kualitas dakwah. Kualitas dakwah bisa meningkat bagus jika ada peningkatan kualitas dai.

Oleh karena itu, harus ada satu lembaga khusus, yang memiliki tugas untuk meningkatkan kualitas pada dai. Meningkatkan mungkin salah satunya dengan memberikan berbagai referensi pelatihan-pelatihan dan keterampilan-keterampilan lainnya.

Terang saja, tidak setiap dai punya kecintaan dan punya waktu untuk membaca buku, karena waktunya tersita oleh kepentingan keluarga dan yang lainnya. Karena dakwah itu bukan hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga yang pokok itu adalah membangun karakter (watak). Karena itu, para dai harus memiliki akhlaqul karimah, moral yang bagus, agar apa saja yang bisa sampai ke orang yang didakwahinya. Wallahu a’lam

DARLIS MUHAMMAD (REDAKTUR SENIOR MEDIA ALKHAIRAAT)