Mantan Bendahara Bazda Parimo Dituntut 5 Tahun Penjara

oleh
Ilustrasi

PALU- Jaksa Penuntut umum (JPU) menuntut pidana penjara lima tahun kepada Tamsul Soda mantan bendahara Badan Amil Zakat (Bazda) Parigi Moutong,terdakwa kasus dugaan korupsi Rp 375 juta di Bazda Parimo.

“Selain pidana penjara terdakwa juga membayar denda Rp 200 juta, subsidair 3 bulan kurungan,’’ tuntut Jaksa Farhan, pada sidang tersebut, di Pengadilan Negeri (PN) Palu, Rabu (7/6).

Farhan mengatakan, perbuatan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar dakwaan subsidair kedua Pasal 8 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 Jo Pasal 64 Ayat (1) KUHP.

Tahun 2011-2015 Bazda Parimo berhasil mengumpulkan zakat sebesar Rp 1,28 miliar berasal dari gaji PNS dipotong langsung pada BPKAD sebagai unit pengumpul zakat.

Dari jumlah dana zakat terkumpul, Rp 873 juta lebih telah disalurkan sesuai peruntukanya kepada delapan golongan berhak menerimanya. Sisanya Rp 375 juta yang belum tersalurkan digukan Tamsul Soda  tidak sesuai peruntukanya tanpa sepengetahuan ketua dan pengurus Bazda lainya.

Dana Bazda Rp 375 juta disalurkan terdakwa kepada pihak secara bertahap kepada Ariani N Tube Rp300 juta, Arifin Amat Rp 25 juta dan Erwin Nadir Rp 50 juta.

Penyaluran dana bazda tersebut dilakukan terdakwa, karena sebagian dana itu tidak disimpan di rekening resmi Bazda, tapi direkening pribadinya.

Padahal mekanisme pencairan anggaran di Bazda, penerima zakat harus mengajukan proposal dan melalui verivikasi dilakukan oleh pengurus Bazda. Akibatnya Bazda Parimo tidak dapat melaporkan pelaksanaan pengelolaan zakat kepada Baznas  Sulteng sejak tahun 2013. (IKRAM)

Donasi Bencana Sulbar