PALU, MAL – Perubahan pola konsumsi informasi masyarakat yang beralih ke platform sosial menjadi tantangan utama dalam transformasi media digital saat ini. Industri media dituntut beradaptasi dengan cepat tanpa mengorbankan prinsip dasar jurnalistik.

Hal ini mengemuka dalam kelas daring Journalism Fellowship On CSR Batch III 2026, Senin (22/06). Dahulu media massa berfokus membangun situs web, namun kini cara masyarakat mengakses berita telah berubah drastis.

“Berdasarkan riset Reuters Institute tahun 2026, sekitar 30 persen masyarakat di 22 negara menjadikan media sosial dan platform video sebagai sumber utama informasi,” kata Arifin Asydhad, Founder dan Komisaris Kumparan.

Kehadiran kecerdasan buatan pada mesin pencari juga memengaruhi lalu lintas kunjungan ke situs berita. Pengguna mendapatkan ringkasan informasi langsung tanpa perlu mengeklik sumber asli, sehingga audiens menjadikan TikTok dan YouTube sebagai ruang konsumsi utama.

Menghadapi arus transformasi media digital tersebut, jurnalis dituntut beradaptasi. Sejumlah media mulai mengembangkan konsep jurnalisme ragam saluran dengan mendistribusikan konten secara serentak ke berbagai platform berbeda.

“Jurnalis masa kini dituntut menjadi individu multitalenta yang mampu menulis, memproduksi video, audio, visual, hingga memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan tanpa meninggalkan fondasi profesinya,” kata Arifin Asydhad, Founder dan Komisaris Kumparan.

Kemudahan memproduksi konten di ekosistem digital kerap memicu penyebaran hoaks dan munculnya akun anonim. Oleh karena itu, jurnalis berperan krusial dalam tahap verifikasi demi memastikan transformasi media digital tetap menjunjung tinggi akurasi informasi.