Di TANGAN generasi muda, batik tidak lagi hanya hadir sebagai kain bermotif tradisional. Melalui Young Batik Entrepreneur Fashion Fellowship 2026, batik diterjemahkan menjadi bahasa desain yang dekat dengan kehidupan masa kini, tanpa meninggalkan akar budayanya.

Selama mengikuti program yang digagas Indonesian Fashion Chamber (IFC) bersama TBIG melalui Rumah Batik TBIG, para peserta tidak hanya belajar merancang busana.

Mereka juga ditempa untuk membangun identitas merek, menyusun konsep koleksi, memahami proses produksi, hingga strategi pemasaran sehingga mampu menjadi pelaku industri fesyen yang berdaya saing.

Program tersebut memang dirancang untuk melahirkan wirausahawan muda batik yang mampu menjawab kebutuhan pasar nasional maupun global. 

Keragaman gagasan menjadi kekuatan utama dalam presentasi akhir peserta. Meski sama-sama menjadikan batik sebagai medium berkarya, setiap desainer menghadirkan sudut pandang yang berbeda.

Alam menjadi inspirasi yang paling banyak diangkat. Diva Kalvadia, misalnya, menghadirkan “The Survivalist”, sebuah koleksi yang memadukan nuansa natural, sporty, petualangan, dan feminin. Koleksi tersebut menggambarkan perempuan modern yang tangguh sekaligus elegan.

Nuansa alam juga hadir melalui karya Ika Rizqi Damayanti bertajuk “Harmoni Alam: Simfoni Laut, Taman, dan Pegunungan”. Laut, taman, dan pegunungan diterjemahkan menjadi busana kontemporer yang menghadirkan kesegaran alam dalam kehidupan urban.

Masih dengan tema serupa, Ida Roheni mengangkat “Earthy Heritage”, sebuah penghormatan terhadap hubungan manusia dengan bumi melalui warna-warna tanah dan nuansa alami.

Sementara Fitri Yuniar menghadirkan “Ribbon”, koleksi bergaya feminin yang memadukan kelembutan hutan, jalur setapak, dan warna-warna alam ke dalam busana kasual.
Eksplorasi alam tidak berhenti di situ.

Lila Dalalah menghadirkan “Fox in Flow”, terinspirasi dari kelincahan rubah yang melintasi hutan pada malam hari. Palet warna terakota, cokelat tanah, putih gading, dan biru indigo menjadi simbol ketenangan sekaligus kebebasan dalam menjalani kehidupan.

Semangat petualangan juga terlihat dalam karya Muhammad Rizqi Wijaya melalui “Wild Amazon: The Untamed Canopy”. Hutan Amazon menjadi sumber inspirasi yang dipadukan dengan batik dan denim sehingga menghasilkan karakter busana yang kuat, modern, dan fungsional.

Sementara itu, Indah Ayu Stia Ningrum memilih sudut pandang yang berbeda. Melalui “Cinder Vanguard: The Autumn/Winter Collection”, ia mengadaptasi ketangguhan petugas pemadam kebakaran hutan ke dalam busana siap pakai bergaya maskulin yang fungsional.

Selain alam, kekayaan budaya maritim Indonesia juga menjadi sumber inspirasi. M. Hafizhuddin Amin memperkenalkan “Marinetnic”, yang menggabungkan batik dengan kisah pelaut Nusantara, ombak, kapal layar, dan lautan dalam siluet modern yang elegan.

Inspirasi lain datang dari lanskap kota. M. Furqoon menghadirkan koleksi yang merekam dinamika kehidupan urban, mulai dari lalu lintas saat senja, siluet gedung pencakar langit, hingga suasana kedai kopi sebagai ruang pertemuan masyarakat modern.

Nuansa perkotaan juga dipadukan dengan warna alam oleh Muchammad Iqbal Musyafak. Koleksinya memanfaatkan palet earth tone dan sunset tone untuk menghadirkan gaya sporty kasual yang nyaman sekaligus berkarakter.

Di sisi lain, Dzaky Hammam Arofi memilih atmosfer musim panas di taman Mediterania sebagai inspirasi. Melalui “Riviera Love Garden”, ia menghadirkan koleksi bernuansa romantis dengan warna-warna lembut, tekstur kaya, dan motif floral yang memberi kesan hangat sekaligus elegan.

Perpaduan budaya dan gaya hidup modern juga menjadi benang merah dalam beberapa karya. M. Adnan Maulana memadukan batik dengan denim sebagai simbol pertemuan warisan budaya Indonesia dan karakter generasi muda. Batik tidak lagi diposisikan sebagai busana formal, melainkan menjadi bagian dari gaya berpakaian sehari-hari.

Sementara itu, Sabrina Wafiq Briliana menawarkan pendekatan yang lebih filosofis melalui “SANTUN: The Quiet Authority”. Koleksi tersebut mengangkat gagasan bahwa kewibawaan tidak selalu diwujudkan melalui penampilan yang mencolok, melainkan melalui kesederhanaan, ketenangan, dan pengendalian diri.

Beragam tema tersebut menunjukkan bahwa batik memiliki ruang yang sangat luas untuk terus berkembang. Batik dapat berdialog dengan alam, budaya, sejarah maritim, kehidupan kota, hingga nilai-nilai personal tanpa kehilangan identitasnya sebagai warisan budaya Indonesia.

Seperti disampaikan Senior Advisor Indonesian Fashion Chamber, Dina Midiani, tujuan program ini bukan sekadar menghasilkan desainer baru, melainkan melahirkan trend setter yang memiliki karakter dan identitas merek yang kuat.

Setelah program berakhir, para peserta tetap ditantang untuk mengembangkan koleksi baru sebagai bagian dari proses pembelajaran yang berkelanjutan. 

Melalui keberanian mengeksplorasi tema-tema yang beragam tersebut, Young Batik Entrepreneur Fashion Fellowship 2026 memperlihatkan bahwa masa depan batik tidak hanya bertumpu pada pelestarian tradisi, tetapi juga pada kemampuan generasi muda menerjemahkan nilai budaya menjadi karya fesyen yang relevan dengan zaman.