Hindari Hasad, Belajar dari Kisah Qabil dan Habil

oleh -
Ilustrasi (Youtube Hidayah Ilahi Official)

Melihat manusia memakan daging mentah tentu sangat menjijikkan. Bagaimana bila melihat manusia memakan daging manusia? Lebih menjijikkan sekali tentunya. Lebih lagi jika daging bangkai sendiri, ah sangat menyeramkan. Ini istilah untuk muslim yang suka menggosip.

Selain suka makan daging bangkai, muslim yang berakhlak buruk ada yang suka memakan kayu bakar. Memakan kayu bakar?

Penyakit berat yang mengancam kehidupan kita adalah hasad. Hasad itu penyakit hati, tidak suka dengan kebaikan yang ada pada muslim yang lain, bahkan tipikal muslim ini ingin agar kebaikan itu menguap dari orang tersebut.

Dengki (hasad), kata Imam Al-Ghazali, adalah membenci kenikmatan yang diberikan Allah kepada orang lain dan ingin agar orang tersebut kehilangan kenikmatan itu.

Dengki dapat merayapi hati orang yang merasa kalah wibawa, kalah popularitas, kalah pengaruh, atau kalah pengikut. Yang didengki tentulah pihak yang dianggapnya lebih dalam hal wibawa, polularitas, pengaruh, dan jumlah pengikut.

Tidak mungkin seseorang merasa iri kepada orang yang dianggapnya lebih “kecil” atau lebih lemah. Sebuah pepatah Arab mengatakan, “Kullu dzi ni’matin mahsuudun.” (Setiap yang mendapat kenikmatan pasti didengki).

Pada diri setiap manusia tidak ada yang sepi dari sifat hasad. Lalu? Hanya saja ada yang dapat mengelolanya dengan baik dengan cara menahannya, tapi ada yang tidak dapat membendungnya. Mudah jebol.

Oleh sebab itu, kita sebagai orang yang percaya dengan Al-Qur’an diperintahkan untuk terus berlindung dari penyakit hasad dan dari orang hasad. Kita berlindung dari bisikan busuk.

Apabila penyakit hasad sudah bersarang di hati, dari sana lahir berbagai keburukan dan perbuatan nista. Nista senistanya.

Siapa yang akan dirugikan dalam kasus ini? Orang yang paling rugi atas sifat hasad adalah orang yang hasad itu sendiri. Baik terhadap dirinya, maupun agama padanya. Sejarah telah mencatat tentang pembangkangan dan permusuhan sumbernya adalah satu; hasad.

Hilangnya pahala itu hanyalah salah satu bentuk kerugian pendengki. Masih banyak kebaikan-kebaikan atau peluang-peluang kebaikan yang akan hilang dari pendengki, antara lain:

Orang yang banyak melakukan provokasi dan hanya bisa menjelek-jelekkan pihak lain juga akan terlihat di mata orang banyak sebagai orang yang tidak punya program dalam hidupnya.

Dia tampil sebagai orang yang tidak dapat menampilkan sesuatu yang positif untuk “dijual”. Maka jalan pintasnya adalah mengorek-ngorek apa yang ia anggap sebagai kesalahan. Bahkan sesuatu yang baik di mata pendengki bisa disulap menjadi keburukan. Nah, mana ada orang yang sehat akalnya suka cara-cara seperti itu?

Dari Adam AS, kita bisa melihat kasus anaknya. Qabil membunuh Habil karena hasad terhadap saudaranya yang mendapat istri yang mempunyai banyak kelebihan.  Lebih cantik darinya dan kurbannya diterima sementara ia tidak.

Dari masa Nabi Yusuf. Kejinya perbuatan saudara-saudara Nabi Yusuf AS kepada adiknya yang masih kecil. Tak lain karena hasad mereka terhadap Nabi Yusuf. Apalagi Yusuf mempunyai banyak kelebihan, paras penuh pesona salah satunya.

Dari masa Rasulullah SAW. Kaum Yahudi yang hasad terhadap Rasulullah SAW dan bangsa Arab ang mendapatkan kemuliaan akhir kenabian melahirkan sekian banyak perbuatan nista.

Bapak sejarah liberalis dunia, Abdullah bin Ubay bin Salul tak ketinggalan. Ia yang hasad dengan kemuliaan Rasulullah SAW, menjadikannya sebagai gembong munafik dengan segala perbuatan liciknya.

Hasad akan “looping”. Berulang terus sedemikian rupa. Tak akan pernah sepi dari kehidupan manusia. Benarlah apa yang dikatakan Rasulullah SAW.

“Hati-hatilah kalian dari hasad, karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar atau semak belukar (rumput kering)“.{Imam Abu Dawud). Wallahu a’lam

DARLIS MUHAMMAD (REDAKTUR SENIOR MEDIA ALKHAIRAAT)