PALU – Hasil kajian spesies ekosistem mangrove, perhutanan sosial, dan taman hutan raya (Tahura) Sulawesi Tengah (Sulteng) menjadi pembahasan utama dalam seminar yang diselenggarakan Relawan untuk Orang dan Alam (ROA) bersama Fakultas Kehutanan Universitas Tadulako (Untad), Rabu (22/04).

Seminar yang berlangsung di Gedung Serbaguna Fakultas Kehutanan, Untad ini sebagai upaya penguatan pengelolaan ekosistem berbasis ilmiah.

Kegiatan ini menjadi ruang berbagi pengetahuan antara praktisi, akademisi, serta pemangku kepentingan dalam mendorong pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan, inklusif, dan berbasis data.

Dekan Fakultas Kehutanan, Prof Yusran, menyampaikan bahwa seminar ini menjadi langkah strategis dalam menghasilkan kajian yang komprehensif.

Ia menegaskan bahwa hasil kajian yang dipaparkan tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga aplikatif untuk mendukung perumusan kebijakan.

“ROA bersama Fahutan telah bekerja sama dalam menyusun kajian spesies ini. Materi yang dipaparkan hari ini sangat penting karena mencakup analisis kondisi lapangan sekaligus rekomendasi teknis yang dapat menjadi dasar perumusan kebijakan rehabilitasi yang terukur dan berbasis ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Lanjut dia, selain sebagai forum diseminasi hasil kajian, kegiatan ini juga menjadi wadah untuk memperkuat jejaring kolaborasi antar pihak, termasuk pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, akademisi, dan komunitas lokal.

“Kolaborasi ini dinilai krusial untuk memastikan bahwa upaya rehabilitasi dan konservasi dapat berjalan secara terintegrasi dan berkelanjutan,” katanya.

Dalam seminar tersebut, Dr Bau Toknok menyampaikan materi bertajuk Kajian Spesies Ekosistem Mangrove dan Lahan Rehabilitasi Perhutanan Sosial di Desa Oncone Raya.

Ia memaparkan hasil kajian di kawasan Oncone Raya yang menunjukkan kondisi ekosistem mangrove dengan luas sekitar 31,44 hektar.

Dari luasan tersebut, hanya sekitar 18,7% yang masih berupa vegetasi mangrove, sementara 50,3% telah beralih menjadi tambak dan 31% merupakan areal terbuka.

Ia menekankan bahwa kondisi ini menunjukkan tekanan yang cukup besar terhadap ekosistem mangrove, sehingga diperlukan strategi rehabilitasi yang tepat dan berbasis data lapangan.

Dalam proses pengumpulan data, pendekatan yang digunakan tidak hanya mengukur metrik biofisik, tetapi juga melibatkan masyarakat setempat melalui forum diskusi kelompok (FGD), penggunaan enumerator lokal, serta penggalian pengetahuan tradisional yang telah lama berkembang di masyarakat pesisir.

Selain itu, kata dia, berbagai spesies mangrove beserta morfologinya sebagai dasar penting dalam menentukan jenis yang sesuai untuk rehabilitasi.

Pemahaman terhadap karakteristik spesies dinilai krusial agar upaya pemulihan ekosistem dapat berjalan efektif dan berkelanjutan.

“Sabuk pesisir yang sehat, masyarakat yang kuat,” tegasnya.

Sementara itu, materi kedua mengenai Kajian Spesies Tahura Sulawesi Tengah dengan Pendekatan Etnobiologi dan Plot disampaikan oleh Ir Erika yang mewakili Dr. Ir. Sudirman Dg. Massiri.

Dalam paparannya, selain menekankan pendekatan etnobiologi dan metode plot, ia juga menjelaskan konteks pengelolaan kawasan Tahura Sulawesi Tengah sebagai lanskap konservasi yang strategis.

Ia menyampaikan kondisi Tahura Sulteng dengan luas kawasan mencapai sekitar 5.195 hektar, yang mencakup wilayah Kota Palu dan Kabupaten Sigi.

“Kawasan Tahura Sulawesi Tengah adalah aset strategis yang tidak tergantikan, sehingga pengelolaannya harus berbasis data ilmiah sekaligus memperhatikan pengetahuan lokal masyarakat,” ungkapnya.

Dalam pengelolaannya, kawasan Tahura dibagi ke dalam beberapa blok atau zonasi, yaitu blok perlindungan, blok koleksi dan khusus, blok pemanfaatan, blok rehabilitasi, serta blok tradisional.

Pembagian zonasi ini menjadi dasar penting dalam menentukan arah pengelolaan kawasan, baik untuk perlindungan keanekaragaman hayati, pemanfaatan terbatas, hingga rehabilitasi ekosistem yang terdegradasi.

“Pohon Cendana merupakan salah satu spesies tanaman penciri yang ada di Tahura Sulteng,” katanya.

Seminar ini didukung oleh Yayasan KEHATI melalui program SOLUSI Pengelolaan Lanskap darat dan Laut Terpadu di Indonesia, sebuat inisiatif hasil kerja sama antara BAPPENAS dan Pemerintah Jerman (BMUV). ***