MAL – Semikonduktor mungkin berukuran sangat kecil dan tersembunyi di dalam perangkat elektronik, tetapi perannya sangat besar dalam menentukan arah ekonomi, teknologi, hingga keamanan global. Dari ponsel pintar, komputer, mobil listrik, kecerdasan buatan (AI), satelit, hingga sistem pertahanan modern, semuanya bergantung pada chip semikonduktor.
Karena itu, banyak negara berlomba menguasai industri semikonduktor. Persaingan tidak hanya terjadi dalam produksi chip, tetapi juga mencakup desain, peralatan manufaktur, bahan baku, riset, talenta, hingga rantai pasok global yang menopang industri bernilai triliunan dolar tersebut.
IBM menjelaskan bahwa semikonduktor adalah material yang dapat bertindak sebagai konduktor maupun isolator listrik. Sifat ini membuatnya menjadi komponen utama komputer, perangkat elektronik, sirkuit terpadu, dan berbagai teknologi digital modern.
Bagaimana Semikonduktor Bekerja?
Semikonduktor merupakan material yang kemampuan menghantarkan listriknya dapat dikendalikan sesuai kebutuhan. Material yang paling umum digunakan adalah silikon.
Melalui proses yang dikenal sebagai doping, sifat listrik silikon dapat dimodifikasi sehingga mampu mengatur aliran arus listrik secara presisi. Dari proses inilah lahir transistor, komponen dasar yang menjadi fondasi chip modern.
Dalam satu chip, jutaan hingga miliaran transistor dapat digabungkan menjadi sirkuit terpadu atau integrated circuit yang menjalankan berbagai fungsi komputasi dan pengolahan data.
Produksi chip dilakukan melalui proses yang sangat kompleks, mulai dari pembuatan wafer silikon, fotolitografi, deposisi, etsa, doping, pengujian, hingga pengemasan sebelum akhirnya digunakan pada produk elektronik.
Mengapa Semikonduktor Menjadi Rebutan Banyak Negara?
Nilai strategis semikonduktor jauh melampaui fungsi komersialnya.
Pertama, chip merupakan fondasi ekonomi digital. Hampir seluruh perangkat elektronik modern membutuhkan semikonduktor untuk beroperasi.
Kedua, chip canggih menjadi komponen utama pengembangan AI. Pelatihan model kecerdasan buatan membutuhkan prosesor berperforma tinggi, memori besar, dan infrastruktur komputasi yang bergantung pada teknologi semikonduktor.
Ketiga, semikonduktor memiliki hubungan erat dengan sektor pertahanan. Sistem radar, satelit, komunikasi militer, drone, navigasi, hingga berbagai sistem persenjataan modern menggunakan chip sebagai komponen utama.
Keempat, rantai pasok industri ini sangat terkonsentrasi dan melibatkan banyak negara. Sebuah chip dapat dirancang di Amerika Serikat, diproduksi di Taiwan, menggunakan mesin dari Belanda, bahan kimia dari Jepang, memori dari Korea Selatan, lalu dirakit di negara lain.
Ketergantungan lintas negara tersebut menjadikan semikonduktor sebagai aset strategis yang sangat sensitif terhadap konflik geopolitik, gangguan logistik, bencana alam, maupun kebijakan perdagangan.
Taiwan Menjadi Titik Kritis Industri Chip Global
Taiwan menempati posisi sangat penting dalam rantai pasok semikonduktor dunia.
IBM menyebut, “Saat ini, 60% chip semikonduktor dunia dan lebih dari 90% chip canggih dibuat di pulau Taiwan yang relatif kecil.”
Dominasi tersebut membuat Taiwan menjadi pusat manufaktur chip paling strategis di dunia. IBM juga menyatakan bahwa kondisi itu menjadikan Taiwan sebagai titik fokus geopolitik dalam strategi kebijakan negara-negara besar, terutama Amerika Serikat dan China.
Meski demikian, dominasi Taiwan tidak berarti seluruh jenis chip diproduksi di sana. Banyak chip memori, chip otomotif, chip daya, dan chip industri masih diproduksi di berbagai negara lain.
Persaingan AS-China Berlangsung di Seluruh Rantai Pasok
Persaingan semikonduktor saat ini tidak hanya soal perdagangan chip.
Amerika Serikat berupaya mempertahankan keunggulan teknologi melalui berbagai kebijakan, termasuk pengendalian ekspor chip berperforma tinggi dan peralatan manufaktur tertentu yang dinilai strategis.
Salah satu langkah penting adalah pengesahan CHIPS and Science Act pada 9 Agustus 2022. Regulasi tersebut menyediakan sekitar US$52,7 miliar untuk mendukung manufaktur, riset, pengembangan tenaga kerja, dan penguatan ekosistem semikonduktor domestik. Dari jumlah tersebut, sekitar US$39 miliar dialokasikan sebagai insentif manufaktur chip.
Pada 28–29 Juli 2026, Departemen Perdagangan Amerika Serikat juga mengumumkan penandatanganan tujuh letter of intent dengan nilai insentif sekitar US$874 juta untuk perusahaan yang mengembangkan teknologi semikonduktor bagi AI dan sistem komputasi canggih.
Di sisi lain, China terus memperkuat kemampuan desain, manufaktur, material, dan peralatan semikonduktor domestik guna mengurangi ketergantungan terhadap teknologi asing.
Uni Eropa, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan India juga mengembangkan berbagai kebijakan industri untuk memperkuat posisi masing-masing dalam rantai pasok global.
Industri Bernilai Triliunan Dolar yang Terus Tumbuh
Permintaan chip terus meningkat seiring berkembangnya AI, pusat data, kendaraan listrik, jaringan telekomunikasi, dan berbagai teknologi digital.
Penjualan industri semikonduktor global tercatat sekitar US$526 miliar pada 2023. Pada 2025, nilainya meningkat menjadi sekitar US$791,7 miliar.
Deloitte memperkirakan penjualan industri semikonduktor mencapai sekitar US$975 miliar pada 2026 atau setara sekitar Rp15.795 triliun dengan asumsi kurs Rp16.200 per dolar AS.
Sementara itu, World Semiconductor Trade Statistics (WSTS) memproyeksikan nilai pasar yang lebih tinggi, yakni sekitar US$1,51 triliun atau sekitar Rp24.462 triliun.
Perbedaan proyeksi tersebut menunjukkan bahwa ukuran pasar semikonduktor dapat berbeda tergantung definisi, cakupan produk, metode penghitungan, dan asumsi pertumbuhan yang digunakan masing-masing lembaga.
Mengapa Industri Chip Sulit Dikejar?
Membangun industri semikonduktor bukan hanya soal mendirikan pabrik.
Pabrik chip modern membutuhkan investasi sangat besar, ruang bersih berstandar tinggi, pasokan listrik stabil, air ultrapure, bahan kimia khusus, mesin litografi berteknologi tinggi, tenaga ahli, serta proses produksi yang sangat presisi.
Selain itu, kemampuan teknologinya tidak mudah ditiru. Penguasaan desain chip, perangkat lunak desain elektronik, proses manufaktur, pengendalian kualitas, hingga pengalaman produksi memerlukan investasi jangka panjang dan akumulasi pengetahuan selama bertahun-tahun.
Karena itu, banyak negara memilih fokus pada segmen tertentu dalam rantai pasok, seperti desain, pengujian, pengemasan, material, atau peralatan produksi.
Peluang Indonesia di Tengah Perebutan Semikonduktor
Indonesia belum menjadi pusat produksi chip canggih seperti Taiwan, Korea Selatan, Amerika Serikat, atau China.
Namun, Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan ekosistem semikonduktor melalui beberapa jalur, antara lain:
-
Pengembangan talenta dan pendidikan teknik.
-
Desain chip dan perangkat lunak.
-
Industri elektronik dan kendaraan listrik.
-
Pengujian serta pengemasan chip.
-
Pengembangan pusat data.
-
Pemanfaatan bahan mineral strategis untuk industri hilir.
Pada Mei 2026, pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian membuka program pelatihan semikonduktor bagi talenta Indonesia melalui kolaborasi teknologi ARM sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem industri nasional.
Meski demikian, tantangan yang dihadapi masih besar, mulai dari keterbatasan tenaga ahli, kebutuhan infrastruktur pendukung, investasi yang sangat tinggi, hingga persaingan dengan negara yang telah lebih dahulu membangun industri semikonduktor selama puluhan tahun.
Pada akhirnya, semikonduktor bukan sekadar komponen elektronik. Chip telah menjadi fondasi teknologi modern sekaligus salah satu arena utama persaingan ekonomi, industri, dan keamanan global pada abad ke-21.
