Habib Saggaf dan Alkhairaat

oleh -354 Kali Dilihat
Almarhum Habib Saggaf bin Muhammad Aljufri (kanan) semasa muda bersama Sang Kakek, almarhum Habib Idrus bin Salim Aljufri. (FOTO: IST)

OLEH: Syarifah Mufidah binti Saggaf Aljufri

MEMBAHAS Alkhairaat pasti kita akan berbicara siapa pendiri dan penerusnya. Itu menjadi bagian penting, karena pendiri dan penerus menentukan sejauh mana sebuah lembaga berkembang dan berkiprah.

Adalah Habib Sayyid Saggaf bin Muhamad bin Idrus Aljufri. Orang mengenal beliau sebagai sosok ulama sederhana, kharismatik, teduh, tawadhu. Itulah kesan yg terpancar dari seorang Habib Saggaf bin Muhamad Aljufri.

Dilahirkan sebagai anak pertama dari seorang ibu bernama Syarifah Raguan bint Thalib Aljufri dan ayahnya Habib Muhammad bin Idrus Aljufri, beliau dilahirkn di Pekalongan, Selasa 17 Agustus 1937 Masehi. Bertepatan dengan, 9 Jumadil Akhir 1868 Hijriyah.

Semasa kecil, tanda-tanda kecintaan beliau pada ilmu dan dakwah, serta aktifitas keagamaan sudah sangat nampak. Seperti yang dikisahkan adik beliau, Syarifah Sakinah bint Muhammad Aljufri.

Diceritakannya, sejak kecil Habib Saggaf sangat aktif menghadiri kegiatan keagamaan. Bahkan beliau banyak menghabiskan waktunya di masjid. Ya, ilmu menjadi salah satu hal yang beliau sangat sukai.

Salah satu kisah yang beliau sampaikan pada saya, adalah ketika saat Habib Idrus, kakeknya, berkunjung ke Pekalongan. Beliau mendekat saat sang kakek tengah siap-siap berkemas untuk kembali ke palu, saat itu usia beliau masih 12 tahun, kata beliau masih pakai celana pendek, Habib Saggaf mengutarakan niatnya untuk ikut ke palu agar bisa belajar langsung dengan sang kakek.

Keinginan tersebut disambut antusias oleh sang kakek habib idrus maka habib saggaf bersma sang kakek ikut ke palu jauh dari sang ibu dan keluarganya di pekalongan. Tekad untuk belajar yang kuat sejak beliau kecil . Tekad dan beliau sadari konsekwensinya bahwa harus berpisah dan jauh dari dekapan dan kasih sayang seorang ibu. Jauh dari kata manja, Itulah habib saggaf yang pantang menyerah, pantang mengeluh dan itu sangat identik dengan karakter beliau.

Tiba di Palu yang saat itu masih sangat minim fasilitas, belum ada gasilitas listrik, beliau pun tinggal dan berbaur bersama anak anak pesantren asuhan Habib Idrus tidak ada perlakuan dan tempat khusus untuk Habib Saggaf yang merupakan cucu dari pemilik lembaga ini. Habib Saggaf mengikuti proses belajar di Madrasah Alkhairaat, seperti murid lainnya. Hanya saja tekad dan kecintaannya pada ilmu membuatnya lebih menonjol dari teman-teman seangkatannya.

Seiring berjalannya waktu, beliau sampai pada tingkat muallimin. Karena termasuk murid yang menonjol dalam menguasai pelajaran, beliau juga ditugaskan mengajar sore hari. Beliau mengisi waktunya dengan aktifitas membaca (qiraah kutub) langsung pada sang kakek tercinta. Sang kakeklah yang mendidik, mengajar, membina dan menempah Habib Saggaf secara langsung.

Nampaknya Habib Idrus sudah melihat tanda-tanda istimewa pada cucunya, sehingga beliau memang ingin mempersiapkan Habib Saggaf sebagai penggantinya kelak. Sampai akhirnya sang cucu melanjutkan pendidikannya ke Universitas Al Azhar, Kairo. Salah satu universitas kebanggaan dunia. Saat tes beliau mendapatkan nilai tertinggi kerena penguasaan beliau yang sangat baik terhadap Bahasa Arab.

Menarik, dan terkandung hikmah yang besar beliau memilih Universitas Al Azhar sebagai tempat menimba ilmu.

Seperti kita ketahui bahwa Habib Idrus berasal dari Hadhramaut Yaman yang dikenal banyak ulama dan juga menjadi tujuan belajar. Tapi Habib Saggaf bukan menuju Yaman, justru memilih Mesir untuk melanjutkan pendidikannya.

Al Azhar bisa dikatakan punya tradisi keilmuan yang lebih cenderung terbuka dan moderat. Di sana, dikenal dengan tradisi keilmuannya yang terbuka, dikenal adanya muqaranah mazahib, yang membuat mahasiswa bisa lebih cenderung mempelajari berbagai pendapat dalam Iukum Islam.

Latar belakang pendidikan beliau juga pasti mewarnai corak berpikir Habib Saggaf yang terbuka dan open minded dalam bersikap. Dan ini adalah nilai plus ketika beliau dipercayakan oleh Habib Idrus mengelola hingga menjadi pucuk pimpinan pada lembaga besar ini.

Karakter, juga didikan langsung Habib Idrus dalam menempah mental Habib Saggaf, ditambah latar belakang pendidikan tinggi yang dilalui di Al Azhar, membentuk pribadi beliau yang kita kenal selama ini dalam mengelola lembaga pendidikan Alkhairaat sebagai pimpinan tertinggi.

Latar belakang pendidikan menentukan cara berfikir dan bersikap beliau. Itulah yang saya saksikan bagaimana beliau bersikap, bagaimana pola pikir dalam mengelola lembaga besar ini. Lembaga ini berkembang pesat di tangan dingin beliau. Dari 750 cabang yang Habib Idrus titipkan menjadi 1700 cabang. Lompatan yang begitu jauh.

Kemajuan yang luar biasa. Moderat, toleransi, mau mendengar, tidak kaku dan saklek dalam berpikir, bermasyarakat dan bersikap, merangkul semua, adalah karakter beliau.

Ya, kata beliau, musuh satu terlalu banyak dan teman seribu terlalu sedikit.

*Penulis adalah Ketua Umum Pengurus Pusat Banaatul Khairaat