PALU- Jurnalis Wanita Indonesia (JUWITA) menggelar nonton bareng (nobar) dan diskusi film Pesta Babi di Balai RW 05, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, Sabtu (2/5) malam.

Kegiatan tersebut diikuti lebih dari 50 orang terdiri atas jurnalis, mahasiswa dari berbagai universitas, serta masyarakat umum. Nobar tersebut tidak hanya menjadi ruang apresiasi film, tetapi juga wadah refleksi terhadap berbagai persoalan sosial diangkat dalam film, khususnya terkait Papua.

Diskusi menyertai pemutaran film dipandu oleh Moderator Yardin Hasan (Founder Roemah Kata), dengan menghadirkan tiga pemantik, yakni Lian Gogali dari Mosintuwu Institute, Ansar Saleh Akademisi Universitas Tadulako (Untad) Palu, serta Cristian Taibo, warga Desa Watutau yang merupakan korban kebijakan Bank Tanah.

Dalam diskusi, para narasumber menyoroti bahwa realitas terjadi di Papua sesungguhnya memiliki kemiripan dengan kondisi di Sulawesi Tengah (Sulteng). Salah satu isu yang mengemuka adalah pengambilalihan lahan masyarakat adat oleh negara maupun korporasi, termasuk dalam skema Bank Tanah.

“Apa yang terjadi di Papua bukan sesuatu yang jauh dari kita. Di Sulawesi Tengah, praktik-praktik perampasan ruang hidup masyarakat adat juga terjadi, termasuk di wilayah-wilayah kini menjadi sasaran investasi,” kata Lian Gogali, salah satu pemantik dalam diskusi.

Pembahasan juga mengerucut pada dampak masuknya perusahaan di sejumlah wilayah, khususnya di Kabupaten Poso. Kehadiran investasi dinilai membawa konsekuensi terhadap ruang hidup masyarakat, mulai dari konflik lahan hingga perubahan sosial di tingkat lokal.

Cristian Taibo, sebagai warga terdampak, menceritakan langsung pengalaman masyarakat Desa Watutau harus berhadapan dengan kebijakan negara terkait penguasaan lahan. Ia menegaskan bahwa perjuangan masyarakat bukan semata soal tanah, tetapi juga mempertahankan identitas dan keberlanjutan hidup.

Aktivis Perempuan dan Perdamaian, pendiri Mosintuwu Institute Lian Gogali mengatakan film Pesta Babi menggambarkan tentang proses genosida kebudayaan terjadi di Papua maupun di daerah Sulteng.

“Yang menarik adalah Dandy dan kawan-kawan mau mempertanyakan sikap kita yang ada di Sulteng,” kata Lian.

Sementara, Ketua JUWITA Kartini Nainggolan mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya jurnalis perempuan untuk menghadirkan ruang diskusi kritis di tengah masyarakat.

“Kami melihat film ini sebagai pintu masuk untuk membicarakan isu-isu lebih luas, terutama soal keadilan bagi masyarakat adat. Apa  terjadi di Papua memiliki irisan kuat dengan kondisi di daerah kita, termasuk di Sulawesi Tengah,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa jurnalis memiliki peran penting dalam mengangkat suara-suara masyarakat kerap terpinggirkan, sekaligus mendorong kesadaran publik terhadap berbagai persoalan struktural  terjadi.

Di akhir kegiatan, JUWITA juga menggalang bantuan melalui tiket sukarela bagi pengungsi Papua. Dari hasil pengumpulan tersebut, dana  terkumpul mencapai Rp550.000.