PALU – Pelaksana tugas (Plt.) Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Kota Palu, Rahmad Mustafa, menerima delegasi dari Myanmar, di ruang rapat Bantaya Kantor Wali Kota Palu, Rabu (25/02).
Kunjungan tersebut difasilitasi oleh World Bank sebagai upaya memperkuat kerja sama dan pertukaran pengalaman antarnegara, khususnya dalam penanganan pascabencana.
Rahmad Mustafa mengatakan, saat ini Kota Palu terus bergerak menuju kota global yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan setelah mengalami bencana besar gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi.
Sejak peristiwa tersebut, Kota Palu perlahan bangkit melalui berbagai program rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana (R3P).
Rahmad berharap, melalui pertemuan ini, Pemerintah Kota Palu dan delegasi Myanmar dapat saling berbagi praktik baik, mulai dari strategi pembangunan hunian tetap (huntap), pemulihan infrastruktur vital, hingga penguatan ketahanan masyarakat melalui kolaborasi lintas pihak.
“Semoga kedatangan delegasi dari Myanmar dapat dimanfaatkan untuk saling belajar, memahami tantangan spesifik di masing-masing wilayah, sehingga pengalaman tersebut menjadi pembelajaran berharga dalam membangun kawasan yang lebih tangguh terhadap bencana,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Rahmad juga menjelaskan bahwa Kota Palu saat ini terus menguatkan narasi ketangguhan (resilience).
Kota Palu, tambah Rahmad, tidak lagi diposisikan sebagai korban bencana, melainkan sedang bertransformasi menjadi “laboratorium bencana” yang menjadi tempat pembelajaran terkait penanganan bencana dan pembangunan kembali yang lebih aman.
“Beberapa upaya yang telah dilakukan antara lain pembangunan hunian tetap yang tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga dirancang aman secara geologis.” katanya.
Selain itu, lanjut dia, pembangunan infrastruktur tahan gempa seperti jembatan, rumah sakit, dan sekolah kini menggunakan standar keamanan yang lebih tinggi.
Rahmad menilai, Myanmar dan Indonesia, khususnya Kota Palu, memiliki kemiripan risiko bencana geologis.
Karena itu, ia berharap pertemuan ini menjadi ruang diskusi dua arah untuk menemukan solusi praktis dalam penanganan pascabencana di kawasan Asia Tenggara. ***

