PALU, MAL – Rektor Universitas Tadulako (Untad), Prof. Amar, menekankan pentingnya penguatan literasi ekonomi dan kemampuan memanfaatkan teknologi digital bagi mahasiswa dalam menghadapi perubahan ekonomi yang semakin cepat.
Pesan tersebut disampaikan saat kegiatan Bank Indonesia (BI) Mengajar yang digelar di Gedung Smart Class H. Muhidin M. Said Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Untad, Selasa (11/8).
Kegiatan yang menghadirkan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S. Budiman, tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memperoleh wawasan mengenai dinamika perekonomian nasional, kebijakan ekonomi, serta tantangan yang akan dihadapi Indonesia di masa mendatang.
Rektor Untad mengatakan perkembangan teknologi telah mengubah berbagai aktivitas ekonomi masyarakat, mulai dari transaksi, perdagangan, dunia kerja hingga akses terhadap layanan keuangan.
Karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka harus mampu melihat perkembangan digital sebagai peluang untuk menciptakan inovasi dan membangun kewirausahaan baru.
“Literasi digital harus berjalan beriringan dengan literasi keuangan dan literasi ekonomi,” kata Amar.
Menurutnya, kemampuan tersebut menjadi semakin penting karena mahasiswa akan menghadapi lingkungan ekonomi yang dipengaruhi oleh berbagai perubahan global, termasuk perkembangan teknologi, perdagangan internasional, perubahan geopolitik, perubahan iklim dan transformasi sistem keuangan.
Amar menegaskan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis tidak cukup hanya menguasai teori-teori ekonomi.
Mahasiswa perlu memiliki kemampuan berpikir kritis, analitis, adaptif dan berbasis data agar mampu membaca perubahan sekaligus menawarkan solusi terhadap persoalan ekonomi.
“Jangan hanya menjadi mahasiswa yang mampu menjawab soal ekonomi, tetapi jadilah generasi yang mampu menjawab persoalan ekonomi bangsa,” tegasnya.
Ia juga mendorong mahasiswa memiliki global outlook dalam melihat perkembangan ekonomi dunia, namun tetap memiliki kepedulian terhadap persoalan ekonomi masyarakat di daerah.
“Saya kira mahasiswa harus memiliki global outlook untuk melihat perkembangan dunia, tetapi tetap memiliki kepedulian dan keberpihakan terhadap persoalan-persoalan ekonomi dan masyarakat daerah,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Rektor juga menyoroti besarnya potensi ekonomi Sulawesi Tengah yang menurutnya perlu dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi bernilai tambah.
Sumber daya alam dan potensi ekonomi lokal, kata dia, tidak semestinya hanya menjadikan Sulawesi Tengah sebagai objek pembangunan. Potensi tersebut harus dapat diolah dan dikembangkan sehingga memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat.
Penguatan UMKM menjadi salah satu bagian yang dinilai penting. Komoditas lokal seperti kelapa, durian dan berbagai produk masyarakat dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan melalui inovasi, kewirausahaan dan pemanfaatan teknologi digital.
Menurut Amar, transformasi digital dapat membuka ruang yang lebih luas bagi pelaku usaha, termasuk mahasiswa, untuk mengembangkan produk, memperluas pasar dan menciptakan model bisnis baru.
Untad sendiri terus mendorong pengembangan kewirausahaan mahasiswa dan UMKM sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Rektor mengapresiasi pelaksanaan Bank Indonesia Mengajar sebagai momentum mempertemukan teori akademik dengan pengalaman dan praktik kebijakan ekonomi secara langsung.
“Bank Indonesia Mengajar ini merupakan sebuah momentum untuk mempertemukan antara teori akademik dengan pengalaman dan kebijakan ekonomi secara langsung,” ujar Amar.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada pengayaan wawasan mahasiswa, tetapi juga menjadi pintu penguatan kerja sama antara Untad dan Bank Indonesia.
Kerja sama tersebut diharapkan dapat dikembangkan dalam bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pengembangan sumber daya manusia, literasi ekonomi dan keuangan, hingga inovasi digital.
Amar menilai kolaborasi perguruan tinggi dan Bank Indonesia penting dalam mempersiapkan generasi muda yang memiliki kompetensi, wawasan luas, kemampuan beradaptasi serta integritas.
Melalui Bank Indonesia Mengajar 2026, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami kebijakan ekonomi hari ini, tetapi juga mampu membaca perubahan yang akan datang dan memanfaatkan perkembangan teknologi untuk menciptakan inovasi yang berdampak bagi masyarakat, daerah dan bangsa. ***
