PALU, MAL — Aliansi Konservasi Tompotika (AlTo) akan menggelar kirab berjalan kaki dari Desa Balantak, Kecamatan Balantak, menuju Kecamatan Bualemo, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, sebagai bagian dari kampanye untuk meningkatkan perhatian terhadap keberadaan burung Maleo dan ancaman terhadap habitatnya.
Mining Outreach Manager AlTo, B. Thusi Bonandito, mengatakan kirab tersebut digelar untuk memperingati Hari Maleo Sedunia pada 21 November sekaligus menandai 20 tahun AlTo melakukan upaya konservasi Maleo di Indonesia.
Kirab akan menempuh jarak sekitar 76 kilometer selama enam hari, mulai 16 hingga 21 November. Peserta akan berjalan dari satu desa ke desa lainnya hingga mencapai Bualemo.
Menurut Thusi, kegiatan tersebut tidak sekadar berupa perjalanan berjalan kaki. Di setiap desa yang dilalui, peserta akan mengikuti kegiatan edukasi dan kampanye mengenai Maleo, penyu, kelelawar, serta pentingnya menjaga ekosistem.
Kegiatan juga melibatkan masyarakat melalui festival anak-anak, kegiatan untuk ibu-ibu, hingga human mural sebagai ruang menyampaikan pesan konservasi.
“Ini juga terkait dengan keberadaan tambang-tambang. Kita akan mempromosikan kegiatan dan keterancaman burung Maleo dengan kondisi saat ini, supaya menggerakkan kampanye-kampanye nasional dan internasional,” kata Thusi saat ditemui di Sekretariat JATAM Sulawesi Tengah, Jalan Yojokodi, Kota Palu.
Ia mengatakan, kampanye tersebut diharapkan memperluas perhatian publik di tingkat nasional maupun internasional terhadap kondisi Maleo yang menghadapi tekanan akibat perubahan dan ancaman terhadap habitatnya.
Kirab tersebut juga akan melibatkan peserta dari sejumlah negara. Thusi menyebut sejumlah peserta dari luar negeri telah mendaftar dan membayar uang muka. Salah satu negara yang dipastikan mengirim peserta adalah Amerika Serikat.
Sementara itu, masyarakat Sulawesi Tengah dan wartawan dipersilakan bergabung tanpa biaya.
“Kalau masyarakat Sulteng silakan datang bergabung, tidak usah membayar. Gratis. Teman-teman wartawan juga diharapkan kalau bisa datang,” ujarnya.
Thusi mengatakan peserta dari luar daerah maupun luar negeri akan mendapatkan dukungan akomodasi selama mengikuti rangkaian kegiatan. Titik penginapan pertama direncanakan berada di kawasan Pulau Dua.
Rangkaian kirab dijadwalkan berlangsung pada 16–21 November. Peserta dari luar daerah dipersilakan tiba sehari sebelum perjalanan dimulai.
Melalui kegiatan tersebut, AlTo ingin membawa isu konservasi Maleo dari tingkat lokal ke ruang kampanye yang lebih luas. Organisasi tersebut terutama menyoroti kondisi habitat Maleo di tengah aktivitas pertambangan di wilayah Tompotika dan sekitarnya.**
