Manusia pada akhirnya akan mati. Dunia ini fana, hanya persinggahan menuju kehidupan kekal bernama akhirat. Ketika ajal tiba, kematian tidak dapat ditunda ataupun dimajukan sedikit pun. Namun, banyak manusia yang belum menyadari hal itu dan belum mempersiapkan diri sebelum kematian datang. Salah satu penyebabnya adalah kehidupan dunia yang melenakan serta kebiasaan bermegah-megahan dengan harta.

Allah SWT berfirman dalam Surah At-Takatsur ayat 1–8:

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu). Sekali lagi, janganlah begitu! Kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu! Sekiranya kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahim. Kemudian, kamu benar-benar akan melihatnya dengan ainul yaqin. Kemudian, kamu pasti akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).”

Menurut salah satu riwayat yang dikemukakan dalam pembahasan asbabun nuzul, ayat-ayat ini berkaitan dengan dua kabilah Ansar yang saling membanggakan kekayaan dan keturunan. Peristiwa tersebut menjadi pengingat tentang kebiasaan manusia bermegah-megahan dengan urusan dunia hingga lalai mengingat Allah SWT.

Dalam Surah At-Takatsur, Allah SWT berulang kali memperingatkan manusia agar tidak terjerumus dalam sikap bermegah-megahan. Peringatan itu tampak pada ayat 3 dan 4 melalui firman-Nya, “Kalla saufa ta’lamun” (sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui), yang kemudian ditegaskan kembali pada ayat 5 dengan ungkapan “Kalla lau ta’lamuna ‘ilmal yaqin”.

Peringatan tersebut menunjukkan betapa berbahayanya sikap bermegah-megahan dalam urusan harta, keturunan, dan jabatan apabila hal itu membuat manusia lalai beribadah kepada Allah SWT. Bukankah ketika seseorang berulang kali mengingatkan orang lain dengan mengatakan, “Jangan lakukan! Jangan lakukan!”, hal itu menunjukkan adanya kekhawatiran terhadap bahaya yang mungkin menimpanya?

Manusia sering kali lupa mengingat Allah SWT karena terlalu sibuk mengurus dan mengumpulkan harta. Padahal, harta yang dibanggakan tidak dapat dibawa ketika seseorang meninggal dunia dan masuk ke alam kubur. Inilah salah satu pesan penting dalam ayat kedua Surah At-Takatsur.

Apabila manusia terus larut dalam kebanggaan terhadap dunia hingga melalaikan ibadah, Allah SWT mengingatkan tentang neraka Jahim pada ayat 6. Peringatan itu kembali ditegaskan pada ayat 7 melalui ungkapan bahwa manusia benar-benar akan melihatnya dengan ainul yaqin, yakni penglihatan yang nyata. Dengan demikian, ayat tersebut menghadirkan peringatan yang tegas tentang akibat kelalaian manusia terhadap kehidupan akhirat.

Harta, pada dasarnya, tetap merupakan sarana yang bermanfaat bagi setiap Muslim untuk memperoleh rida Allah SWT. Hal ini dicontohkan oleh Sayyidah Khadijah, Utsman bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf. Mereka menjadi teladan dalam memanfaatkan harta untuk mendukung perjuangan Islam dan membantu sesama.

Namun, harta juga dapat menjerumuskan manusia ke dalam kebinasaan apabila tidak memahami hakikat kepemilikan, cara memperoleh, serta cara menggunakan dan memanfaatkannya sesuai dengan tuntunan agama.

Al-Qur’an memberikan contoh tentang manusia yang gagal memahami hakikat harta dan kekuasaan, di antaranya Fir’aun, Haman, dan Qarun. Kisah mereka menjadi pelajaran tentang bahaya kesombongan, kecintaan berlebihan terhadap kekayaan, serta penyalahgunaan kekuasaan.

Mereka terjerumus dalam kesombongan dan menjadikan kekayaan serta kekuasaan sebagai sesuatu yang diagungkan. Akibatnya, perhatian mereka hanya tertuju pada kepentingan duniawi, tanpa memedulikan kebenaran dan pertanggungjawaban atas apa yang mereka miliki.

Fenomena serupa dapat ditemukan dalam kehidupan masa kini. Ada orang yang terus berlomba mengejar jabatan, bahkan ketika pernah tersandung kasus hukum. Dalam sejumlah kasus, mantan narapidana korupsi kembali menduduki jabatan publik setelah menjalani hukuman, sesuai dengan ketentuan dan proses yang berlaku.

Keadaan ini menjadi pengingat bahwa harta dan kekuasaan dapat membutakan manusia apabila keduanya dijadikan tujuan utama kehidupan. Ketika kecintaan terhadap dunia mengalahkan nilai moral dan tanggung jawab, manusia berisiko melupakan batas-batas yang telah ditetapkan Allah SWT.

Karena itu, Surah At-Takatsur mengajak kita untuk mengevaluasi kembali cara memandang harta, kedudukan, dan berbagai kenikmatan dunia. Semua itu bukanlah tujuan akhir, melainkan amanah yang harus digunakan secara bertanggung jawab. Jangan sampai kesibukan mengejar dunia membuat kita lupa mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat. Wallahu a’lam

Darlis Muhammad (Redaktur Senior Media Alkhairaat)