JAKARTA, MAL — Nilai tukar rupiah bangkit pada pembukaan perdagangan Kamis (05/11) dengan menguat tajam sebesar 98 poin atau 0,54 persen ke level Rp18.070 per dolar AS.
Pergerakan positif ini menjadikan mata uang Garuda sebagai jawara di kawasan Asia pada sesi pagi setelah sempat tertekan pada penutupan sebelumnya di angka Rp18.168.
Penguatan ini didorong oleh koreksi indeks dolar AS (DXY) yang melemah 0,40 persen ke posisi 101,46, sehingga memberikan ruang bagi mata uang regional untuk menguat.
Meski rupiah bangkit secara harian, data tahun berjalan (year-to-date) menunjukkan rupiah masih melemah 7,75 persen dibandingkan posisi akhir 2025 yang berada pada level Rp16.670 per dolar AS.
“Kementerian Perdagangan pada Selasa (3/11) menyampaikan bahwa Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar US$3,36 miliar pada September 2026. Meski masih mencatatkan surplus, angka tersebut lebih rendah dibandingkan US$3,55 miliar pada Agustus,” kata Muhammad Amru Syifa, peneliti Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX).
“Kenaikan laju impor mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 18,41 persen secara tahunan (YoY), melampaui laju pertumbuhan ekspor yang berada di angka 11,87 persen,” lanjut Muhammad Amru Syifa.
“Lonjakan impor yang didominasi oleh barang modal serta bahan baku industri mengindikasikan adanya peningkatan aktivitas produksi manufaktur dalam negeri. Namun, kondisi tersebut di sisi lain memicu kenaikan permintaan terhadap valuta asing (valas) di pasar domestik,” jelas Muhammad Amru Syifa.
Saat ini pelaku pasar tengah mencermati rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2026 yang dijadwalkan keluar pada Kamis ini.
Di sisi global, data ketenagakerjaan AS seperti JOLTS yang tetap kuat berpotensi membuat bank sentral AS, The Fed, mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama, yang tetap menjadi tantangan bagi momentum rupiah bangkit di masa depan.
