PALU, MAL – Upaya memperkuat literasi sejarah di kalangan generasi muda terus didorong melalui kolaborasi antara UPT Museum dan Taman Budaya Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), dengan Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Tadulako (Untad).
Kolaborasi dengan melibatkan dosen dan mahasiswa tersebut, diwujudkan melalui program Museum Goes to Campus yang dikemas dalam kuliah umum di Aula FKIP Untad, Senin (26/10).
Program ini menjadi salah satu upaya mendekatkan museum dengan lingkungan akademik, sekaligus membuka ruang pembelajaran sejarah dan kebudayaan di luar kegiatan perkuliahan.
Kepala UPT Museum dan Taman Budaya Sulteng, Dr. Rim, M.Hum., mengatakan program tersebut dirancang untuk memperkenalkan nilai-nilai sejarah dan kebudayaan kepada generasi muda, khususnya mahasiswa.
Menurutnya, keterlibatan mahasiswa diperlukan dalam menjaga keberlanjutan pelestarian warisan budaya daerah. Melalui pendekatan langsung ke lingkungan kampus, museum diharapkan semakin dikenal sebagai ruang pembelajaran yang relevan bagi generasi muda.
“Program Museum Goes to Campus ini dirancang untuk mendekatkan nilai-nilai sejarah dan kebudayaan kepada generasi muda, khususnya mahasiswa. Melalui program perdana ini, kami berharap dapat mendorong keterlibatan aktif mahasiswa dalam menjaga serta melestarikan warisan budaya daerah Sulawesi Tengah,” kata Rim.
Dekan FKIP Untad, Dr. Jamaludin, M.Si., menyambut positif kolaborasi tersebut. Ia menilai museum memiliki kontribusi penting bagi pengembangan akademik, terutama dalam mendukung penelitian mahasiswa dan penyelesaian tugas akhir.
“Keberadaan museum sangat penting bagi lingkungan FKIP. Salah satu bentuk peran nyatanya terlihat dari kontribusi dalam mendukung penyelesaian studi mahasiswa, di mana banyak mahasiswa kami yang melakukan penelitian dan penyelesaian tugas akhir di museum,” ungkap Jamaludin.
Sementara itu, Koordinator Program Studi Pendidikan Sejarah, Dr. Hasan, M.Hum., menekankan pentingnya hubungan berkelanjutan antara museum dan perguruan tinggi untuk memperkuat pemahaman sejarah secara praktis.
Ia berharap sinergi tersebut tidak berhenti pada pelaksanaan kuliah umum, tetapi berkembang menjadi kerja sama yang mendukung peningkatan literasi sejarah mahasiswa.
“Kegiatan ini menjadi ruang pembuktian bahwa museum dan dunia akademik harus terus berjalan berdampingan. Kami berharap sinergi antara program studi dan pihak museum dapat terus diperkuat guna mendukung peningkatan literasi sejarah para mahasiswa,” ujar Hasan.
Program Museum Goes to Campus ini merupakan kegiatan perdana yang dilaksanakan sejak Museum dan Taman Budaya Sulteng didirikan pada 1978.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat peran museum sebagai sumber pembelajaran, mendukung penelitian akademik, serta menumbuhkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya menjaga sejarah dan warisan budaya Sulteng. **
