JAKARTA, MAL – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 14,91 persen atau 908,65 poin selama perdagangan 12–16 Oktober 2026, dari 6.093,76 menjadi 5.185,11.
Pada Senin, 19 Oktober 2026, IHSG kembali melemah hingga ditutup di level 4.996,60. Analis PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Ardy Irianto Subekti, memperingatkan risiko penurunan ke rentang 4.950–5.000 jika tekanan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan pelemahan rupiah berlanjut.
Koreksi tajam tersebut dipicu kekhawatiran pasar terhadap rencana konsultasi MSCI mengenai kemungkinan penurunan status pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Sentimen itu diperburuk oleh potensi arus keluar dana asing, pelemahan nilai tukar rupiah, serta tekanan dari perkembangan ekonomi global.
Tekanan terbesar terjadi pada Jumat, 16 Oktober 2026. IHSG dibuka di level 5.393,92 atau melemah 8,01 persen. Bursa Efek Indonesia (BEI) kemudian memberlakukan penghentian sementara perdagangan atau trading halt selama 30 menit.
Pada akhir sesi pertama, IHSG telah turun 10,76 persen ke level 5.233. Indeks kemudian ditutup di posisi 5.185,11 setelah melemah 11,57 persen dalam sehari. Penurunan harian tersebut menjadi yang terdalam sejak krisis 1998 dan membawa IHSG ke level terendah sepanjang 2026 pada saat itu.
Tekanan berlanjut pada Senin, 19 Oktober 2026. IHSG sempat bergerak ke kisaran 4.912–4.995 sebelum ditutup pada level 4.996,60, turun 3,64 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Ardy mengatakan investor asing mencatatkan penjualan bersih atau net sell sebesar Rp2,92 triliun pada sesi pertama perdagangan Jumat. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan penjualan bersih Rp1,98 triliun, disusul PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar Rp631 miliar dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp485 miliar.
“Investor asing mencatatkan net sell Rp2,92 triliun di sesi I yang dipimpin BBCA Rp1,98 triliun, BBRI Rp631 miliar, BMRI Rp485 miliar. Total net sell asing dalam sepekan mencapai Rp3,34 triliun dan YTD Rp88,19 triliun,” kata Ardy dalam analisis pasar, Senin, 19 Oktober 2026.
Secara keseluruhan, penjualan bersih investor asing sejak awal tahun atau year-to-date (YTD) mencapai Rp88,19 triliun. Ardy juga memperkirakan potensi arus keluar dana asing dapat mencapai Rp105 triliun hingga Rp132 triliun, setara 5,8 miliar dolar AS hingga 7,3 miliar dolar AS, jika MSCI benar-benar menurunkan status pasar modal Indonesia.
“Jika reklasifikasi benar-benar terjadi, potensi arus dana keluar atau outflow dari pasar saham Indonesia dapat mencapai Rp105 triliun hingga Rp132 triliun, setara 5,8 miliar dolar AS hingga 7,3 miliar dolar AS,” ujarnya.
Nilai tersebut merupakan estimasi potensi arus keluar apabila reklasifikasi terjadi, bukan dana yang telah dipastikan keluar dari pasar saham Indonesia.
Ardy menilai saham berkapitalisasi besar, seperti BBCA, BBRI, BMRI, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), dan PT Astra International Tbk (ASII), berisiko terdampak karena menjadi bagian dari saham yang banyak diperhatikan investor institusi dan investor asing.
Kekhawatiran pasar berkaitan dengan pengumuman konsultasi MSCI pada 15 Oktober 2026 waktu Amerika Serikat. Isu yang dibahas mencakup transparansi kepemilikan saham, konsentrasi kepemilikan yang tinggi, dugaan perdagangan terkoordinasi, serta penegakan aturan yang dinilai belum meyakinkan.
Proses konsultasi tersebut masih berlangsung dan belum menghasilkan keputusan final. Batas akhir penyampaian masukan publik ditetapkan pada 30 April 2027, sedangkan keputusan final dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027.
Dengan demikian, status Indonesia sebagai Emerging Market belum berubah menjadi Standalone Market. Potensi arus keluar dana asing akibat perubahan klasifikasi tersebut masih bergantung pada hasil proses konsultasi dan keputusan MSCI.
Tim Riset Syailendra Capital juga mengingatkan risiko arus keluar dana asing, terutama dari saham berkapitalisasi besar yang memiliki bobot signifikan dalam indeks MSCI Indonesia.
“Risiko utama yang perlu dicermati adalah potensi arus keluar dana asing, terutama dari saham-saham berkapitalisasi besar yang memiliki bobot signifikan dalam indeks MSCI Indonesia,” tulis Tim Riset Syailendra Capital dalam Syailendra Weekly Update, 19 Oktober 2026.
Menurut tim riset tersebut, proses konsultasi akan berlangsung hingga 30 April 2027, dengan keputusan final dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027.
Selain sentimen MSCI, pelemahan rupiah turut menjadi faktor yang diperhatikan pelaku pasar. Nilai tukar rupiah tercatat Rp18.053 per dolar AS pada akhir pekan sebelumnya dan melemah ke Rp18.059 per dolar AS pada Senin, 19 Oktober 2026.
Faktor eksternal lainnya meliputi inflasi Amerika Serikat yang lebih tinggi dari ekspektasi serta meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Selat Hormuz. Perkembangan tersebut menambah tekanan terhadap sentimen investor di pasar keuangan.
IPOT memetakan dua skenario pergerakan IHSG. Dalam skenario netral, indeks diperkirakan bergerak di rentang 5.180–5.400 apabila tidak terjadi eskalasi konflik dan rupiah bertahan di bawah Rp18.000 per dolar AS.
Sebaliknya, dalam skenario pesimistis, IHSG berisiko turun ke rentang 4.950–5.000 apabila arus keluar dana terkait MSCI terealisasi dan rupiah melemah melewati Rp18.100 per dolar AS.
Untuk level teknikal, IPOT menempatkan 5.180 sebagai area support pertama dan 5.000 sebagai support psikologis. Jika tekanan berlanjut, level 4.850 menjadi support berikutnya. Sementara itu, area resistance berada di kisaran 5.350–5.404, kemudian 5.600 dan 5.864.
Di sisi lain, BEI menyatakan akan meminta klarifikasi kepada MSCI. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga menjatuhkan denda dengan total Rp2,1 triliun terkait DSSA sebesar Rp1,5 triliun, BREN Rp500 miliar, dan CUAN Rp100 miliar. Sejak Januari 2026, OJK disebut telah menindak 835 pihak dengan sanksi lebih dari Rp390 miliar.
Danantara turut menyatakan kesiapan untuk melakukan akumulasi saham yang memiliki fundamental kuat.
Perkembangan IHSG selanjutnya akan dipengaruhi respons pasar terhadap proses konsultasi MSCI, pergerakan rupiah, serta kebijakan moneter. Bank Indonesia dijadwalkan menggelar rapat kebijakan moneter pada 21 Oktober 2026.
