Dalam sebuah hadis dikisahkan bahwa Abu Dzar pernah meminta jabatan kepada Rasulullah SAW. Rasulullah menjawab sebagaimana diriwayatkan dalam hadis berikut:

“Dari Abu Dzar RA, ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak menjadikan aku sebagai pengawal?’ Kemudian beliau menepuk pundakku dan bersabda, ‘Hai Abu Dzar, sungguh kamu ini lemah dan jabatan itu amanah. Pada hari kiamat nanti, jabatan itu menjadi kehinaan serta penyesalan, kecuali bagi orang yang melaksanakannya secara benar dan menunaikan semua kewajibannya.’” (HR. Muslim).

Hadis ini menunjukkan bahwa salah satu sebab larangan meminta jabatan adalah kelemahan Abu Dzar Al-Ghifari RA.

Kelemahan tersebut dapat membuat seseorang tidak cakap menjalankan amanah sehingga berpotensi mendatangkan malapetaka dan penyesalan di akhirat. Karena itu, larangan ini berlaku bagi mereka yang tidak mampu menjalankan jabatan dengan baik. Adapun orang yang mampu menjalankannya sesuai dengan hak dan kewajibannya, maka ia termasuk dalam pengecualian tersebut dan tidak mengalami penyesalan sebagaimana yang dimaksud dalam hadis.

Oleh karena itu, Nabi Muhammad SAW mengatakan, “…kecuali bagi orang yang mengambilnya sesuai haknya dan menjalankannya dengan baik.”

Pengecualian ini harus diperhatikan. Jangan hanya melihat larangannya, tetapi juga memahami pengecualian yang disebutkan Rasulullah SAW. Di sisi lain, pengecualian tersebut menunjukkan betapa sedikitnya manusia yang mampu menjalankan jabatan dengan benar. Seseorang yang mampu melaksanakan amanah dengan baik menjadi pengecualian karena pada umumnya jabatan merupakan tanggung jawab berat yang tidak semua orang sanggup memikulnya.

Berlomba-lomba memperoleh jabatan mungkin merupakan hal yang biasa dan wajar. Namun, hal itu menjadi tidak wajar ketika seseorang mengabaikan aturan atau menghalalkan segala cara demi mendapatkan jabatan.

Semua orang tentu mengetahui bahwa jabatan adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Namun, dalam kenyataannya, tidak sedikit orang yang mengingkari amanah tersebut, meskipun telah bersumpah atas nama Allah saat pelantikan.

Jabatan adalah ujian. Setiap muslim pasti menghadapi ujian dalam hidup dengan berbagai bentuk dan cara. Hal ini dijelaskan Rasulullah SAW dalam sebuah hadis:

“(Yang paling berat ujiannya ialah) para nabi, kemudian yang lebih utama dan yang berikutnya. Seseorang akan diuji sesuai dengan agamanya. Apabila agamanya kokoh, semakin beratlah ujiannya, dan jika dalam agamanya ada kelemahan, dia diuji sesuai dengan agamanya. Tiada henti-hentinya ujian itu menimpa seorang hamba sampai melepaskannya berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak ada dosa padanya.” (HR. At-Tirmidzi).

Jabatan dan harta memiliki potensi yang sama, yakni menjadi fitnah sekaligus mendatangkan manfaat. Keduanya dapat menjadi fitnah apabila berada di tangan orang yang berniat jahat sehingga digunakan untuk melakukan kejahatan. Keduanya juga dapat menimbulkan kerugian apabila dikelola oleh orang yang memiliki niat baik, tetapi tidak mempunyai kecakapan untuk mengelolanya.

Sebaliknya, jabatan dan harta dapat memberikan manfaat besar bagi umat manusia apabila berada di tangan orang-orang yang berhati mulia, saleh, dan cakap dalam mengelolanya.

Rasulullah SAW bersabda kepada Amr bin Al-Ash RA, “Wahai Amr, sebaik-baik harta adalah harta yang ada pada orang saleh.” (HR. Bukhari).

Nabi Sulaiman AS merupakan seorang nabi yang diuji dengan kekayaan, ilmu pengetahuan, dan jabatan. Namun, beliau menyadari bahwa semua itu merupakan karunia sekaligus ujian dari Allah SWT. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:

“Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia.” (QS. An-Naml: 40).

Bagi seseorang yang memperoleh jabatan, hal itu menjadi salah satu jalan untuk menghadapi ujian, terutama dalam menjaga dan mempertahankan amanah. Ia diuji apakah mampu menjalankan tugas dan fungsi jabatannya sesuai dengan aturan yang berlaku, menjaga kepercayaan yang diberikan, serta tidak berkhianat terhadap amanah tersebut.

Seseorang tidak diukur dari tinggi atau rendahnya jabatan yang disandang. Kemuliaan merupakan anugerah Allah SWT yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa.

Dari Abu Dzar, Nabi Muhammad SAW bersabda kepadanya, “Lihatlah, engkau tidaklah akan lebih baik daripada orang yang berkulit merah atau berkulit hitam, kecuali jika engkau mengungguli mereka dengan takwa.” (HR. Ahmad). Wallahu a’lam

Darlis Muhammad (Redaktur Senior Media Alkhairaat)