BRASILIA, MAL – Kemenangan Luiz Inácio Lula da Silva dalam pemilihan presiden Brasil menjadi pukulan politik bagi Presiden Amerika Serikat Donald Trump sekaligus mempertahankan posisi Brasil sebagai salah satu suara kritis terhadap tindakan Israel di Jalur Gaza.

Lula meraih 51,76 persen suara, mengalahkan Flávio Bolsonaro yang memperoleh 48,24 persen dalam pemungutan suara putaran kedua, Ahad (25/10/2026). Flávio dikenal memiliki pandangan pro-Israel dan mendapat dukungan dari kalangan yang dekat dengan Trump.

Dalam isu Palestina, Lula secara terbuka mengecam tindakan Israel di Gaza. Sikap tersebut membuat Brasil di bawah kepemimpinannya menjadi salah satu negara yang vokal mengkritik operasi militer Israel dan mendorong perhatian internasional terhadap penderitaan warga Palestina.

Sebaliknya, Flávio Bolsonaro menjanjikan kebijakan yang lebih dekat dengan Israel, termasuk rencana memindahkan Kedutaan Besar Brasil ke Yerusalem. Kemenangannya berpotensi membawa perubahan arah kebijakan luar negeri Brasil terhadap Israel dan Palestina.

Kekalahan Flávio juga menggagalkan upaya Trump memperluas pengaruh politiknya di Amerika Latin melalui sekutu-sekutu berhaluan kanan. Brasil, sebagai negara dengan ekonomi terbesar di kawasan itu, tetap berada di bawah kepemimpinan Lula yang menekankan kedaulatan nasional dan kebijakan luar negeri independen dari Washington.

Meski demikian, kemenangan Lula tidak otomatis mengubah kebijakan Amerika Serikat terhadap Palestina maupun mengakhiri dukungan Washington kepada Israel. Dampak langsungnya lebih terlihat pada terjaganya posisi Brasil sebagai pengkritik kebijakan Israel dan penolakan pemilih terhadap kandidat yang dekat dengan Trump.**