ISTANBUL, MAL – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memecat penasihat utamanya, Oktay Saral, setelah mengkritik kebijakan pelarangan jilbab di sekolah Azerbaijan. Langkah tersebut diduga dilakukan untuk meredakan ketegangan diplomatik dengan pemerintah Presiden Ilham Aliyev.

Dilansir Middle East Eye (MEE), Ahad (25/10/2026), Saral membenarkan pemberhentian dirinya dan menyatakan menghormati keputusan Erdogan.

Perselisihan bermula ketika Azerbaijan memberlakukan larangan jilbab di sekolah dasar dan menengah pada bulan lalu. Kebijakan itu memicu protes di Turki, termasuk kritik Saral yang mendesak pemerintah Azerbaijan mencabut larangan tersebut.

“Jilbab bukanlah penghalang, melainkan bagian dari tuntutan keyakinan agama,” kata Saral dalam pernyataannya melalui platform X.

Pernyataan itu memancing reaksi keras Partai Azerbaijan Baru (YAP), partai berkuasa yang dipimpin Aliyev. YAP menilai kritik Saral sebagai pernyataan populis dan tidak bertanggung jawab yang berpotensi merusak hubungan kedua negara.

Menurut laporan MEE, Azerbaijan bahkan menuntut Ankara memecat Saral dan memproses hukum para komentator media sosial yang dianggap menghina Aliyev.

“Pencopotan Saral akan mendorong Aliyev untuk hadir dalam KTT negara-negara Turki,” kata seorang sumber Azerbaijan kepada MEE.

Ketegangan tersebut menjadi tantangan bagi Erdogan yang tengah mengupayakan kehadiran Aliyev dalam KTT Organisasi Negara-Negara Turkik (OTS) di Turki. Kedekatan etnis, budaya, agama, dan sejarah selama ini menjadi landasan hubungan kedua negara yang dikenal dengan ungkapan “satu bangsa, dua negara”.

Namun, perselisihan mengenai jilbab memperlihatkan bahwa hubungan erat kedua negara tidak menghilangkan perbedaan pandangan mengenai kebijakan agama dan urusan dalam negeri.

Di sisi lain, YAP menegaskan aturan seragam sekolah Azerbaijan didasarkan pada prinsip kesetaraan, sekularisme, dan supremasi hukum. Partai itu juga meminta Turki tidak menggunakan kebijakan pendidikan Azerbaijan sebagai instrumen kepentingan politik.