PALU, MAL — PT Vale Indonesia Tbk (Vale Indonesia) mengintensifkan upaya penanganan karhutla di wilayah Puulemo dan Baula, sekitar area Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, Jumat (23/10).
Langkah ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan terhadap kelestarian lingkungan dan keselamatan masyarakat di sekitar wilayah operasional pertambangan.
Berdasarkan pemetaan sementara, kebakaran di Puulemo mencakup area seluas 31,68 hektare yang berada di dalam wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK).
Penanganan intensif melibatkan tim Fire and Emergency Services (FES) Vale Indonesia yang bekerja sama erat dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk memadamkan titik api secara terpadu.
Sementara itu, kebakaran di wilayah Baula diperkirakan telah meluas hingga mencakup area sekitar 90 hektare di dalam wilayah IUPK dan Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan (PPKH). Jajaran personel FES terus berjibaku di lapangan untuk mengendalikan api serta mencegah dampaknya semakin meluas ke wilayah hutan lainnya dengan tetap mengutamakan keselamatan kerja.
“Tim FES Vale Indonesia terus bekerja bersama BPBD untuk menangani kebakaran di Puulemo. Pada saat yang sama, kami sedang mempersiapkan respons terhadap kebakaran di Baula, mulai dari pemetaan akses menuju lokasi hingga koordinasi dengan pemerintah,” ujar Mohammad Rifai, Head of Pomalaa Project Vale Indonesia.
Keterbatasan akses fisik menuju lokasi menjadi tantangan utama dalam penanganan karhutla di wilayah Baula saat ini. Perusahaan tengah berkoordinasi dengan tim eksplorasi untuk mengidentifikasi jalur alternatif menuju titik api serta memetakan sumber air terdekat guna mendukung proses asesmen lapangan dan visualisasi data aktual.
“Setiap waktu sangat berarti dalam situasi seperti ini. Namun, keselamatan masyarakat dan seluruh personel yang terlibat harus tetap menjadi prioritas. Kami memastikan setiap langkah dilakukan berdasarkan kondisi aktual di lapangan,” kata Mohammad Rifai.
Sebagai bentuk penguatan respons, Vale Indonesia juga menyiapkan dukungan alat berat dan tenaga tambahan apabila pembuatan sekat bakar diperlukan. Pembaruan data dilakukan setiap hari secara berkala yang mencakup pemetaan wilayah terdampak serta koordinasi titik koordinat kebakaran sebagai dasar pengambilan keputusan strategis bersama otoritas terkait.
Kondisi di Baula kini telah dieskalasikan kepada pemerintah daerah dan Satuan Tugas Penanganan Karhutla melalui sistem pemantauan Sipongi. Vale Indonesia juga mendorong adanya dukungan tambahan dari unsur kewilayahan untuk memperkuat kapasitas personel dalam menghadapi medan yang berat dan potensi perkembangan api yang tidak terduga.
Opsi dukungan udara juga mulai dipertimbangkan apabila penanganan melalui jalur darat tidak lagi memungkinkan akibat kondisi geografis. Setiap keputusan penanganan lanjutan akan ditetapkan berdasarkan hasil asesmen komprehensif dengan tetap memperhatikan regulasi perizinan dan efektivitas perlindungan lingkungan di area IGP Pomalaa. ***
