Oleh: Ir. Muh. Adam, M.M., M.Si*

Inilah inti perjuangan Guru Tua, Al-Habib Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri, di Palu sejak 11 Juni 1930.

Guru Tua berhasil membangun pendidikan Alkhairaat di tengah keterbatasan fasilitas dan kondisi zaman yang serba kekurangan. Beliau memulainya dari sebuah surau kecil dengan semangat, kesabaran, dan keikhlasan. Hal ini menjadi bukti bahwa pendidikan agama memiliki peran yang sangat vital. Tanpa pendidikan agama, manusia akan sulit mencapai keberhasilan yang hakiki.

Alkhairaat didirikan bukan sekadar untuk mengajarkan baca-tulis Al-Qur’an, melainkan juga untuk mencerdaskan umat manusia agar terbebas dari kebodohan dan kemelaratan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap Muslim.”

Filosofi humanis Guru Tua yang disampaikan oleh Almukarram Habib Sayyid Saggaf bin Muhammad Al-Jufri menegaskan bahwa pendidikan agama Islam di Alkhairaat merupakan bagian dari pendidikan khuluqiyah atau pendidikan mental manusia. Pendidikan jiwa ini jauh lebih penting daripada pembangunan fisik semata. Pendidikan tersebut menjadi fondasi penting bagi anak-anak sejak usia dini untuk menanamkan nilai tauhid dan mengenal Allah SWT.

Warisan perjuangan itu kini telah berkembang menjadi lebih dari 1.703 lembaga pendidikan, mulai dari PAUD, madrasah, sekolah, pesantren, hingga perguruan tinggi yang tersebar di 28 provinsi. Semua itu merupakan bagian dari rumah besar pendidikan Alkhairaat, tempat para santri menimba ilmu dan membangun karakter.

Momentum Hari Santri: Santri Alkhairaat Adalah Santri Indonesia

Jika dikaitkan dengan Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober, perjuangan Guru Tua mencerminkan semangat pengabdian yang juga menjadi bagian dari nilai perjuangan Resolusi Jihad KH. Hasyim Asy’ari. Santri tidak hanya mengaji, tetapi juga mengabdi. Santri tidak hanya berada di pesantren, tetapi turut menjaga bangsa.

Di Alkhairaat, santri diajarkan tiga hal: cinta agama, cinta bangsa, dan cinta Alkhairaat. Nilai-nilai inilah yang menjadi bagian penting dari karakter pendidikan Alkhairaat. Para murid tidak hanya dididik agar pandai mengaji, tetapi juga dipersiapkan untuk menjadi pejuang di kampung masing-masing, sebagaimana Guru Tua dahulu yang aktif mendatangi masyarakat dari rumah ke rumah dan dari desa ke desa.

Upaya penguatan pendidikan Alkhairaat pada masa kini, melalui arahan Ketua Utama Alkhairaat dan kepemimpinan Ketua Umum PB Alkhairaat, diwujudkan secara konkret oleh Ketua Majelis Pendidikan PB Alkhairaat. Ia secara intensif turun langsung ke lapangan, mengunjungi sekolah-sekolah Alkhairaat, mendengarkan keluhan, serta memberikan solusi sesuai dengan prosedur yang berlaku di lingkungan Alkhairaat.

Pada hakikatnya, inilah jati diri kita sebagai Abnaul Khairaat dalam momentum Hari Santri: jiwa manusia tidak dibangun hanya melalui hafalan di kelas, tetapi juga melalui tauhid yang menerangi hati, syariah yang menuntun amal, dan akhlakul karimah yang menjadi pedoman hidup sehari-hari.

Selamat Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2026.

Santri Alkhairaat, Santri Indonesia!

*Wakil Sekretaris Jenderal PB Alkhairaat Bidang Lingkungan Hidup dan Kebencanaan.