JAKARTA, MAL – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali melemah pada perdagangan Selasa pagi (22/9/2026), turun 32 poin atau 0,18 persen menjadi Rp17.879 per dolar AS.
Pelemahan terjadi di tengah sikap pelaku pasar yang masih menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 23 September 2026, serta tekanan dari sentimen global berupa penguatan dolar AS, ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed), dan tingginya harga minyak dunia.
Pada perdagangan Senin (21/9/2026), rupiah di pasar spot ditutup melemah 89 poin atau 0,50 persen ke level Rp17.847 per dolar AS dari posisi Rp17.758 per dolar AS pada penutupan Jumat (18/9/2026).
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi faktor domestik maupun eksternal, termasuk sikap pelaku pasar yang memilih menunggu arah kebijakan Bank Indonesia.
“Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh domestik sikap wait and see pelaku pasar terkait keputusan RDG BI besok. Walaupun diperkirakan BI akan menahan suku bunga acuan, namun beberapa negara cenderung sudah menaikkan suku bunga dan kekhawatiran melebarnya defisit neraca berjalan,” kata Rully Nova.
Ia menilai Bank Indonesia berpotensi mempertahankan suku bunga acuan guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, sementara stabilitas rupiah tetap ditopang melalui berbagai instrumen kebijakan moneter.
“Alasan BI kemungkinan memutuskan untuk menahan suku bunga yaitu demi menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan bauran kebijakan BI selama ini, seperti lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), swap point, hingga intervensi di pasar obligasi masih cukup efektif menjaga stabilitas rupiah dalam jangka pendek,” ujarnya.
Dari sisi global, indeks dolar AS (DXY) tercatat menguat 0,11 persen ke level 100,334 pada Senin (21/9/2026). Penguatan tersebut terjadi seiring meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan Oktober 2026.
Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed berdasarkan CME FedWatch mencapai 55 persen, meningkat dari 42,5 persen sepekan sebelumnya. Namun, angka tersebut masih berupa ekspektasi pasar dan belum merupakan keputusan resmi bank sentral Amerika Serikat.
Tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang menjaga harga minyak dunia tetap tinggi. Pada Senin (21/9/2026), harga minyak Brent kontrak November sempat berada di level 101,68 dolar AS per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) berada di level 93,85 dolar AS per barel.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, mengatakan kondisi geopolitik dan harga energi masih menjadi faktor utama yang membebani nilai tukar.
“Pelemahan nilai tukar rupiah masih dipengaruhi oleh kekhawatiran tensi geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak tetap tinggi di atas 100 dollar AS per barrel,” kata Erwin.
Menurut dia, tingginya harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan ekonomi global.
“Tingginya harga minyak mentah dapat meningkatkan risiko inflasi global sekaligus menambah tekanan terhadap prospek fiskal,” ujarnya.
Selain faktor eksternal, Erwin menyebut kebutuhan valuta asing oleh importir dan arus keluar dana dari portofolio aset domestik turut menambah tekanan terhadap rupiah.
“Tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir serta arus keluar dana dari portofolio aset domestik,” katanya.
Bank Indonesia memastikan tetap melakukan langkah stabilisasi di pasar keuangan melalui intervensi di pasar valuta asing luar negeri menggunakan instrumen Non-Deliverable Forward (NDF), transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Menjelang RDG BI pada 23 September 2026, pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan suku bunga dan bauran kebijakan Bank Indonesia yang dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global yang masih berlangsung.
