JEPANG, MAL — Dua insiden gempa bumi guncang Jepang dalam rentang waktu dua hari, memicu kepanikan warga di wilayah Tokyo dan Jepang bagian tengah pada awal November 2026.

Rangkaian peristiwa tektonik ini mengakibatkan puluhan orang mengalami luka-luka serta memicu gangguan signifikan pada sistem transportasi massal di wilayah Tokai.

Berdasarkan data resmi, guncangan pertama bermagnitudo 6,1 terjadi di lepas pantai Kanto, sebelah timur Tokyo, pada Jumat (06/11) pukul 19.39 waktu setempat.

Meskipun pusat gempa berada di kedalaman dangkal sekitar 169 kilometer tenggara Asahi, otoritas memastikan tidak ada ancaman tsunami yang dikeluarkan pascagempa tersebut.

“Gempa berkedalaman dangkal tersebut terjadi sekitar pukul 19.39 waktu setempat di wilayah perairan lepas pantai Kanto,” tulis laporan resmi Badan Meteorologi Jepang (JMA).

Insiden kedua menyusul pada Minggu (08/11) dini hari dengan kekuatan magnitudo sementara 5,7 yang berpusat di wilayah barat Prefektur Shizuoka.

Gempa ini memiliki dampak destruktif yang lebih terasa di daratan, terutama di Prefektur Aichi, Nagano, dan Gifu dengan intensitas seismik mencapai level 5 kuat pada skala Jepang.

“Gempa terjadi pukul 01.04 waktu setempat, dengan pusat gempa berada di wilayah barat Prefektur Shizuoka pada kedalaman sekitar 40 kilometer,” jelas laporan lanjutan dari pihak JMA.

Sedikitnya 20 orang dilaporkan mengalami luka-luka di Prefektur Aichi dan Shizuoka akibat terjatuh atau tertimpa benda saat gempa bumi guncang Jepang terjadi.

Selain korban luka, layanan kereta cepat Tokaido Shinkansen mengalami penundaan hingga satu jam, sementara akses menuju Bandara Internasional Chubu Centrair sempat terputus total.

“Penerbangan grup beroperasi normal, tanpa gangguan operasional terkait gempa bumi,” ungkap pernyataan resmi manajemen Japan Airlines menanggapi situasi operasional bandara.

Jepang secara geologis terletak di atas pertemuan empat lempeng tektonik utama di sepanjang jalur Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik.

Kondisi ini menyebabkan negara tersebut mengalami ratusan guncangan setiap tahunnya dan menyumbang sekitar 18 persen dari total kejadian gempa bumi di seluruh dunia.