PALU, MAL – PT PLN (Persero) melakukan pengaturan beban listrik secara bertahap di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah, termasuk Kota Palu, pada awal September 2026 untuk menjaga keandalan sistem kelistrikan selama pemeliharaan infrastruktur pada sistem interkoneksi Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel) dan penurunan pasokan dari sejumlah pembangkit listrik tenaga air (PLTA) akibat kondisi kekeringan. Pengaturan beban dilakukan sekitar satu hingga empat jam secara bergilir di sejumlah wilayah yang berada dalam cakupan layanan PLN UP3 Palu.

Manajer Komunikasi dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN UID Suluttenggo Noven N Koropit mengatakan pemeliharaan infrastruktur pada sistem interkoneksi Sulbagsel berdampak terhadap penurunan daya mampu pasok sehingga PLN menerapkan manajemen beban untuk menjaga kestabilan sistem.

“Beberapa hari terakhir sedang dilakukan pemeliharaan infrastruktur pada sistem interkoneksi Sulawesi bagian Selatan (Sulbagsel). Hal ini berpengaruh langsung pada pasokan daya di wilayah kerja Unit Pelayanan Pelanggan (UP3) Palu,” kata Noven melalui keterangan tertulis yang diterima di Palu.

Ia menjelaskan, pengaturan beban dilakukan sekitar satu hingga empat jam di sejumlah titik wilayah kerja PLN UP3 Palu dan sekitarnya. Menurut dia, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya preventif untuk mengoptimalkan kinerja infrastruktur sekaligus menjaga keandalan pasokan listrik.

“Petugas teknis terus bekerja di lapangan demi mempercepat penyelesaian pemeliharaan,” ujarnya.

Selain pemeliharaan infrastruktur, pasokan listrik di sistem Sulbagsel juga menghadapi tekanan akibat menurunnya debit air pada sejumlah PLTA yang menjadi penopang sistem. Beberapa PLTA utama yang memasok jaringan Sulbagsel antara lain PLTA Sulewana di Poso berkapasitas 515 megawatt (MW), PLTA Bakaru 126 MW, PLTA Malea 90 MW, PLTA Larona 165 MW, dan PLTA Balambano 110 MW.

Manajer Komunikasi dan TJSL PLN UID Sulselrabar Niki Rendra Adisetiawan mengatakan PLN telah menyiapkan langkah antisipatif menghadapi puncak musim kemarau.

“Saat puncak musim kemarau tiba, kami memang harus berjuang. Kami tidak lagi memiliki persoalan pada jaringan maupun keandalan komponen kelistrikan lainnya. Ini merupakan salah satu langkah antisipasi menghadapi puncak musim kemarau,” katanya.

Ia menambahkan, PLN akan mengoptimalkan pembangkit berbahan bakar batu bara dan diesel apabila kondisi kekeringan semakin memburuk.

“Jika kekeringan semakin parah, kami akan memaksimalkan pembangkit listrik yang menggunakan batu bara serta pembangkit listrik tenaga diesel. Memang belakangan ini kami jarang menggunakan PLTD, namun jika situasi mengharuskan, maka pembangkit tersebut akan digunakan saat puncak musim kemarau,” ujar Niki.

Di sisi lain, Anggota DPR RI Komisi VI Ismail Bahtiar menyebut terdapat dua unit pembangkit yang masih dalam proses perbaikan, masing-masing berada di Palu dan Jeneponto, Sulawesi Selatan.

“Berdasarkan konfirmasi kami ke Direksi PLN, saat ini ada dua unit pembangkit yang sedang dalam proses perbaikan. Satu di Palu dan satu di Jeneponto. Kondisi ini berdampak pada sistem kelistrikan di Sulsel sehingga PLN terpaksa melakukan pemadaman bergilir,” katanya.

Sistem Sulbagsel sendiri hingga Mei 2026 didukung kapasitas pasokan sebesar 2.205,23 MW dengan beban puncak mencapai 2.089,22 MW. Pertumbuhan pelanggan listrik di kawasan tersebut diproyeksikan mencapai 3,7 persen per tahun.

Pengaturan beban tidak hanya diterapkan di Sulawesi Tengah, tetapi juga di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan seperti Makassar, Gowa, Parepare, Barru, Maros, dan Jeneponto. Durasi pemadaman berkisar satu hingga empat jam per sesi dengan jadwal yang berbeda pada setiap wilayah.

PLN mengimbau pelanggan untuk memantau jadwal pengaturan beban melalui aplikasi PLN Mobile dan kanal resmi perusahaan. Hingga 3 September 2026, pemeliharaan infrastruktur dan perbaikan dua pembangkit masih berlangsung, sementara pemulihan penuh pasokan listrik masih menunggu selesainya pekerjaan tersebut.