Oleh: Drs. Andi Azikin Suyuti, M.Si.

Mencermati makna tulisan sahabat saya, Dr. Suaib Djafar, tentang rute Guangzhou-Palu dengan filosofi Kaili Nuapa Rakenita, Nuapa Rakavata — apa yang kita bawa dan apa yang kita dapat — adalah pengingat yang tepat. Jangan sampai kita tepuk tangan dulu sebelum bertanya.

Pada 6 Agustus 2026 lalu, kita mencatat sejarah. Untuk pertama kalinya, Bandara Mutiara SIS Al-Jufri Palu yang berstatus internasional sejak 2025 melayani penerbangan internasional perdana rute Palu-Guangzhou dengan maskapai Garuda Indonesia. Gubernur Anwar Hafid sendiri yang meresmikan. Ini bukan sekadar pesawat mendarat, ini pintu rumah kita yang resmi dibuka ke pasar dunia.

Pertanyaannya sama seperti yang diajukan Pak Suaib: setelah pintu dibuka, apa yang kita jual keluar dan apa yang masuk ke dalam? Kalau salah jawab, rumah kita hanya jadi pasar tempat orang lain berdagang.

Seperti apa untungnya dan apa ruginya penerbangan ini bagi kita di Sulawesi Tengah?

Keuntungan seperti apa yang Sulteng dapatkan?

1. Jalan pintas untuk petani dan nelayan.

Selama ini durian kita, cokelat kita, kelapa kita, ikan kita harus dibawa dulu ke Makassar atau Surabaya baru bisa diekspor. Biayanya mahal. Dengan adanya penerbangan langsung ke Guangzhou, yang merupakan pasar induk terbesar di China Selatan, durian beku, tuna segar, dan cokelat premium kita bisa langsung terbang. Potong ongkos, potong waktu. Petani durian di Parigi Moutong dan petani cengkih di Tolitoli, Sigi, dan Poso punya peluang mendapat harga lebih baik kalau ada yang mengorganisir.

2. Lapangan kerja baru, tetapi bukan di awan.

Bandara internasional membutuhkan banyak tenaga: petugas imigrasi, bea cukai, karantina, porter, sopir taksi, pedagang oleh-oleh, pemandu wisata. Hotel di Palu akan terisi. Ini kerja nyata untuk anak-anak kita. Namun, kita harus jujur, kerja di bandara saja tidak banyak. Kerja besar baru ada kalau di sekitar Palu tumbuh pabrik pengolahan. Jangan seperti di Morowali, nikmat nikelnya besar, tetapi banyak yang bekerja dari luar. Di Palu harus beda: orang Palu yang mengolah cokelatnya menjadi cokelat batangan, bukan hanya menjual bijinya.

3. Pariwisata kita bisa dilirik dunia.

Turis China hari ini tidak hanya mencari Bali. Mereka mencari yang masih asli. Sulteng punya itu semua: budaya Kaili, tenun Donggala, Danau Lore Lindu, Danau Poso, dan gugusan Togean. Ini yang disebut Pak Suaib sebagai pilar CAN: Culture, Agriculture, Natural. Kalau dikemas dengan baik, turis China yang mendarat di Palu bisa langsung melanjutkan perjalanan ke desa wisata.

Inilah sisi Nuapa Rakenita yang positif. Kita punya sesuatu untuk dibawa.

Kedua, apa ruginya kalau kita lengah?

1. Banjir barang China.

Ini yang paling cepat terasa. Guangzhou itu gudangnya barang murah: baju, HP, perkakas, mainan anak. Dengan pesawat langsung, barang-barang itu bisa masuk lebih murah dan cepat. Kalau kita tidak siap, UMKM kita yang menjahit baju, yang membuat mebel, akan mati pelan-pelan karena kalah harga. Kita akan lebih banyak menjadi pembeli daripada penjual. Inilah yang ditakutkan Pak Suaib: kita hanya menjadi daerah tujuan pasar, bukan daerah penghasil.

2. Masyarakat belum siap.

Saya keliling, berapa banyak anak muda kita yang bisa berbahasa Mandarin untuk menjadi pemandu? Berapa banyak homestay di Togean yang sudah memiliki toilet bersih, bisa membayar menggunakan WeChat Pay, dan memiliki tulisan Mandarin? Produk kita juga belum siap ekspor. Durian mau masuk China harus dibekukan, ada sertifikat karantina. Cokelat harus ada merek dan cerita, tidak bisa karungan. Kalau ini tidak disiapkan, pesawat datang membawa turis, tetapi turisnya kecewa, pulang, dan tidak kembali.

3. Palu hanya menjadi pintu transit, bukan tujuan.

Harus kita buka-bukaan. Ada kaitan kuat antara rute ini dengan dicabutnya izin internasional Bandara Khusus IMIP di Morowali. Kementerian Perhubungan resmi mencabut status internasional Bandara IMIP lewat Kepmenhub KM 55 Tahun 2025 pada Oktober 2025, sehingga IMIP tidak lagi boleh melayani penerbangan langsung dari dan ke luar negeri. Bahkan Kemenhub menegaskan, selama izin itu ada, belum pernah sekalipun ada penerbangan internasional langsung di sana.

Artinya, ribuan tenaga kerja asing dan eksekutif China yang bekerja di kawasan industri nikel Morowali dan sekitarnya tidak bisa lagi mendarat langsung di IMIP. Mereka harus melalui bandara internasional resmi yang memiliki Imigrasi dan Bea Cukai lengkap. Palu adalah yang paling dekat.

Ini peluang sekaligus jebakan. Peluang karena Palu mendapat retribusi dan perputaran uang. Jebakannya, kalau pemerintah hanya senang menjadi tukang stempel paspor, Palu hanya menjadi lorong transit menuju Morowali. Nilai tambahnya lari ke sana, sampah dan kemacetannya tinggal di Palu.

Sekadar saran buat Pemda: jangan jual mentah, jual matang. Meminjam jargon dari mantan Gubernur Sulsel, Prof. Amirudin, “petik, olah, dan jual.”

Saya setuju dengan pendekatan O2H yang ditawarkan Pak Suaib: Unto (Otak), Dota (Otot), Rara (Hati). Jangan jual SDA mentah dengan narasi lama, “kami punya lahan luas, laut luas”. Investor China sudah hafal itu.

Pemda harus ganti narasi:

Jangan bilang, “kami punya kakao”. Tetapi sampaikan, “kami punya pabrik cokelat premium fermentasi 7 hari di Parigi, siap joint venture dan sudah punya pasar di Jepang.”

Jangan bilang, “kami punya wisata indah”. Bilanglah, “kami punya tiga desa adat Kaili siap menerima tamu dengan paket Nosimpoasi (saling menghargai), homestay sudah bersertifikat, dan pemandu bisa berbahasa Mandarin.”

Untuk itu, saya usul tiga langkah konkret:

  1. Bentuk Satgas Ekspor Sulteng-Guangzhou yang isinya bukan hanya pejabat, tetapi petani durian yang sudah ekspor, pengusaha tenun, dan diaspora Sulteng yang berdagang di Guangzhou.

  2. Buat Kurikulum Vokasi Mandarin dan Standar Produk. SMK di Palu, Poso, dan Luwuk harus membuka kelas Mandarin pariwisata dan pengolahan hasil. Bantu UMKM mengurus sertifikat karantina China (GACC).

  3. Atur agar penerbangan ini wajib mengangkut produk Sulteng. Setiap penerbangan Guangzhou-Palu pulang-pergi harus ada kuota kargo untuk UMKM, jangan hanya penuh barang impor.

Akhirnya, filosofi Mosangu Morambanga Mombangu Ngata — bersama membangun daerah — harus menjadi kerja nyata. Pemerintah, pengusaha, adat, petani, dan anak muda harus duduk satu meja.

Rute Guangzhou-Palu ini seperti pisau bermata dua. Di tangan yang siap dengan Otak, Otot, dan Hati, ia bisa menjadi pisau yang mengiris kue kemakmuran untuk rakyat. Di tangan yang tidak siap, ia bisa melukai kita sendiri dengan banjir produk impor dan hanya menjadi penonton di tanah sendiri.

Sekarang waktunya kita jawab pertanyaan Pak Suaib: Nuapa Rakenita? Apa yang kita bawa? Jawabannya harus: produk olahan, bukan bahan mentah. Baru kita bisa bangga menjawab Nuapa Rakavata: yang kita dapat adalah kesejahteraan, bukan hanya keramaian bandara.