MAL – Tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu ancaman kesehatan terbesar di Indonesia. Meski dapat dicegah dan disembuhkan, penyakit yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis ini masih menimbulkan ratusan ribu kasus baru dan puluhan ribu kematian setiap tahun. Tantangan terbesar bukan hanya pengobatan, tetapi juga banyaknya kasus yang belum terdeteksi sehingga penularan terus berlangsung di masyarakat.
TBC paling sering menyerang paru-paru, namun penyakit ini juga dapat menyerang organ lain seperti kelenjar getah bening, tulang, ginjal, otak, dan selaput otak. Karena gejalanya sering dianggap sebagai penyakit biasa, banyak pasien baru memeriksakan diri setelah kondisi memburuk.
Kementerian Kesehatan menyatakan TBC masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia. Kondisi tersebut tercermin dari tingginya jumlah kasus dan masih lebarnya kesenjangan antara perkiraan jumlah penderita dengan kasus yang berhasil ditemukan dan diobati.
Indonesia Masih Menanggung Beban TBC Tertinggi Kedua di Dunia
Indonesia berada di posisi kedua dunia dalam beban kasus TBC setelah India.
Menurut data Global Tuberculosis Report 2024 yang dikutip Kementerian Kesehatan, Indonesia diperkirakan memiliki sekitar 1.090.000 kasus TBC dan sekitar 125.000 kematian setiap tahun.
Pada 2024, sekitar 885.000 kasus berhasil ditemukan atau tercatat, yang terdiri dari sekitar 496.000 kasus pada laki-laki, 359.000 kasus pada perempuan, dan sekitar 135.000 kasus pada anak usia 0–14 tahun.
Sementara itu, World Health Organization (WHO) memperkirakan terdapat 10,7 juta orang yang jatuh sakit akibat TBC di seluruh dunia pada 2024 dengan sekitar 1,23 juta kematian.
WHO juga mencatat Indonesia menyumbang sekitar 10 persen dari total perkiraan kasus TBC global dan termasuk negara dengan kesenjangan besar antara jumlah kasus yang diperkirakan dan kasus yang berhasil didiagnosis serta dilaporkan.
Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus mengatakan, “Kasus TB di Indonesia masih tergolong tinggi, dengan estimasi 1.090.000 kasus, dan tahun lalu, 867.000 di antaranya telah diobati. Ini berarti ada sekitar 300.000 kasus yang belum ditemukan.”
Batuk Berkepanjangan Bukan Gejala yang Boleh Diabaikan
Salah satu alasan TBC masih sulit dikendalikan adalah karena gejalanya kerap dianggap sebagai batuk biasa atau gangguan pernapasan ringan.
Padahal, batuk merupakan gejala utama yang perlu mendapat perhatian, terutama jika berlangsung terus-menerus atau disertai keluhan lain.
Gejala TBC yang perlu diwaspadai meliputi:
-
Batuk yang berlangsung terus-menerus
-
Batuk berdahak
-
Batuk berdarah
-
Demam atau demam ringan yang menetap
-
Berkeringat pada malam hari tanpa aktivitas berat
-
Berat badan turun tanpa sebab yang jelas
-
Nafsu makan menurun
-
Nyeri dada
-
Sesak napas
-
Mudah lelah dan tubuh terasa lemas
Pada sebagian pasien, gejala tidak selalu muncul secara lengkap. Karena itu, seseorang yang mengalami gejala menetap atau memiliki riwayat kontak erat dengan pasien TBC dianjurkan memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Mengapa TBC Masih Sulit Ditekan?
Penularan TBC terjadi melalui udara ketika penderita TBC aktif mengeluarkan bakteri saat batuk, bersin, berbicara, atau bernyanyi.
Risiko penularan meningkat pada ruangan tertutup, padat, dan memiliki ventilasi yang buruk.
Selain faktor penularan, terdapat sejumlah persoalan yang membuat TBC tetap menjadi ancaman kesehatan masyarakat, antara lain:
-
Banyak pasien belum terdiagnosis
-
Gejala sering dianggap sebagai penyakit biasa
-
Stigma membuat penderita enggan memeriksakan diri
-
Pengobatan berlangsung berbulan-bulan
-
Sebagian pasien menghentikan obat sebelum waktunya
-
Munculnya TBC resistan obat
-
Kepadatan hunian dan ventilasi yang buruk
-
Kemiskinan dan malnutrisi
-
Penyakit penyerta seperti HIV dan diabetes
WHO dalam Global Tuberculosis Report 2025 menyatakan bahwa TBC masih menjadi masalah kesehatan masyarakat global yang besar dan kemajuan penanganannya masih jauh dari target 2030 di banyak negara.
Kelompok yang Memiliki Risiko Lebih Tinggi
Tidak semua orang memiliki risiko yang sama terhadap TBC.
Kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih antara lain:
-
Orang yang tinggal serumah dengan pasien TBC
-
Orang dengan HIV
-
Penyandang diabetes
-
Anak-anak
-
Lansia
-
Orang dengan gizi buruk
-
Perokok
-
Pengguna obat penekan sistem kekebalan tubuh
-
Warga yang tinggal di hunian padat dan ventilasi buruk
-
Orang yang pernah menjalani pengobatan TBC tetapi tidak tuntas
Pada kelompok tersebut, infeksi dapat lebih mudah berkembang menjadi penyakit aktif.
Diagnosis Tidak Cukup Hanya Berdasarkan Batuk
TBC tidak dapat ditegakkan hanya dari satu gejala.
Diagnosis dilakukan melalui kombinasi wawancara medis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan dahak, tes molekuler cepat, kultur bakteri, foto rontgen dada, hingga pemeriksaan lain sesuai kondisi pasien.
Foto rontgen dapat membantu menemukan kelainan pada paru, tetapi pemeriksaan bakteriologis atau molekuler tetap diperlukan sesuai penilaian tenaga kesehatan.
Karena itu, masyarakat tidak dianjurkan mengonsumsi obat TBC tanpa pemeriksaan dan diagnosis yang tepat.
Mengapa Obat TBC Tidak Boleh Dihentikan di Tengah Jalan?
TBC termasuk penyakit yang dapat disembuhkan apabila pengobatan dijalani sesuai standar.
Regimen yang paling luas digunakan berlangsung sekitar enam bulan dengan kombinasi beberapa obat antituberkulosis.
Pasien harus meminum obat sesuai dosis dan jadwal yang ditentukan tenaga kesehatan.
Menghentikan pengobatan sebelum waktunya dapat menyebabkan:
-
Penyakit kambuh
-
Risiko penularan lebih lama
-
Komplikasi yang lebih berat
-
Bakteri menjadi lebih sulit dibunuh
-
Meningkatnya risiko TBC resistan obat
TBC resistan obat memerlukan pengobatan yang lebih kompleks, pemantauan lebih intensif, serta durasi terapi yang berbeda dibandingkan TBC sensitif obat.
Target Eliminasi TBC 2030 Masih Menjadi Tantangan
Pemerintah Indonesia menargetkan eliminasi TBC pada 2030 melalui Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis.
Strategi yang ditempuh mencakup penemuan kasus aktif, pelacakan kontak erat, pengobatan berkualitas, pengobatan pencegahan TBC, pengendalian penularan, peningkatan kualitas data, serta pengurangan stigma.
Namun hingga 27 Juli 2026, capaian notifikasi kasus TBC disebut baru sekitar 41 persen. Angka tersebut menunjukkan masih adanya kesenjangan antara perkiraan jumlah penderita dengan kasus yang berhasil ditemukan dalam sistem layanan kesehatan.
Benjamin Paulus Octavianus menyebut, “Tuberkulosis masih menjadi tantangan besar.”
Deteksi Dini Menjadi Kunci Memutus Penularan
Deteksi dini menjadi langkah penting untuk mencegah komplikasi sekaligus memutus rantai penularan.
Masyarakat yang mengalami gejala TBC atau memiliki kontak erat dengan pasien dianjurkan segera memeriksakan diri ke puskesmas, klinik, atau rumah sakit.
Informasi mengenai gejala, riwayat kontak, penyakit penyerta, serta hasil pemeriksaan akan membantu tenaga kesehatan menentukan langkah diagnosis dan pengobatan yang tepat.
TBC dapat disembuhkan. Namun keberhasilan pengobatan sangat bergantung pada diagnosis yang cepat, kepatuhan minum obat, dukungan keluarga, serta akses terhadap layanan kesehatan yang memadai.
