MAL – Polusi udara tidak hanya memicu batuk, iritasi tenggorokan, atau sesak napas dalam jangka pendek. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa paparan jangka panjang terhadap polusi udara, terutama partikel halus PM2.5, berkaitan dengan penurunan fungsi paru yang lebih cepat sehingga memunculkan istilah “penuaan paru-paru”.
Namun, istilah tersebut tidak berarti paru-paru seseorang tiba-tiba bertambah usia secara biologis. Dalam dunia kesehatan, penuaan paru-paru merujuk pada penurunan fungsi paru yang lebih cepat atau lebih besar dibandingkan penurunan normal yang terjadi seiring pertambahan usia.
Penelitian epidemiologi selama beberapa dekade menunjukkan bahwa paparan polusi udara berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), asma, infeksi saluran pernapasan, kanker paru, hingga kematian akibat penyakit pernapasan dan kardiovaskular.
Mengapa PM2.5 Menjadi Sorotan?
PM2.5 adalah partikel halus dengan diameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Ukurannya yang sangat kecil membuat partikel ini mampu menembus jauh ke dalam sistem pernapasan hingga mencapai alveolus, yakni kantong udara tempat pertukaran oksigen dan karbon dioksida berlangsung.
Sumber PM2.5 berasal dari berbagai aktivitas, antara lain:
• Emisi kendaraan bermotor
• Pembakaran batu bara
• Aktivitas industri
• Pembakaran sampah
• Kebakaran hutan dan lahan
• Pembakaran biomassa
• Asap rokok
• Kompor berbahan bakar padat
• Debu jalan dan partikel sekunder di atmosfer
Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof. Dr. R. Budi Haryanto, mengatakan dampak polusi udara terhadap paru-paru dipengaruhi oleh jenis dan jumlah polutan yang masuk ke tubuh.
“Dampak polusi udara terhadap paru-paru baik itu terhadap anak maupun remaja, dewasa maupun pada lansia itu tergantung pada jenis dan jumlah polutan yang masuk ke tubuh melalui pernapasan,” kata Budi Haryanto.
Ia menjelaskan bahwa PM2.5 memiliki kemampuan menembus sistem pernapasan hingga masuk ke peredaran darah.
“PM2.5 dapat masuk dari paru-paru ke aliran darah, kemudian menyebar ke jantung dan beredar ke seluruh tubuh,” ujarnya.
Penurunan Fungsi Paru Setara Dua Tahun Penuaan
Salah satu penelitian yang banyak menjadi rujukan dilakukan menggunakan data UK Biobank terhadap lebih dari 300.000 peserta berusia sekitar 40–69 tahun.
Penelitian tersebut menemukan bahwa setiap kenaikan rata-rata tahunan PM2.5 sebesar 5 mikrogram per meter kubik berkaitan dengan penurunan fungsi paru yang diperkirakan setara dengan sekitar dua tahun penurunan fungsi paru normal akibat penuaan.
Temuan lain menunjukkan bahwa kenaikan PM2.5 sebesar 5 mikrogram per meter kubik berkaitan dengan:
• Penurunan FEV1 sekitar 83,13 mililiter
• Penurunan FVC sekitar 62,62 mililiter
• Peningkatan odds PPOK sekitar 1,52 kali
FEV1 merupakan volume udara yang dapat diembuskan seseorang dalam satu detik, sedangkan FVC adalah volume udara total yang dapat dikeluarkan secara paksa setelah menarik napas penuh.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa hasil tersebut menunjukkan hubungan statistik atau asosiasi. Temuan itu tidak dapat diartikan bahwa setiap orang yang terpapar polusi udara pasti mengalami PPOK.
Bagaimana Polusi Merusak Paru-Paru?
Paparan polusi udara dalam jangka panjang dapat memicu berbagai proses biologis yang mengganggu fungsi paru.
Pertama, partikel halus memicu inflamasi atau peradangan pada saluran napas. Jika berlangsung terus-menerus, peradangan dapat menyebabkan penyempitan saluran napas dan menurunkan kemampuan paru menjalankan fungsinya.
Kedua, polutan meningkatkan stres oksidatif yang dapat merusak sel dan jaringan paru.
Ketiga, paparan berulang dapat mengganggu alveolus sehingga proses pertukaran oksigen menjadi kurang efisien.
Keempat, kerusakan jaringan paru dapat mengurangi elastisitas paru sehingga udara lebih sulit keluar saat bernapas.
“Terus bronkitis, gangguan fungsi paru itu terutama kalau sudah long term, terus kemudian ini akan meningkat menjadi penyakit-penyakit paru yang PPOK ya,” kata Budi Haryanto.
Anak-Anak dan Lansia Menjadi Kelompok Rentan
Risiko dampak kesehatan akibat polusi udara tidak sama pada setiap orang.
Kelompok yang dinilai paling rentan meliputi:
• Anak-anak
• Lansia
• Penderita asma
• Penderita PPOK
• Pasien penyakit jantung
• Penderita diabetes
• Perokok aktif dan pasif
• Ibu hamil
• Pekerja konstruksi, tambang, dan industri
• Masyarakat yang tinggal dekat jalan raya atau kawasan industri
Pada anak-anak, risiko menjadi perhatian khusus karena paru-paru masih berada dalam fase pertumbuhan. Paparan polusi dapat menghambat pencapaian kapasitas paru yang optimal dan dampaknya dapat terbawa hingga dewasa.
Kualitas Udara dan Temuan Pemantauan di Indonesia
Pemantauan PM2.5 nasional yang dilakukan BMKG pada periode 26 Februari hingga 1 Maret 2026 mencatat 2.830 pembacaan valid dari 27 lokasi.
Hasil pemantauan menunjukkan:
• Rata-rata PM2.5 sebesar 17,1 mikrogram per meter kubik
• Median 12,2 mikrogram per meter kubik
• Sebanyak 113 pembacaan atau sekitar 4 persen melampaui ambang batas tidak sehat yang digunakan dalam laporan tersebut
• Nilai maksimum mencapai 139,5 mikrogram per meter kubik
Data tersebut merupakan hasil pemantauan pada periode tertentu dan tidak dapat digunakan untuk menggambarkan kualitas udara seluruh Indonesia pada 9 Agustus 2026.
Perbedaan Standar WHO dan Indonesia
Pada 2021, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperketat pedoman kualitas udara global.
WHO merekomendasikan rata-rata tahunan PM2.5 tidak lebih dari 5 mikrogram per meter kubik dan rata-rata harian tidak lebih dari 15 mikrogram per meter kubik.
Sementara itu, Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 menetapkan baku mutu udara ambien PM2.5 sebesar 15 mikrogram per meter kubik untuk rata-rata tahunan dan 55 mikrogram per meter kubik untuk rata-rata 24 jam.
Perbedaan tersebut penting dipahami karena pedoman WHO merupakan rekomendasi berbasis kesehatan, sedangkan baku mutu Indonesia merupakan standar yang berlaku dalam regulasi nasional.
Kapan Harus Memeriksakan Diri?
Paparan polusi udara dapat menimbulkan berbagai keluhan seperti batuk, tenggorokan perih, hidung tersumbat, mata iritasi, sesak napas, mengi, sakit kepala, dan mudah lelah.
Pemeriksaan medis perlu dipertimbangkan apabila muncul kondisi berikut:
• Sesak napas yang baru muncul atau semakin berat
• Nyeri dada
• Batuk berdarah
• Bibir atau ujung jari membiru
• Mengi berat
• Penurunan kemampuan beraktivitas
• Demam dan batuk yang tidak membaik
• Serangan asma yang tidak membaik dengan obat sesuai resep
Dokter dapat melakukan pemeriksaan fungsi paru melalui spirometri, oksimetri, rontgen dada, CT scan pada kondisi tertentu, maupun pemeriksaan lain sesuai kebutuhan klinis.
Mengurangi Paparan dan Mengendalikan Sumber Emisi
Perlindungan individu dapat dilakukan dengan memantau kualitas udara, mengurangi aktivitas luar ruang saat polusi tinggi, menghindari pembakaran sampah, serta menggunakan masker respirator seperti N95 atau KN95 ketika diperlukan.
Namun, langkah paling efektif dalam jangka panjang tetap berasal dari pengendalian sumber pencemaran, termasuk pengurangan emisi kendaraan, pengawasan emisi industri, pencegahan kebakaran hutan dan lahan, penguatan transportasi umum, serta penegakan aturan lingkungan.
Bukti ilmiah yang ada menunjukkan bahwa polusi udara berkaitan dengan percepatan penurunan fungsi paru dan peningkatan risiko penyakit paru kronis. Meski tidak semua orang akan mengalami dampak yang sama, kualitas udara yang lebih baik tetap menjadi faktor penting untuk menjaga kesehatan paru-paru sepanjang hidup.
