MAL – Pertanyaan tentang kemungkinan asteroid menabrak Bumi kerap muncul setiap kali ada kabar benda langit melintas dekat planet ini.
Secara ilmiah, jawabannya adalah ya, asteroid bisa menabrak Bumi. Peristiwa seperti itu bahkan telah terjadi berulang kali sepanjang sejarah planet. Namun hingga 9 Agustus 2026, tidak ada asteroid yang diketahui memiliki ancaman tumbukan signifikan terhadap Bumi dalam 100 tahun ke depan atau lebih.
Meski demikian, para astronom menegaskan bahwa kondisi aman saat ini bukan berarti risiko tersebut benar-benar nol. Pemantauan terus dilakukan karena masih ada objek yang belum ditemukan dan data orbit asteroid dapat berubah seiring bertambahnya pengamatan.
Mengapa Asteroid Bisa Menabrak Bumi?
Asteroid adalah benda langit berbatu atau logam yang mengorbit Matahari. Sebagian asteroid memiliki lintasan yang mendekati atau memotong orbit Bumi. Kelompok ini dikenal sebagai Near-Earth Object (NEO) atau objek dekat Bumi.
Sebuah asteroid tidak otomatis menabrak Bumi hanya karena orbitnya berpotongan dengan orbit planet ini. Tumbukan baru terjadi jika asteroid dan Bumi berada pada titik perpotongan yang sama pada waktu yang sama.
Perubahan kecil pada orbit asteroid dapat terjadi akibat berbagai faktor, antara lain:
Gravitasi planet
Resonansi orbital
Tabrakan dengan objek lain
Efek termal akibat pemanasan Matahari
Efek Yarkovsky, yaitu dorongan kecil yang muncul ketika asteroid menyerap dan memancarkan kembali panas Matahari
Dalam jangka waktu puluhan hingga ratusan tahun, perubahan kecil tersebut dapat menghasilkan pergeseran posisi yang sangat besar.
Seberapa Sering Asteroid Menabrak Bumi?
Risiko tumbukan sangat bergantung pada ukuran asteroid.
Objek berukuran sekitar 10 meter diperkirakan memasuki atmosfer Bumi sekitar satu kali dalam satu dekade. Sebagian besar terbakar atau pecah sebelum mencapai permukaan.
Semakin besar ukuran asteroid, semakin jarang kejadiannya, tetapi dampaknya juga semakin besar.
Berikut gambaran umum tingkat ancamannya:
| Ukuran Objek | Dampak Potensial |
|---|---|
| 10 meter | Ledakan udara dan kerusakan lokal |
| 20 meter | Kerusakan signifikan pada wilayah tertentu |
| 50 meter | Kerusakan regional serius |
| 140 meter | Kerusakan regional sangat luas |
| 1 kilometer | Dampak lingkungan dan iklim global |
| 10 kilometer | Berpotensi memicu perubahan iklim global dan kepunahan massal |
Objek berukuran sekitar 140 meter diperkirakan menabrak Bumi sekitar sekali dalam 1.000 tahun. Sementara asteroid berdiameter sekitar 1 kilometer diperkirakan menghantam Bumi dalam interval sekitar 600.000 hingga 700.000 tahun atau lebih.
Tumbukan Asteroid Pernah Mengubah Sejarah Bumi
Salah satu peristiwa tumbukan paling terkenal terjadi sekitar 66 juta tahun lalu.
Peristiwa tersebut dikaitkan dengan asteroid berukuran sekitar 10 kilometer yang membentuk Kawah Chicxulub di wilayah yang kini berada di sekitar Semenanjung Yucatán, Meksiko.
Tumbukan itu diyakini berkontribusi terhadap kepunahan dinosaurus non-unggas serta banyak spesies lain dan menjadi salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah kehidupan di Bumi.
Bagaimana NASA Menghitung Ancaman Asteroid?
Pemantauan asteroid dilakukan oleh berbagai lembaga dan jaringan observatorium internasional, termasuk:
NASA melalui Center for Near-Earth Object Studies (CNEOS)
Jet Propulsion Laboratory (JPL)
Planetary Defense Coordination Office NASA
International Astronomical Union
Minor Planet Center
Teleskop antariksa dan observatorium darat di berbagai negara
Ilmuwan mengamati posisi asteroid dari waktu ke waktu untuk menghitung orbitnya. Setelah itu dilakukan simulasi lintasan masa depan guna mengetahui apakah ada kemungkinan tumbukan dengan Bumi.
NASA menggunakan sistem bernama Sentry untuk memindai katalog asteroid dan mendeteksi kemungkinan tumbukan hingga sekitar 100 tahun ke depan.
Karena data terus diperbarui, probabilitas tumbukan sebuah asteroid dapat naik atau turun seiring bertambahnya pengamatan.
Mengapa Asteroid yang Sempat Berbahaya Bisa Dinyatakan Aman?
Salah satu contoh paling terkenal adalah asteroid Apophis.
Asteroid berdiameter sekitar 340 meter itu sempat dianggap memiliki peluang kecil menabrak Bumi pada masa depan, termasuk kemungkinan pada tahun 2068.
Namun setelah pengamatan radar dan analisis orbit yang lebih presisi, NASA menyimpulkan risiko tersebut tidak lagi ada.
“Dampak pada 2068 tidak lagi masuk dalam ranah kemungkinan, dan perhitungan kami tidak menunjukkan risiko tumbukan setidaknya selama 100 tahun ke depan,” kata ilmuwan CNEOS NASA/JPL, Davide Farnocchia.
Kasus serupa juga terjadi pada asteroid 2024 YR4. Berdasarkan pengamatan awal, objek ini sempat memiliki peluang lebih dari 1 persen untuk menabrak Bumi pada 22 Desember 2032.
Setelah data tambahan dikumpulkan, termasuk melalui Teleskop James Webb, asteroid tersebut tidak lagi dianggap memiliki risiko signifikan terhadap Bumi.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa angka risiko awal bukanlah keputusan akhir. Probabilitas dapat berubah setelah orbit asteroid dipahami dengan lebih akurat.
Status Terbaru Pemantauan Asteroid pada 2026
Hingga 9 Agustus 2026, posisi resmi NASA/JPL tetap menyatakan bahwa tidak ada ancaman tumbukan signifikan yang diketahui terhadap Bumi dalam satu abad mendatang.
Manajer CNEOS NASA/JPL, Paul Chodas, mengatakan, “Tidak satu pun objek yang diketahui memiliki peluang kredibel untuk menghantam planet kita dalam satu abad ke depan.”
Senada dengan itu, pejabat Planetary Defense Coordination Office NASA, Lindley Johnson, menegaskan bahwa tidak ada asteroid yang diketahui memiliki risiko signifikan untuk menabrak Bumi dalam 100 tahun ke depan.
Pernyataan tersebut merujuk pada objek yang telah ditemukan dan orbitnya telah dihitung secara ilmiah. Karena itu, pemantauan tetap diperlukan untuk menemukan objek baru yang belum terdeteksi.
DART dan Upaya Manusia Membelokkan Asteroid
Selain memantau, manusia juga mulai mengembangkan kemampuan untuk mengurangi risiko tumbukan asteroid.
Tonggak penting terjadi pada 26 September 2022 ketika NASA menjalankan misi Double Asteroid Redirection Test (DART).
Dalam misi ini, wahana antariksa sengaja ditabrakkan ke Dimorphos, satelit kecil dari asteroid Didymos.
Hasil pengamatan menunjukkan periode orbit Dimorphos berubah sekitar 32 menit. Pengukuran lanjutan kemudian memperbaiki estimasi perubahan menjadi sekitar 33,24 menit.
Keberhasilan tersebut menjadi bukti pertama bahwa manusia mampu mengubah orbit benda langit secara sengaja.
Meski demikian, DART tidak berarti semua asteroid dapat dihentikan dengan cara yang sama. Keberhasilannya tetap bergantung pada ukuran, komposisi, struktur asteroid, serta waktu peringatan yang tersedia sebelum kemungkinan tumbukan.
Bumi Relatif Aman, Tetapi Pemantauan Tidak Boleh Berhenti
Ancaman asteroid merupakan risiko nyata yang pernah membentuk sejarah Bumi dan secara teoritis dapat terjadi kembali di masa depan.
Namun berdasarkan seluruh objek yang telah diketahui dan dipantau hingga saat ini, tidak ada asteroid yang diketahui memiliki ancaman tumbukan signifikan terhadap Bumi dalam 100 tahun ke depan atau lebih.
Karena masih ada objek yang belum ditemukan dan probabilitas dapat berubah seiring bertambahnya data, para ilmuwan menekankan pentingnya pemantauan berkelanjutan. Risiko asteroid perlu dipahami melalui data dan perhitungan ilmiah, bukan melalui spekulasi atau kepanikan.
