MASJID tidak pernah kekurangan bangunan megah. Yang sering kurang justru denyut kehidupan di dalamnya. Salah satu tandanya adalah Remaja Islam Masjid (RISMA) yang hanya muncul ketika Ramadan, kemudian kembali menghilang setelah gema takbir usai. Padahal, jika generasi muda tidak tumbuh bersama masjid, maka masjid sedang kehilangan masa depannya.

Banyak pengurus masjid berharap anak muda datang dengan sendirinya. Namun, harapan itu sering tidak dibarengi dengan ruang untuk mereka berkembang. Pemuda diundang saat tenaga mereka dibutuhkan, tetapi jarang diajak ketika keputusan penting diambil. Akibatnya, mereka merasa sekadar pelaksana, bukan bagian dari perjalanan masjid.

Langkah pertama menghidupkan RISMA adalah mengubah cara pandang. RISMA bukan seksi acara dan bukan pula panitia abadi. RISMA adalah wadah kaderisasi. Tugas utamanya bukan membuat panggung atau memasang spanduk, melainkan menyiapkan generasi yang kelak mampu menjadi imam, khatib, guru mengaji, pengurus masjid, bahkan pemimpin masyarakat.

Karena itu, setiap RISMA harus memiliki program primer yang berlangsung sepanjang tahun. Program itu tidak perlu mahal atau rumit. Salat Subuh berjamaah setiap pekan, halaqah Al-Qur’an, kelas tahsin, diskusi keislaman, olahraga bersama, bakti sosial, membersihkan lingkungan masjid, hingga kunjungan kepada anggota yang sakit merupakan aktivitas sederhana yang justru membangun rasa memiliki terhadap masjid. Organisasi bertahan bukan karena acara besar, melainkan karena rutinitas yang konsisten.

RISMA juga perlu diberi kepercayaan mengelola bidang-bidang tertentu. Misalnya media sosial masjid, perpustakaan, pelayanan jamaah, dokumentasi kegiatan, atau program kepemudaan. Ketika anak muda dipercaya memegang tanggung jawab nyata, mereka belajar memimpin sekaligus merasa bahwa kehadiran mereka memang dibutuhkan.

Di sisi lain, pengurus masjid yang lebih senior perlu mengubah peran. Dari yang semula mengendalikan semua keputusan menjadi pembimbing bagi generasi muda. Seorang mentor tidak selalu memberikan jawaban, tetapi membuka ruang bagi anak muda untuk mencoba, belajar dari kesalahan, dan memperbaiki diri. Kesalahan kecil dalam proses kaderisasi jauh lebih baik daripada tidak adanya kader sama sekali.

Anak muda pun harus memahami bahwa perubahan tidak selalu datang melalui kritik. Banyak gagasan baik gagal diwujudkan karena disampaikan tanpa adab dan kesabaran. Menghormati pengalaman para senior bukan berarti kehilangan kreativitas. Justru dari dialog antargenerasi itulah lahir inovasi yang tetap berakar pada nilai-nilai Islam.

Yang tak kalah penting, RISMA harus hadir menjawab kebutuhan pemuda hari ini. Kajian tetap penting, tetapi bisa dipadukan dengan pelatihan kepemimpinan, literasi digital, kewirausahaan, olahraga sunnah, diskusi kesehatan mental, pendampingan pelajar, hingga aksi sosial. Masjid tidak boleh hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang tumbuh yang membuat anak muda betah datang, belajar, berkarya, dan melayani.

Rasulullah SAW memberikan kepercayaan besar kepada para pemuda. Banyak sahabat yang masih berusia muda diberi amanah memimpin pasukan, menjadi penulis wahyu, hingga memegang tanggung jawab penting dalam dakwah. Itu menunjukkan bahwa Islam tidak menunggu seseorang menjadi tua untuk diberi kesempatan mengabdi.

Menghidupkan RISMA pada akhirnya bukan sekadar tugas para remaja. Ini adalah tanggung jawab seluruh pengurus dan jamaah masjid. Ketika para senior bersedia membimbing tanpa mendominasi, dan para pemuda mau belajar tanpa merasa paling tahu, masjid akan kembali menjadi rumah bagi semua generasi. Saat itulah RISMA tidak lagi dikenal sebagai panitia Ramadan, melainkan sebagai jantung yang menjaga masjid tetap hidup sepanjang tahun.