Hari Anak Nasional bukan sekadar perayaan. Ia adalah momentum untuk bertanya, sudahkah kita benar-benar memuliakan anak, atau hanya merayakannya setahun sekali?
Dalam Islam, anak adalah amanah Allah, bukan sekadar kebanggaan keluarga atau investasi masa depan. Allah SWT berfirman, “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6). Ayat ini menegaskan bahwa mendidik anak bukan hanya memenuhi kebutuhan hidupnya, tetapi juga menjaga iman, akhlak, dan masa depannya.
Hari ini, anak-anak menghadapi tantangan yang tidak ringan. Dunia digital membuka pintu ilmu, tetapi juga menghadirkan banjir informasi, kecanduan gawai, dan krisis keteladanan. Ironisnya, kita sering lebih sibuk mengejar nilai, ranking, dan prestasi, daripada membentuk kejujuran, empati, dan kecintaan kepada Allah.
Rasulullah SAW menunjukkan jalan yang berbeda. Beliau mendidik dengan kasih sayang, keteladanan, dan penghormatan kepada anak. Pendidikan yang baik tidak dimulai dengan tekanan, tetapi dengan cinta. Sebab, akhlak akan selalu lebih bernilai daripada sekadar angka.
Karena itu, Hari Anak Nasional semestinya menjadi pengingat untuk menghadirkan rumah yang menenangkan, sekolah yang ramah, dan lingkungan yang menjaga fitrah anak. Mereka tidak membutuhkan orang dewasa yang sempurna, tetapi orang dewasa yang hadir, mendengar, dan membimbing.
Pada akhirnya, masa depan bangsa tidak ditentukan oleh gedung-gedung yang menjulang, melainkan oleh anak-anak yang hari ini tumbuh dengan iman, ilmu, dan akhlak. Sebab, mereka bukan hanya generasi penerus. Mereka adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
