Belakangan ini, manusia seolah dihadapkan pada rangkaian peristiwa alam yang datang silih berganti. Gempa bumi mengguncang berbagai wilayah, gunung-gunung berapi menunjukkan aktivitas yang meningkat, banjir menerjang daerah yang sebelumnya aman, sementara di tempat lain kemarau panjang menyebabkan sungai dan waduk mengering.

Di berbagai belahan dunia, bencana alam tidak lagi menjadi peristiwa yang jarang terjadi. Dalam hitungan hari atau bahkan jam, kabar tentang gempa, erupsi, kekeringan, kebakaran hutan, hingga badai besar dapat muncul dari berbagai negara.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan yang sama di benak banyak orang: apakah dunia memang sedang menuju akhir perjalanannya?

Dalam pandangan Islam, alam semesta memiliki umur sebagaimana manusia. Ia diciptakan oleh Allah SWT dan pada waktunya akan berakhir. Al-Qur’an mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah fase sementara sebelum manusia memasuki kehidupan yang kekal.

Allah SWT berfirman: “Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.” (QS. Ali Imran: 185)

Ayat ini bukan hanya berbicara tentang manusia, tetapi juga mengingatkan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia tidak akan abadi.

Fenomena alam yang semakin ekstrem juga telah diisyaratkan oleh Rasulullah SAW sebagai bagian dari tanda-tanda menjelang hari kiamat. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak akan terjadi hari kiamat hingga ilmu diangkat, kebodohan merajalela, banyak terjadi gempa bumi, waktu terasa semakin singkat, dan muncul berbagai fitnah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menarik untuk direnungkan. Salah satu tanda yang disebutkan secara langsung adalah semakin banyaknya gempa bumi. Di masa Rasulullah SAW, gempa bukanlah peristiwa yang sering dicatat. Namun pada era modern, aktivitas seismik menjadi bagian dari kehidupan manusia yang hampir setiap hari terdengar melalui laporan berbagai lembaga pemantau bencana.

Selain gempa, perubahan iklim global juga menyebabkan musim menjadi sulit diprediksi. Kemarau berkepanjangan membuat sumber-sumber air menyusut, lahan pertanian mengalami kekeringan, dan sebagian masyarakat kesulitan mendapatkan air bersih. Di sisi lain, hujan yang turun dalam waktu singkat justru memicu banjir dan tanah longsor.

Islam mengajarkan bahwa bencana tidak selalu dipahami sebagai hukuman. Sebagian merupakan ujian keimanan, sebagian lagi merupakan peringatan agar manusia kembali mengingat Allah SWT.

Allah SWT berfirman: “Dan sungguh, Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Ayat ini mengajarkan bahwa ujian merupakan bagian dari kehidupan. Ketika bencana datang, seorang mukmin tidak hanya sibuk mencari penyebab materialnya, tetapi juga melakukan introspeksi diri dan memperbanyak amal saleh.

Di sisi lain, Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa kerusakan yang terjadi di bumi tidak lepas dari ulah manusia sendiri.

Allah SWT berfirman: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (QS. Ar-Rum: 41)

Ayat ini sangat relevan dengan kondisi saat ini. Penebangan hutan secara berlebihan, pencemaran sungai, eksploitasi sumber daya alam tanpa memperhatikan keseimbangan lingkungan, hingga emisi gas rumah kaca yang memicu pemanasan global merupakan contoh bagaimana manusia berkontribusi terhadap kerusakan alam.

Karena itu, fenomena dunia yang semakin tua hendaknya tidak hanya menjadi bahan diskusi atau perdebatan. Ia harus menjadi pengingat bahwa manusia memiliki tanggung jawab sebagai khalifah di muka bumi.

Menjaga lingkungan, mengurangi kerusakan, memperbanyak istighfar, meningkatkan kepedulian sosial, serta memperkuat hubungan dengan Allah SWT adalah bagian dari ikhtiar yang harus dilakukan.

Ketika gunung meletus, sungai mengering, tanah berguncang, dan cuaca semakin sulit ditebak, seorang muslim tidak tenggelam dalam ketakutan. Ia justru semakin menyadari betapa kecil dirinya di hadapan kekuasaan Allah SWT.

Dunia memang sedang menua. Namun bagi orang beriman, setiap tanda yang tampak di alam semesta adalah pengingat untuk memperbaiki diri, memperkuat iman, dan mempersiapkan bekal menuju kehidupan yang abadi. Wallahu a’lam

Rifay (Redaktur Media Alkhairaat)