GAGASAN mendirikan Universitas Republik Indonesia (URI) sekilas terdengar menarik. Nama “Republik Indonesia” memberi kesan megah, nasionalis, dan seolah menawarkan sesuatu yang baru bagi dunia pendidikan tinggi. Namun, di balik kemasan tersebut, muncul pertanyaan mendasar: apakah Indonesia benar-benar membutuhkan universitas baru, atau justru membutuhkan pembenahan serius terhadap universitas yang sudah ada?
Masalah utama pendidikan tinggi Indonesia bukan kekurangan nama universitas. Indonesia telah memiliki ribuan perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta. Persoalan yang belum selesai justru menyangkut kualitas dosen, budaya riset yang lemah, keterbatasan pendanaan penelitian, ketimpangan akses pendidikan di daerah, hingga rendahnya hilirisasi hasil riset. Menambah satu institusi baru tidak otomatis menyelesaikan akar persoalan tersebut.
Di sinilah gagasan URI berpotensi menjadi simbol yang lebih menonjol daripada substansi. Negara sering kali tergoda membangun institusi baru karena lebih mudah dipasarkan secara politik dibanding memperbaiki institusi lama yang membutuhkan kerja panjang, reformasi birokrasi, dan keberanian menghadapi kepentingan yang sudah mengakar. Akibatnya, energi dan anggaran bisa tersedot untuk membangun “etalase baru”, sementara fondasi rumah lama masih rapuh.
Nama “Universitas Republik Indonesia” juga memunculkan persoalan simbolik. Kata “Republik Indonesia” merupakan identitas seluruh bangsa, sehingga penggunaan nama tersebut berpotensi menimbulkan kesan bahwa universitas ini memiliki kedudukan yang lebih tinggi atau lebih resmi dibanding perguruan tinggi lain. Padahal, dalam sistem pendidikan tinggi, kualitas tidak ditentukan oleh nama, melainkan oleh integritas akademik, mutu penelitian, kebebasan berpikir, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Kekhawatiran lain adalah potensi politisasi. Apabila URI lahir lebih sebagai proyek politik daripada kebutuhan akademik, universitas ini berisiko kehilangan independensinya sejak awal. Kampus semestinya menjadi ruang kritik terhadap negara, bukan instrumen legitimasi kekuasaan. Sejarah menunjukkan bahwa universitas yang besar lahir dari kebebasan berpikir, bukan dari kedekatan dengan pusat kekuasaan.
Lebih jauh lagi, Indonesia sebenarnya tidak kekurangan “kampus unggulan”. Yang kurang adalah pemerataan kualitas. Banyak perguruan tinggi di luar Pulau Jawa masih berjuang dengan fasilitas laboratorium yang terbatas, akses jurnal internasional yang minim, dan kekurangan dosen bergelar doktor. Jika anggaran yang sama dialokasikan untuk memperkuat ratusan kampus yang telah ada, dampaknya kemungkinan jauh lebih luas daripada membangun satu universitas baru.
Di sisi lain, apabila URI dimaksudkan sebagai universitas riset kelas dunia, tantangannya jauh lebih besar daripada sekadar membangun gedung megah. Universitas terbaik dunia dibangun melalui budaya akademik yang tumbuh puluhan bahkan ratusan tahun. Reputasi lahir dari konsistensi menghasilkan riset berkualitas, kebebasan akademik, kolaborasi internasional, dan sistem merit yang kuat. Semua itu tidak dapat dibeli hanya dengan anggaran besar atau nama yang prestisius.
Kritik ini bukan berarti menolak setiap gagasan baru. Sebuah universitas baru dapat dibenarkan apabila benar-benar mengisi kebutuhan yang belum dipenuhi sistem pendidikan tinggi nasional, memiliki desain akademik yang inovatif, tata kelola yang independen, serta tidak mengorbankan penguatan institusi yang telah ada. Tanpa prasyarat tersebut, URI hanya berisiko menjadi monumen kebijakan yang megah di atas kertas, tetapi minim pengaruh terhadap peningkatan mutu pendidikan nasional.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan tinggi bukanlah seberapa banyak universitas baru yang didirikan, melainkan seberapa besar universitas mampu melahirkan ilmu pengetahuan, teknologi, pemimpin yang berintegritas, dan solusi bagi persoalan bangsa. Indonesia lebih membutuhkan revolusi kualitas daripada sekadar penambahan institusi. Sebab, bangsa ini tidak sedang kekurangan papan nama kampus, melainkan sedang membutuhkan ekosistem akademik yang benar-benar unggul.
