MOROWALI, MAL – Kapal kargo “Lanning 19” pada 16 Juni lalu bertolak dari Pelabuhan Yangluo, Wuhan, menuju Pelabuhan Sambalagi, Indonesia, mengangkut lebih dari 10.000 ton material penting untuk proyek pembangunan GEM di Indonesia.

Pelayaran ini menandai perjalanan ke-81 sejak beroperasinya rute pelayaran langsung sungai–laut Wuhan–Indonesia pada 30 November 2023, memperkuat konektivitas Pelabuhan Wuhan-Indonesia.

Jika dihitung bersama pelayaran masuk dan keluar, jumlah perjalanan pada rute Pelabuhan Yangluo Wuhan–Indonesia telah melampaui 100 kali. Total volume angkutan mencapai 620.000 ton dengan nilai perdagangan sebesar US$1,4 miliar.

Angka tersebut menyumbang lebih dari 50 persen perdagangan antara Provinsi Hubei dan Indonesia, membuka akses logistik yang lebih efisien bagi kawasan tengah Tiongkok untuk terhubung langsung dengan Asia Tenggara.

Rute pelayaran langsung Indonesia–Pelabuhan Yangluo Wuhan diprakarsai oleh Komite Provinsi Hubei Partai Komunis Tiongkok dan Pemerintah Provinsi Hubei, serta didukung oleh otoritas maritim dan pelabuhan. Rute ini bertujuan mengatasi hambatan logistik lintas negara yang selama ini dihadapi perusahaan-perusahaan di Hubei.

Sebelumnya, sebagian besar barang ekspor-impor dari Hubei harus melalui pelabuhan pesisir seperti Shanghai, Huangpu, atau Ningbo, sehingga memerlukan waktu lebih lama dan biaya lebih tinggi.

Setelah rute langsung dibuka, kapal dapat berlayar dari Sungai Yangtze melalui Laut Tiongkok Timur dan Laut Tiongkok Selatan langsung menuju Indonesia. Waktu pengiriman berkurang lebih dari tujuh hari, sementara biaya logistik dapat ditekan lebih dari 300 yuan per ton.

Efisiensi ini meningkatkan daya saing perusahaan-perusahaan di wilayah pedalaman Tiongkok di pasar internasional, memperkuat konektivitas Wuhan-Indonesia.

Selain Indonesia, kapal pada rute ini juga dapat singgah di Filipina, Malaysia, dan Singapura, membuka akses yang lebih luas bagi perusahaan-perusahaan di Tiongkok Tengah untuk memasuki pasar Asia Tenggara.

Jalur ini kini memiliki pola logistik dua arah yang seimbang. Xu Kaihua, Chairman GEM, menyebut hingga saat ini 240.000 ton sumber daya nikel dan bahan baku strategis lainnya senilai US$1,1 miliar telah dikirim dari Indonesia ke Wuhan.

Sebaliknya, peralatan dan material dari Wuhan ke Indonesia mencapai 380.000 meter kubik dengan nilai sekitar US$300 juta,” katanya.

Jalur logistik yang efisien ini menjamin pasokan sumber daya penting bagi industri energi baru di Tiongkok, sekaligus mendorong ekspor peralatan dan teknologi manufaktur Tiongkok ke luar negeri. Hal ini makin memperkuat konektivitas Wuhan-Indonesia.

Pembukaan rute ini terkait erat dengan keterlibatan perusahaan-perusahaan Hubei dalam pembangunan industri di Indonesia.

Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan asal Hubei, termasuk GEM, berinvestasi dalam pembangunan kawasan industri teknologi tinggi berbasis sumber daya nikel hijau di Indonesia. Investasi ini mendorong transformasi industri pengolahan nikel menuju sektor energi baru dan mendukung rantai pasok industri energi baru global.

Selain kerja sama ekonomi dan perdagangan, GEM juga menginvestasikan hampir US$50 juta untuk mendirikan Program Pendidikan Bersama Magister dan Doktor Teknik Indonesia–Tiongkok, Laboratorium Riset Bersama Bandung, serta Akademi Insinyur Unggul Indonesia–Tiongkok.

Program-program tersebut telah melahirkan 266 tenaga teknik dan profesional lokal. Kolaborasi ini memperkuat hubungan antarmasyarakat kedua negara dan menjadi proyek unggulan kerja sama Belt and Road Initiative (BRI) antara Indonesia dan Tiongkok.

Seiring eratnya hubungan ekonomi kedua negara, Kamar Dagang Umum Hubei Indonesia resmi didirikan pada Oktober 2025. Organisasi ini bertujuan memperkuat komunitas bisnis Hubei di Indonesia.

Kerja sama antara Sungai Yangtze dan Indonesia ini mencakup konektivitas infrastruktur, kolaborasi rantai industri, hingga pertukaran budaya.

Operasional reguler rute pelayaran langsung Wuhan–Indonesia tidak hanya mengubah pola keterbukaan ekonomi kawasan tengah Tiongkok, tetapi juga mendorong kerja sama ekonomi dan perdagangan Tiongkok–ASEAN dalam kerangka Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP). ***