JAKARTA, MAL – Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memastikan stabilitas sistem keuangan Indonesia tetap terjaga pada triwulan II 2026 meski tekanan ekonomi global meningkat akibat eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengatakan hasil asesmen KSSK menunjukkan kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan nasional tetap kuat berkat koordinasi erat antarotoritas.

“Memasuki triwulan II 2026, tekanan eksternal meningkat seiring eskalasi konflik geopolitik, kenaikan harga energi, volatilitas pasar keuangan global, serta tekanan terhadap nilai tukar dan arus modal. Namun demikian, perekonomian domestik masih menunjukkan ketahanan dengan pertumbuhan ekonomi yang tetap solid dan sektor keuangan yang terjaga,” ujarnya usai Rapat Berkala KSSK III Tahun 2026.

Menurut Friderica, KSSK akan terus melakukan asesmen secara forward looking sekaligus memperkuat langkah mitigasi untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi global.

Di tengah perlambatan ekonomi dunia, Indonesia diperkirakan tetap mampu mencatat pertumbuhan ekonomi pada kisaran 5,6 hingga 6,0 persen sepanjang 2026. Konsumsi rumah tangga, investasi, dan belanja pemerintah masih menjadi penopang utama pertumbuhan.

Aktivitas manufaktur juga kembali memasuki fase ekspansi pada Juli 2026 dengan Indeks PMI Manufaktur berada di level 50,2.

Dari sisi eksternal, neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari–Juni 2026 masih mencatat surplus sebesar USD3,58 miliar. Cadangan devisa pada akhir Juni mencapai USD145,6 miliar atau setara 5,5 bulan impor.

Nilai tukar rupiah yang sempat tertekan akibat konflik di Timur Tengah kembali menguat ke level Rp17.994 per dolar AS pada akhir Juli 2026.

Sementara itu, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juli 2026 tercatat 2,88 persen secara tahunan (year on year/yoy), turun dibandingkan Juni yang mencapai 3,34 persen. Penurunan terutama dipengaruhi meredanya harga sejumlah komoditas pangan, seperti bawang merah dan cabai.

KSSK optimistis inflasi tetap berada dalam sasaran 2,5±1 persen pada 2026–2027 melalui sinergi kebijakan pemerintah, Bank Indonesia, OJK, dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

“KSSK akan terus memperkuat koordinasi lintas lembaga untuk menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi nasional di tengah tingginya ketidakpastian global,” kata Friderica.