Produktif, Dosen Unisa Lahirkan Buku Covid-19 di Bulan Suci

oleh

PALU- Bulan Ramadhan di tengah pandemi Covid-19 bukan alasan untuk berhenti berkarya, seperti yang diperlihatkan oleh dua orang Dosen Universitas Alkhairaat (Unisa) Palu, Dr.Ir.Kasman Jaya Saad,M.Si (Dosen Fakultas Pertanian) dan drg.Nita Damayanti, M.Si (Dosen Fakultas Kedokteran).

Kedua Dosen dari disiplin ilmu berbeda itu berhasil mengkolaborasikan hasil risetnya secara apik menjadi sebuah buku yang menarik untuk dibaca. Bahasa tulisan yang mengalir, menambah pengetahuan pembaca terkait pandemi Covid-19.

Buku setebal 106 halaman yang diterbitkan Wahana Resolusi Jalan Golo 21, Umbulharjo kota Yogyakarta itu diberi judul “Stay Positive, Stay Happy And Healthy.”

Dr. H. Kasman Jaya mengatakan, buku yang kini sudah beredar luas di tangan pembaca itu, merupakan bagian dari kontribusi mereka kepada masyarakat. Kehadiran buku itu setidaknya menjadi oase di tengah pandemi Covid-19 agar masyarakat, khususnya pembaca tidak perlu cemas berlebihan dalam menyikapi Covid-19.

Dekan Fakultas Pertanian Unisa periode 1995-2021 itu berharap, para pembaca dapat menjadi bagian penyebar optimisme di lingkungan masing-masing.

“Mari kita sebarkan aura positif untuk meningkatkan imunitas kita,” singkatnya.

Menurut Kasman, Pandemi Covid-19 telah menggerus sendi-sendi kehidupan masyarakat, termasuk sendi sosial dan ekonomi. Namun tidak boleh pesimis, apalagi kalah dengan virus ini. Patuhi himbauan pemerintah untuk tetap di rumah, jaga jarak, pakai masker, cuci tangan pakai sabun, terapkan pola hidup bersih dan sehat dan lainnya.

“Mari kita jadikan buku sederhana ini sebagai penyemangat dalam menghadapi pandemi ini, berikhtiar, terus menyebar optimisme, bijak hidup menghadapi pandemi Covid-19 dan Stay positive, stay happy and healthy,” katanya, Kamis, (21/5).

Di tempat terpisah, drg.Nita Damayanti mengatakan, banyaknya informasi yang berseliweran di media sosial, menyebabkan broadcast informasi tentang Covid-19 begitu mudah didapatkan, namun cenderung berlebihan karena dibumbuhi hoaks. Akibatnya masyarakat yang menerima informasi itu takut, panik, dan cemas berlebihan.

Dokter Gigi alumni FKG Mustopo, 1998 dan jebolan Program Magister Universitas Gadjah Mada tahun 1999 Program Studi Manajemen Pelayanan Kesehatan itu juga memaparkan fakta menarik, bahwa kecemasan bisa berfungsi positif jika diri kita lebih care dan berhati-hati, serta mengikuti segala perintah yang disampaikan pemerintah dalam pencegahan dan penanganan Covid-19, misalnya, berdiam diri di rumah atau bekerja dari rumah, Work from Home (WFH) dan membiasakan hidup bersih, cuci tangan secara teratur, dan banyak minum air putih. Bila terpaksa harus keluar rumah, selalu jaga jarak, (physical distancing) dan jangan lupa pakai masker.

Namun, menurut dokter yang pernah bertugas di sejumlah Puskesmas di wilayah Kabupaten Dongala tahun 1992-1997 itu, jika kecemasan tentang Covid-19 ini disikapi secara berlebihan, maka akan berdampak negatif bagi kesehatan. Misalnya, setiap membaca atau mendengar berita Covid-19-19, tiba-tiba merasa tenggorokan gatal, nyeri dan merasa agak sedikit meriang walaupun suhu tubuh normal dan akhirnya melakukan tindakan berlebihan, yang dalam istilah kedokteran dinamakan psikosomatik.

“Menurut dr.Adri, reaksi psikosomatik tubuh seperti itu masih wajar bila tubuh masih aktif juga mengatasinya, namun pusat rasa cemas yang terlalu berat dan berulang-ulang bisa membuat psikosomatik muncul dan berulang-ulang pula, dan ini meyebabkan tubuh tidak mampu lagi mengatasi.
Prof.Sarlito juga menyebut kecemasan adalah bentuk ketakutan yang tak jelas sasarannya dan juga tak jelas alasannya,” jelasnya.

Salah satu cara untuk mengurangi gejala psikosomatik, kata Dosen DPK Fakultas Kedokteran Unisa itu adalah mengurangi dan membatasi informasi terkait dengan Covid-19-19.

“Lakukan hobi yang menyenangkan, seperti mengaji, mendengarkan mudik, menonton film lucu, dan jadilah bagian dari masyarakat yang menyebarkan optimisme, bukan sebaliknya. Katakan pada diri kita dan orang lain bahwa semua akan bisa dilewati, kurangi ingin cari tau berapa yang sudah meninggal karena Covid-19 dan lain sebagainya,” lanjutnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Alkhairaat, (Unisa), Dr. Umar Alatas mengaku bangga dan mengapresiasi atas pencapaian dua dosennya itu.

” Saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada dua Dosen Unisa ini, di tengah pandemi Covid-19, masih bisa berkontribusi dalam menulis Buku Pandemi Covid-19,” kata Rektor.

Rektor berharap, buku bisa bermanfaat tengah kecemasan masyarakat akan wabah virus corona ini, juga menjadi bagian atau solusi meredam kepanikan masyarakat untuk tetap optimis dalam melawan wabah ini. (IWANLAKI)