PALU – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kota memperkirakan potensi hasil pertanian komoditi cabai rawit di Kota Palu, mencapai angka Rp25 miliar per musim tanam atau per tahun, dengan 100 hektare lahan yang dibudidayakan.
“Yang sudah ditanami di tahun 2017 sekitar 30 hektare,” ungkap Kepala Seksi Hortikultura DPKP Palu, Hasrul di Palu, Ahad (4/3).
Hasrul menjelaskan, untuk tahun 2018, Pemkot Palu membantu petani dan kelompok tani sebanyak 55 hektare, yang terbagi dalam 50 hektare melalui APBN dan 5 hektare melalui APBD. Untuk APBN sebesar Rp29 juta per hektare dan APBD sebesar Rp20,4 juta per hectare.
Bantuan tersebut tersebar di Kecamatan Tatanga sebanyak 15 hektar, Kecamatan Mantikulore sebanyak 15 hektare, Kecamatan Ulujadi sebanyak 5 hektare, Kecamatan Tawaili sebanyak 5 hektare dan Kecamatan Palu Utara sebanyak 15 hektare.
“Dalam satu hectare, potensi keuntungan bersih sekitar Rp250 juta atau Rp25 miliar untuk 100 hektare per musim tanam, jika dilakukan perawatan secara maksimal,” jelas Hasrul.
Ketua Kelompok Tani Vatususu, Kelurahan Duyu, Kecamatan Tatanga, Nasrun, mengatakan, dalam satu hektare dapat ditanami 20 ribu pohon cabai dengan jarak tanam 50 x 50 centimeter.
Dalam satu pohon, kata dia, bisa menghasilkan buah sebanyak 1 kilogram per musim tanam.
“Totalnya ada 20 ribu kilogram atau 20 ton dikalikan harga terendah sekitar Rp18 ribu per kilogram, maka hasilnya sekitar Rp360 juta per hektare per tahun,” terang Nasrun.
Namun kata Nasrun, budidaya tanaman cabai rawit juga membutuhkan ongkos produksi yang cukup besar. Dalam satu musim tanam dibutuhkan beberapa komponen produksi, diantaranya bibit cabai sebanyak 20 ribu pohon dikalikan Rp500 sebesar Rp10 juta.
Kemudian pengolahan lahan yakni ongkos bajak Rp700 ribu, bedengan Rp700 ribu, penanaman Rp500 ribu, pupuk dasar kompos Rp1,8 juta, pupuk susulan NPK Rp3 juta, pupuk buah Rp350 ribu, pestisida sebesar Rp5 juta dan mulsa sebesar Rp5 juta.
“Biaya produksi sudah mencapai Rp27 juta,” ungkap Nasrun.
Selain itu, lanjut dia, masih ada biaya panen yang disesuaikan bersama tenaga kerja, yakni Rp50 ribu per orang perhari dengan konsumsi ditanggung pemilik lahan, atau Rp3 ribu sampai Rp5 ribu per kilogram tanpa ditanggung konsumsi.
“Jika menggunakan metode Rp3 ribu per kilogram saat panen, maka ongkos panen sudah mencapai Rp60 juta per hektar per tahun,” ujar Nasrun.
Dalam satu musim tanam, dilakukan hampir 40 kali panen dengan tenaga kerja sekitar 40 orang setiap kali panen.
Bagi Nasrun, cabai rawit asal Kota Palu sangat disukai karena memiliki kadar air rendah, sehingga tahan dalam proses pengiriman dan distribusi hingga ke luar kota. (FAUZI)


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.