PALU – Puluhan jurnalis yang tergabung dalam program Journalism on CSR Batch 3 terus mendapatkan penguatan kapasitas melalui serangkaian kelas daring yang membahas berbagai aspek jurnalistik, mulai dari teknik penulisan berita, jurnalisme berkualitas, hingga kode etik dan hukum pers.
Dalam sesi daring yang berlangsung pada Selasa (2/6), Nurcholis BA Basyari menjelaskan konsep dasar berita sebagai produk jurnalistik yang harus memenuhi unsur fakta, informasi, verifikasi, dan pelaporan.
“Artinya dipublikasikan. Selama tidak dipublikasikan, belum masuk kategori produk jurnalistik,” kata alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (UI) jurusan Hubungan Internasional tersebut.
Menurutnya, terdapat tiga aspek penting dalam sebuah berita, yakni peristiwa, problema, dan wacana. Ketiga aspek tersebut menjadi pembeda utama antara kerja jurnalistik dan konten yang diproduksi oleh nonjurnalis.
Penulis buku Jalan Lurus Reformasi SDM Polri itu juga menekankan pentingnya nilai berita dalam penyusunan narasi. Berita, menurutnya, tidak cukup hanya berupa straight news, tetapi perlu memiliki sudut pandang, relevansi, serta nilai penting dan menarik bagi publik.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa jurnalis harus cermat dalam memperoleh dan menyajikan informasi dengan tetap memperhatikan aspek hukum.
“Jurnalis harus pintar menyiasati penyajian informasi, termasuk melalui deskripsi yang tepat agar dapat dipublikasikan tanpa menimbulkan persoalan hukum di kemudian hari,” ujarnya.
Nurcholis juga menyoroti perbedaan mendasar antara profesi jurnalis dengan kreator konten seperti youtuber atau tiktoker, yakni keberadaan dan kepatuhan terhadap kode etik jurnalistik.
Sementara itu, pada sesi Rabu (3/6), Fransiskus Surdiasis memaparkan materi mengenai jurnalisme berkualitas. Alumni Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada (UGM) itu menegaskan bahwa jurnalisme berkualitas harus dibangun di atas pemahaman yang baik mengenai fungsi dan tanggung jawab jurnalistik.
Mantan Kepala Litbang The Jakarta Post tahun 2021 tersebut menjelaskan bahwa jurnalisme berkualitas adalah jurnalisme yang mengutamakan kepentingan publik, dikerjakan dengan fondasi etika yang kuat, serta bertujuan mengungkapkan kebenaran.
“Itulah jurnalisme berkualitas,” katanya.
Menurut Fransiskus, jurnalisme berkualitas merupakan bagian penting dari infrastruktur pengetahuan masyarakat sekaligus instrumen untuk melawan distorsi informasi dan disinformasi.
“Kepentingan publik adalah fondasi jurnalisme. Ini harus menjadi kesadaran paling pokok,” ujarnya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya penerapan jurnalisme verifikasi sebagai landasan utama dalam praktik jurnalistik.
Ia juga mengingatkan sejumlah tantangan yang dihadapi media di era digital, antara lain tuntutan kecepatan, praktik clickbait, berkurangnya keragaman berita, serta menurunnya kualitas dan kedalaman konten (dumbing down).
Pada sesi keempat yang berlangsung Kamis (4/6), Nurcholis kembali hadir membawakan materi mengenai Kode Etik Jurnalistik (KEJ) dan hukum pers sebagai panduan dasar bagi wartawan Indonesia.
Dalam pemaparannya, ia mendorong media daring untuk mencantumkan seluruh akun media sosial resmi, seperti Instagram, TikTok, Facebook, dan YouTube, sebagai bagian dari identitas media.
Menurutnya, langkah tersebut penting agar Dewan Pers dapat memberikan advokasi apabila terjadi persoalan hukum yang melibatkan media.
Selain itu, ia menjelaskan bahwa seorang jurnalis harus memiliki empat kompetensi utama, yakni pengetahuan, keterampilan, kesadaran, dan kepemimpinan.
Pada tingkat kompetensi wartawan muda, kata dia, seorang jurnalis dituntut memahami dan menjalankan Kode Etik Jurnalistik serta berbagai peraturan pers. Pada tingkat madya, wartawan harus mampu memastikan penerapan aturan tersebut, sedangkan pada tingkat utama dituntut mampu menyusun kebijakan serta mengedukasi terkait KEJ, Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS), serta regulasi pers lainnya.
Program Journalism on CSR Batch 3 diharapkan dapat memperkuat kapasitas dan profesionalisme jurnalis dalam menghadapi tantangan industri media yang terus berkembang di tengah disrupsi digital.

