TEHERAN, MAL — Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, kembali muncul ke hadapan publik setelah sekitar lima bulan nyaris tidak terlihat di media. Ia bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Ahad (9/8) untuk membahas kondisi ekonomi, militer, dan pertahanan negara di tengah ketegangan dengan Amerika Serikat.

Pertemuan tersebut menjadi salah satu kemunculan penting Mojtaba setelah sejak dimulainya konflik Iran-AS ia lebih banyak berada di balik layar.

Saluran Telegram milik Pemimpin Tertinggi Iran menyebut pertemuan itu membahas berbagai persoalan strategis negara.

“Pemimpin Revolusi Islam bertemu dan berbicara dengan Presiden tentang masalah ekonomi dan militer,” demikian pernyataan tersebut.

Pembahasan tidak hanya menyangkut sektor pertahanan. Keduanya juga menyoroti pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, perkembangan konflik yang oleh Iran disebut sebagai “Perang Ketiga yang dipaksakan”, serta langkah-langkah menghadapi situasi ke depan.

Persoalan ekonomi menjadi salah satu perhatian utama. Kondisi mata uang Iran, rial, sektor energi, situasi keuangan negara, hingga hubungan ekonomi dengan negara-negara asing turut dibahas.

Kemunculan Mojtaba ke publik juga terjadi setelah beredarnya sebuah video yang menampilkan dirinya di sejumlah media Iran. Namun, pernyataan resmi mengenai pertemuannya dengan Pezeshkian tidak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai video tersebut.

Di tengah situasi tersebut, Mojtaba tetap mempertahankan sikap keras terhadap Washington. Ia berulang kali menegaskan bahwa Iran tidak akan menyerah ataupun bertekuk lutut menghadapi tekanan Amerika Serikat.

Trump Akui Negosiasi Iran Berjalan Setengah Hati

Di Washington, Presiden Amerika Serikat Donald Trump justru mengakui bahwa pemerintahannya telah mengurangi intensitas upaya diplomatik untuk mencapai kesepakatan dengan Iran.

Trump mengatakan proses negosiasi kini dilakukan secara lebih tenang dan tidak terlalu terbuka.

“Kami hanya bernegosiasi setengah hati dengan mereka,” kata Trump dalam percakapan telepon singkat dengan redaksi Axios pada Ahad (9/8).

Trump juga menyoroti kondisi ekonomi Iran yang menurutnya berada dalam keadaan sangat buruk. Ia menyebut inflasi Iran sangat tinggi dan negara tersebut tidak memiliki cukup uang.

Pernyataan itu sekaligus membuka kemungkinan bahwa Washington akan kembali meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran.

Meski demikian, Trump tidak menyampaikan ancaman militer baru terhadap Iran.

Pernyataan tersebut muncul setelah Trump pada akhir pekan lalu mengatakan telah membatalkan rencana serangan besar terhadap Iran. Menurutnya, peluang tercapainya kesepakatan damai yang dapat membuka kembali Selat Hormuz dan menghentikan ambisi nuklir Iran semakin terbuka.

Sejumlah pejabat Amerika Serikat yang dikutip Axios menyebut Trump sebelumnya lebih condong untuk kembali melakukan operasi militer besar terhadap Iran pada pekan lalu. Namun, arah kebijakan tersebut kini disebut bergeser menuju upaya de-eskalasi.

Kemunculan Mojtaba Khamenei di tengah situasi itu memperlihatkan bahwa Teheran masih menghadapi dua tekanan sekaligus: menjaga stabilitas ekonomi dalam negeri dan mempertahankan posisi strategisnya dalam menghadapi Washington.