Oleh: DEDI ASKARY, SH.

Business and Human Rights Consulting, Dewan Pendiri sekaligus Direktur LPS-HAM Sulteng pertama, anggota Dewan Pendiri LBH. Sulteng, Ketua Komnas HAM Sulteng 2006-Juli 2025. Pernah menjabat Deputy Direktur Walhi Sulteng dan Ketua Dewan Daerah Walhi Sulteng, Konsultan Riset Ketahanan Pangan di Lembah Baliem Wamena, Pegunungan Tengah Papua thn 2004, Tinggal di Mbaliara, Parigi Barat.

Malam ini, ketika semburat merah di ufuk barat perlahan larut dalam keheningan malam pertengahan Juni 2026, sebuah siklus waktu kembali menggenap. Kita sedang berdiri tepat di ambang pintu 1 Muharram 1448 Hijriah. Ada rasa syahdu yang ganjil menyelusup di antara deru angin—sebuah jeda yang dihadiahkan oleh semesta agar kita sejenak berhenti, menarik napas dalam-dalam, dan mendengarkan bisikan nurani kita sendiri.

Tahun Baru Islam tidak pernah mengetuk dengan kemeriahan kembang api yang membelah langit. Ia datang dalam sunyi, laksana embun yang jatuh di sepertiga malam. Ia adalah ketukan lembut pada pintu kesadaran, mengingatkan bahwa waktu bukan sekadar deretan angka geometris yang habis di kalender, melainkan ruang spiritual yang kian menyempit antara diri kita dan Sang Maharahman.

Dalam ruang diskusi teologi Islam kontemporer, 1 Muharram dan peristiwa “Hijrah” tidak lagi diletakkan sekadar sebagai romantisasi sejarah—sebuah kisah kepindahan fisik Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah ribuan tahun silam. Para pemikir Islam modern melihat Hijrah sebagai manifesto teologis yang cair, dinamis, dan terus berbicara pada zamannya.

Ketika kita merenungkan 1 Muharram di tahun 2026 ini, ada tiga makna teologis kontemporer yang terasa begitu pekat dan relevan dengan realitas hidup kita:

1. Hijrah Eksistensial di Tengah Dunia yang “Cair” (Liquid Modernity)

Dunia hari ini bergerak terlalu cepat, bising, dan terkadang melelahkan secara mental akibat disrupsi digital yang tiada henti. Manusia modern sering kali mengalami alienasi _ terasing dari dirinya sendiri dan dari Tuhan.

Dalam perspektif teologis kontemporer, 1 Muharram adalah momentum retret spiritual. Hijrah hari ini adalah perpindahan dari riuh rendahnya validasi duniawi menuju kedalaman sunyi demi menemukan kembali tauhid (keesaan Allah) di dalam jiwa. Ini adalah teologi pemulihan jiwa; sebuah ajakan untuk bermigrasi dari kecemasan eksistensial menuju ketenangan iman (sakinah).

2. Teologi Transformatif: Dari Fatalisme Menuju “Human Agency”

Teologi kontemporer menolak sikap pasrah yang pasif terhadap keadaan (fatalisme). Hijrah mengajarkan bahwa perubahan membutuhkan keterlibatan aktif manusia (human agency).

Menyambut 1448 Hijriah berarti menggeser paradigma kita dari kesalehan yang sekadar ritual-individual menuju “kesalehan sosial yang emansipatoris” (membebaskan). Berhijrah di era ini berarti berani beranjak dari sikap abai menuju kepedulian terhadap ketimpangan sosial, kemiskinan, dan ketidakadilan di sekitar kita. Iman harus mewujud menjadi aksi nyata yang mengubah struktur sosial menjadi lebih adil.

3. Eko-Teologi (Green Hijrah): Merawat Bumi yang Terluka

Muharram secara bahasa berarti “yang diharamkan” atau “suci”, di mana segala bentuk pengrusakan dan pertumpahan darah dilarang keras. Di tahun 2026, ketika krisis iklim global kian nyata kita rasakan, teologi Islam kontemporer memperluas makna ini menjadi pertobatan ekologis.

Hijrah hari ini adalah komitmen kolektif untuk bermigrasi dari gaya hidup keserakahan yang mengeksploitasi alam, menuju gaya hidup yang ramah dan memulihkan bumi. Ini adalah penegasan kembali atas mandat kita sebagai Khalifah — penjaga dan pengasuh semesta, bukan penguasa yang merusaknya.

Hijrah yang sesungguhnya bukanlah tentang sejauh apa kaki melangkah meninggalkan sebuah kota, melainkan tentang “seberani apa jiwa beranjak meninggalkan kegelapan menuju cahaya-Nya.”

Ketika doa akhir tahun perlahan melirih dan doa awal tahun mulai dilantunkan, mari kita biarkan masa lalu larut menjadi abu yang mendewasakan. Di bawah naungan langit Muharram 1448 H yang syahdu ini, kita melangkah ke depan dengan lentera iman yang menyala lebih terang, siap menjadi manusia yang lebih bermakna bagi sesama dan semesta.