DONGGALA – Wakil Ketua Komisi II DPRD Donggala, Fany Sirey Mowar mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Donggala agar mempercepat perbaikan saluran irigasi di Desa Tompe, Kecamatan Sirenja yang rusak akibat gempa.

Fany mengatakan, kerusakan irigasi di Desa Tompe bukan persoalan kecil, karena menyangkut langsung kehidupan petani dan ketahanan pangan masyarakat di wilayah Kecamatan Sirenja, khususnya dan Kabupaten Donggala pada umumnya.

“Sangat disayangkan, sejak terdampak bencana gempa dan tsunami tahun 2018, hingga hari ini belum ada penanganan yang benar-benar tuntas, padahal irigasi tersebut menjadi sumber pengairan utama bagi sekitar enam desa di Kecamatan Sirenja,” katanya, Rabu (20/05).

Ketua Fraksi Gerindra DPRD Donggala ini mengatakan, dampak dari rusaknya irigasi tersebut tidak hanya dirasakan pada menurunnya produktivitas pertanian, tetapi juga berdampak pada kondisi ekonomi masyarakat yang mayoritas menggantungkan hidup pada sektor pertanian.

“Kalau pengairan sawah terganggu, maka hasil pertanian ikut menurun. Ketika hasil pertanian turun, maka pendapatan masyarakat ikut terdampak. Ini efek berantai yang tidak boleh dianggap biasa,” ungkap Fany.

Ia menegaskan bahwa pemkab Donggala bersama instansi teknis terkait harus memberikan perhatian serius terhadap persoalan tersebut. Sebab, sektor pertanian merupakan salah satu penopang ekonomi masyarakat di wilayah Sirenja.

“Kami di Komisi II tentu akan mendorong agar persoalan ini menjadi perhatian prioritas, baik melalui koordinasi dengan Dinas Pertanian maupun dinas teknis terkait lainnya. Karena yang dibutuhkan masyarakat hari ini bukan sekedar wacana, tetapi langkah nyata dan kepastian penanganan,” ucapnya.

Selain itu, dirinya juga meminta agar pemerintah daerah tidak hanya fokus pada pembangunan fisik di wilayah perkotaan, tetapi juga memperhatikan infrastruktur dasar penunjang pertanian di desa-desa.

“Jangan sampai petani hanya diminta meningkatkan produksi, tetapi fasilitas pendukungnya justru dibiarkan rusak bertahun-tahun. Ketahan Pangan tidak cukup hanya dengan slogan, tetapi harus didukung infrastruktur yang memadai,” tegasnya.

Ia berharap adanya langkah kongkret dari pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi untuk dapat mempercepat upaya rehabilitasi Irigasi Tompe agar aktivitas pertanian masyarakat di enam desa terdampak dapat kembali berjalan normal.

“Kami berharap ada keseriusan dari semua pihak. Karena bagi masyarakat petani, irigasi bukan hanya saluran air, tetapi sumber kehidupan,” ucap dia. ***