PALU- Menjelang Hari Raya Idul Adha atau hari raya kurban Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunak) Sulawesi tengah (Sulteng) mengimbau kepada peternak untuk meningkatkan pengawasan kesehatan ternak, dari Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

Ternak dikurbankan harus dipastikan dalam kondisi sehat dan telah divaksinasi.Perubahan cuaca tidak menentu, seperti hujan dan panas secara bergantian dapat meningkatkan risiko penyebaran virus.

“Oleh karena itu, penting bagi peternak menjaga kondisi kandang dan tidak mencampurkan ternak dari luar tanpa pemeriksaan terlebih dahulu. Hal tersebut dilakukan agar ternak dikurbankan benar-benar memenuhi syarat,” kata Kepala Bidang Kesehatan Hewan (Keswan) dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet), Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunak) Sulteng, Dandy Alfita, di Palu, Jumat (19/4).

Ia mengatakan, PMK di Sulteng pada tahun ini dilaporkan telah melandai. Kondisi tersebut tidak lagi separah tahun-tahun sebelumnya. Berdasarkan laporan petugas melalui sistem

Kepala Bidang Keswan dan Kesmavet Disbunnak Sulteng, Dandy Alfita,
mengatakan, Penyakit mulut dan kuku (PMK) di wilayah Sulawesi Tengah pada tahun ini dilaporkan telah melandai. Kondisi tersebut tidak lagi separah tahun-tahun sebelumnya. Berdasarkan laporan petugas melalui sistem informasi Kesehatan Hewan Nasional (iSIKHNAS) jumlah kasus mengalami penurunan.

“Hal ini merupakan hasil dari upaya maksimal pemerintah dalam pelaksanaan vaksinasi PMK di lapangan. Upaya pengendalian dilakukan secara preventif mengingat PMK sebelumnya sudah pernah terjadi di wilayah Sulawesi Tengah,” tuturnya.

Ia mengatakan, vaksinasi menjadi langkah utama untuk meningkatkan kekebalan tubuh ternak terhadap virus PMK. Hingga saat ini, belum terdapat laporan kasus baru memiliki gejala klinis PMK berdasarkan data dalam sistem iSIKHNAS.

Lebih lanjut kata dia, pada tahun sebelumnya, hampir seluruh Kabupaten/Kota di Sulteng melaporkan kasus PMK secara klinis, kecuali kabupaten Banggai Kepulauan dan Banggai Laut.

Namun kata dia, Prevalensi kasus tercatat kurang dari 2% dari total populasi ternak, sehingga masih dalam kategori terkendali.

Ia mengatakan, penyakit tersebut umumnya menyerang sapi, serta dapat pula menginfeksi kambing, domba, dan kerbau.Penyebab dan penularan PMK umumnya terjadi melalui lalu lintas ternak tidak memiliki riwayat kesehatan yang jelas.

Selain melalui kontak langsung antar ternak, kata dia, virus juga dapat menyebar melalui peralatan kandang dan tempat pakan terkontaminasi sisa pakan dari ternak terinfeksi kendaraan pengangkut ternak, petugas berpindah dari lokasi ternak sakit ke ternak sehat tanpa prosedur sanitasi.

“Virus PMK memiliki masa inkubasi sekitar 14 hari,”katanya.

Ia mengatakan, gejala klinis muncul antara lain, demam, tidak nafsu makan,serta luka pada bagian mulut, lidah dan kuku. Olehnya, ia mengimbau peternak melakukan  langkah-langkah menjaga kualitas dan kecukupan nutrisi pakan ternak. Mengawasi lalu lintas ternak yang masuk ke kandang, tidak langsung mencampurkan ternak baru dengan ternak lama (melakukan isolasi terlebih dahulu).

Memastikan ternak telah mendapatkan vaksinasi PMK, menjaga kebersihan kandang dan peralatan.