Rasulullah saw mengibaratkan seorang muslim seperti pohon kurma dan lebah. Beliau bersabda: Perumpamaan seorang mukmin adalah seperti pohon kurma, apa yang datang kepadamu darinya pasti bermanfaat.

Dari Mujahid berkata, aku menemani Ibnu Umar ke Madina, beliau berkata: aku pernah bersama Rasulullah saw beliau sedang memakan Jumar (pondoh) kurma, atau gelugu muda, lalu beliau berkata sesungguhnya di antara pepohonan ada yang tidak pernah rontok daunnya, seperti itulah perumpamaan seorang muslim. Apakah kalian tahu pohon apa itu? Lalu para Sahabat bertanya, pohon apa itu Ya Rasulllah. Beliau menjawab: dia adala Nakhlah atau pohon kurma. (Bukhari Muslim)

Begitulah perumpamaan seorang mukmin, kokoh imannya seperti seperti pohon kurma yang kokoh akarnya, amal-amalnya meningkat terus tanpa pernah rontok seperti daun-daun pohon kurma, meskipun menghadapi angin kencang dan badai dan hujan, semakin berumur semakin bermanfaat, seperti buah kurma yang sekali berbuah dia akan akan berbuah terus sampai mati.

Semua jenis buahnya juga semua berguna, pentilnya menjadi ruthob, bila matang menjadi kurma, bila sudah menjadi kurma dan dikeringkan tidak bisa membusuk. Semua dari pohon kurma ada manfaatnya, mulai dari gelugunya, daunnya bahkan pondoh pohon kurma ini menjadi obat berbagai penyakit.

Begitulah seharusnya seorang muslim, tidak pernah terombang ambing keimanannya tetap kokoh meskipun banyak godaan dan cercaan, semua tindakannya beranfaat utk sesama, tenaganya, pakaiannya, jabatannya, tangannya, kakinya, lisannya, hartanya dan pemikirannya.

Kemudian perumpamaan kedua adalah bahwa seorang mukmin adalah seperti Nahlah, dengan Ha’, yang artinya lebah.

Rasulullah bersabda hadist dalam sebuah hadist riwayat Baihaqi: Perumpamaan seorang mukmin adalah seperti lebah, ketika memakan, tidak pernah memakan kecuali makanan yang baik.

Ketika meninggalkan sesuatu atau memberi sesuatu, tidak pernah kecuali yang baik, ketika menginjak dahan tidak pernah merusaknya.

Perumpamaan seorang mukmin adalah seperti lantakan emas ketika dibersihkan akan mengkilat dan ketika ditimbang tidak pernah kurang.

Keutamaan lebah disebutkan dalam al-Qur’an: Dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah, “Buatlah sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia. kemudian makanlah dari segala (macam) buah-buahan lalu tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu).” Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir.

Dari perumpamaan Rasulullah saw bahwa seorang mukmin adalah seperti lebah, maka kita sebagai orang yang beriman perlu sekiranya selalu memilah-milah dalam memilih makanan.

Seperti lebah, kita harus membedakan yang mana makanan yang syubhat, yang mana yang halal dan yang mana yang haram.

Dengan cara itu, hasil makanan yang kita cerna dan menjadi serat yang mengalir dalam darah kita adalah makanan makanan yang berkah dan terhindar dari syubhat dan haram.

Yang kedua, seperti lebah seorang mukmin seharusnya mencari rezeki dan nafkah dengan cara yang baik, bukan dengan cara yang buruk, atau bahkan yang diharamkan.

Mencari rezeki yang baik ini dengan meninggalkan kecurangan, kedzaliman dan yang merusak alam semesta tanpa mempertimbangkan masa depan.

Yang ketiga dalam mencari rezeki, janganlah menikmati hasilnya sendiri akan tetapi berbagilah pada sesama dan menjadi orang yang berguna bagi orang lain dan tidak hanya untik diri sendiri.

Karena sebaik-baiknya manusia adalah yang paling berguna untuk manusia yang lain. Wallahu a’lam

DARLIS MUHAMMAD (REDAKTUR SENIOR MEDIA ALKHAIRAAT)