Setiap pergantian lembaran penanggalan, kegelisahan sosial kerap tak surut. Di tengah laju modernitas yang serba instan, masyarakat justru dihadapkan pada defisit moralitas, krisis empati, dan pengabaian nilai-nilai spiritualitas. Momentum 1 Muharram 1448 Hijriah hadir bukan sekadar dirayakan dengan euforia kosong, melainkan sebagai ruang hening untuk merekonstruksi arah hidup dan memahami Hikmah Hijrah 1 Muharram yang mendalam bagi setiap Muslim.
Peristiwa hijrah Nabi Muhammad ﷺ dari Makkah ke Madinah lebih dari sekadar evakuasi geografis akibat tekanan masif kaum Quraisy. Lebih dari itu, hijrah adalah manifesto transformasi peradaban yang mengubah lanskap sejarah dunia secara permanen. Pakar sejarah dan sosiologi Islam, Ibnu Khaldun, dalam mukadimahnya secara tersirat menekankan bahwa sebuah peradaban senantiasa membutuhkan solidaritas dan landasan moral yang kuat untuk bisa bertahan. Ini merupakan esensi dari Hikmah Hijrah 1 Muharram yang kita peringati.
Titik nol penanggalan kalender Islam ini secara brilian ditetapkan oleh Khalifah Umar bin Khattab untuk menegaskan sebuah paradigma baru. Peradaban Muslim tidak didirikan di atas glorifikasi kelahiran tokoh atau epik peperangan berdarah, melainkan atas dasar pergerakan sadar menuju kondisi sosial, politik, dan spiritual yang lebih berkeadilan dan bermartabat. Inilah inti dari Hikmah Hijrah 1 Muharram yang patut direnungkan.
Visi transformasi sosial dan kultural ini sangat sejalan dengan napas perjuangan yang digagas oleh Pendiri Alkhairaat, Al-Alim Al-Allamah Al-Habib Idrus bin Salim Al-Jufri (Guru Tua). Ketika beliau menjejakkan kaki di lembah Palu, beliau tidak menggunakan pendekatan kekuasaan absolut, melainkan meletakkan landasan pendidikan yang berorientasi pada pembangunan akhlakul karimah serta pencerahan literasi umat yang kala itu terpuruk. Hikmah Hijrah 1 Muharram juga mengajarkan kita untuk meneladani perjuangan beliau.
Guru Tua dengan keteladanannya mengajarkan bahwa wujud hijrah terbesar di abad modern ini adalah melepaskan diri dari belenggu kebodohan, egoisme komunal, dan fanatisme buta. Kita dituntut untuk terus bergerak menuju kejernihan ilmu dan implementasi amal nyata yang mampu menebar rahmat bagi semesta alam. Inilah salah satu relevansi Hikmah Hijrah 1 Muharram di era kontemporer.
Tahun baru Islam sesungguhnya merupakan alarm spiritual yang terus berdering nyaring. Ia menjadi pengingat bahwa setiap detik yang terbuang sia-sia adalah sebuah kerugian absolut, kecuali bagi mereka yang sigap mengisinya dengan pilar iman dan aksi-aksi perbaikan nyata. Untuk merespons tantangan tersebut, terdapat beberapa pijakan esensial yang dapat diaplikasikan setiap Muslim demi merealisasikan nilai-nilai esensi Hikmah Hijrah 1 Muharram di tengah realitas masa kini yang penuh turbulensi:
Pertama, Restorasi Niat (Tajdidun Niat), yaitu memastikan seluruh dimensi aktivitas kehidupan, mulai dari pekerjaan profesional, proses pendidikan, hingga interaksi sosial harian, bermuara murni untuk mencari ridha Ilahi. Ini menjadi penting agar kita terbebas dari jerat kecemasan akibat terlalu mendamba validasi sesama manusia, sebuah bagian integral dari penerapan Hikmah Hijrah 1 Muharram.
Kedua, Eksodus dari Kebiasaan Destruktif, yakni berani mengidentifikasi dan memutus pola hidup negatif. Segala bentuk prokrastinasi, ujaran kebencian, ghibah, atau durasi membuang waktu secara nirfaedah di media sosial harus segera disubstitusi dengan rutinitas produktif yang membangun kapasitas intelektual serta ketajaman spiritualitas pribadi.
Ketiga, Optimalisasi Kemanfaatan Kolektif, yang berarti mengasah insting kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar. Paradigma sukses Islami sangat sederhana: sebaik-baik manusia bukanlah yang memegang tampuk jabatan tertinggi atau menumpuk kekayaan terbanyak, melainkan individu yang paling signifikan kontribusinya dalam meringankan penderitaan dan memberi jalan keluar bagi saudaranya. Ini adalah perwujudan nyata dari Hikmah Hijrah 1 Muharram.
Keempat, Pembelajaran Sepanjang Hayat, dengan terus merawat komitmen untuk memperdalam literasi keagamaan dan ilmu pengetahuan. Hal ini mutlak diperlukan sebagai tameng ideologis saat menghadapi derasnya arus misinformasi, degradasi etika, dan disrupsi nilai yang membanjiri ruang-ruang publik kita, sejalan dengan semangat Hikmah Hijrah 1 Muharram.
Realitas absolut tentang krusialnya mengelola waktu serta melakukan muhasabah secara radikal ini telah Allah Subhanahu wa Ta’ala peringatkan secara tegas. Peringatan ini menembus sekat ruang dan waktu, merasuk ke dalam relung kesadaran kita melalui firman-Nya di dalam Al-Qur’an Surat Al-Hasyr ayat 18:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Kehadiran 1 Muharram 1448 Hijriah sejatinya adalah lembaran evaluasi eksklusif yang Allah berikan secara cuma-cuma kepada hamba-Nya. Tidak ada satu pun pakar kesehatan atau kecanggihan teknologi yang mampu memberikan jaminan bahwa napas kita masih akan berhembus bebas hingga di penghujung tahun ini. Oleh karenanya, momentum pergantian tahun senantiasa menuntut adanya komitmen aksi perubahan yang terukur dan konkrit, sekecil apapun bentuknya.
Meneladani spirit daya juang Rasulullah ﷺ di padang pasir masa lampau serta mewarisi rekam jejak keikhlasan Guru Tua dalam mendidik umat, tugas kolektif kita saat ini adalah berdiri paling depan sebagai motor penggerak kebaikan. Mari kita jadikan tahun ini bukan sebagai tumpukan kalender usang penanda usia yang menua, melainkan sebagai landasan kokoh untuk melahirkan mahakarya peradaban, mendedikasikan sisa umur demi kemaslahatan publik, dan memastikan setiap jejak langkah kita senantiasa tegak lurus di atas parameter ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wallahu a’lam
RIFAY (REDAKTUR MEDIA ALKHAIRAAT)

