SARANGANI, MAL – Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,8 yang mengguncang lepas pantai Sarangani, Filipina Selatan, Senin (08/06/2026), menyebabkan kerusakan infrastruktur di berbagai wilayah Mindanao dan memicu evakuasi besar-besaran di kawasan pesisir. Peristiwa Gempa Tsunami Filipina ini menarik perhatian global atas dampaknya.

Gempa tersebut berpusat di lepas pantai Maasim, Sarangani, pada kedalaman 33 kilometer dan memicu gelombang tsunami yang terpantau di sejumlah wilayah. Gelombang tertinggi tercatat di Kota Kiamba, Sarangani, dengan ketinggian mencapai 1,48 meter.

Selain Kiamba, gelombang tsunami juga terpantau di Kalamansig, Sultan Kudarat setinggi 0,84 meter, Maasim, Sarangani 0,48 meter, Zamboanga City 0,25 meter, Mati City di Davao Oriental 0,21 meter, dan Tandag City di Surigao del Sur setinggi 0,09 meter akibat Gempa Tsunami Filipina ini.

Dampak kerusakan paling besar dilaporkan terjadi di Kota General Santos dan sejumlah wilayah di Sarangani. Sejumlah bangunan bertingkat rendah roboh atau mengalami kerusakan berat akibat guncangan kuat dari Gempa Tsunami Filipina.

Laporan lapangan menyebutkan bangunan pemerintah, fasilitas kesehatan, institusi pendidikan, supermarket, gudang, sekolah, serta berbagai bangunan publik lainnya mengalami kerusakan hingga runtuh akibat guncangan yang kuat tersebut.

Di wilayah pesisir Zamboanga del Sur, sedikitnya enam rumah panggung rusak akibat terjangan gelombang tsunami. Sementara itu, tsunami setinggi 1,48 meter di Kiamba tidak dilaporkan menyebabkan kerusakan besar.

Gangguan juga terjadi pada jaringan listrik dan telekomunikasi di sejumlah daerah yang terdampak. Kerusakan jalan dan jembatan menghambat akses menuju beberapa komunitas terpencil yang membutuhkan bantuan darurat pasca Gempa Tsunami Filipina.

Sektor pendidikan menjadi salah satu yang terdampak signifikan. Lebih dari 3,2 juta siswa terdampak gangguan kegiatan belajar mengajar, sementara lebih dari 6.000 sekolah negeri dan swasta mengalami gangguan operasional.

Merespons ancaman tsunami, PHIVOLCS segera mengeluarkan peringatan bagi wilayah pesisir Southern Mindanao setelah gempa terjadi. Pusat Peringatan Tsunami Pasifik bahkan memperingatkan kemungkinan gelombang hingga tiga meter.

Office of Civil Defense (OCD) bersama Philippine Coast Guard (PCG) kemudian menaikkan status siaga merah dan melaksanakan evakuasi massal di wilayah rawan.

Ribuan warga pesisir dievakuasi dari Sarangani, Davao Occidental, Tawi-Tawi, Sulu, Basilan, Zamboanga del Sur, Zamboanga Sibugay, Sultan Kudarat, hingga South Cotabato.

“Penjaga Pantai Filipina juga mengimbau para nelayan dan warga pesisir untuk mematuhi peringatan tsunami secara ketat. Pemilik kapal yang bersandar di pelabuhan dan perairan dangkal diminta mengamankan kapal mereka serta menjauhi kawasan tepi pantai, sementara kapal yang sudah berada di laut diimbau tetap berada di perairan dalam hingga ada pemberitahuan lebih lanjut,” kata Wakil Juru Bicara Philippine Coast Guard, Commodore Noemie Cayabyab.

PCG juga mengerahkan personel secara besar-besaran guna membantu proses evakuasi dan pengamanan wilayah pesisir yang berpotensi terdampak gelombang tsunami.

Di sisi lain, PHIVOLCS membatalkan peringatan tsunami sekitar dua jam setelah gempa terjadi. Berdasarkan hasil observasi, gangguan permukaan laut yang terjadi tergolong minor dan tidak lagi membahayakan masyarakat pesisir meskipun Gempa Tsunami Filipina menimbulkan kekhawatiran besar.

Meski demikian, pemerintah Filipina tetap meminta masyarakat waspada terhadap kemungkinan gempa susulan. “Masyarakat diimbau untuk tidak kembali memasuki rumah maupun bangunan lainnya, terutama yang menunjukkan tanda-tanda kerusakan, termasuk bangunan bertingkat tinggi, karena masih terdapat ancaman gempa susulan,” tegas Wakil Juru Bicara OCD, Diego Mariano.

Presiden Ferdinand Marcos Jr. telah memerintahkan asesmen menyeluruh terhadap wilayah terdampak. Menteri Pertahanan Gilberto Teodoro Jr., Administrator OCD Harold Cabreros, serta sejumlah pejabat terkait diterjunkan ke General Santos untuk mengawasi distribusi bantuan, pengerahan personel, dan percepatan pemulihan pascabencana Gempa Tsunami Filipina ini. ***