PALU – Dosen Fakultas Perikanan Universtas Alkhairaat (UNISA) berhasil meraih hibah penelitian, pendanaan DIKTI tahun 2026.
Capaian ini menjadi sinyal kuat bahwa kualitas periset dari perguruan tinggi swasta di Palu sudah diperhitungkan ditingkat nasional, khususnya Unisa.
Kompetisi hibah tahun ini terbilang sangat ketat ditengah efisiensi. Data resmi dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, tercatat sebanyak 104.546 proposal masuk dari seluruh Indonesia.
Namun, hanya 18.215 proposal yang berhasil didanai, dengan tingkat keberhasilan sekitar 17,4 persen. Total anggaran yang digelontorkan mencapai Rp1,7 triliun.
Pada tahap seleksi administrasi sebelumnya, kompetisi juga tidak kalah sengit. Dari total 78.817 proposal, hanya sekitar 48.795 (62%) yang berhasil lolos.
Sementara 30.022 (38%) lainnya gugur di tahap awal. Bahkan pada beberapa skema unggulan, tingkat kelolosan hanya berkisar 60-69 persen, menegaskan bahwa hanya proposal terbaik yang mampu bertahan hingga tahap pendanaan.
Di tengah kompetisi yang demikian ketat itu, Fakultas Perikanan Unisa berhasil menempatkan dua tim penelitinya sebagai penerima hibah Nasionl.
Pada skema Penelitian Dosen Pemula (PDP), penelitian berjudul “Model Integrasi PLTS dan Lampu LED Hijau untuk Meningkatkan Produktivitas dan Keberlanjutan Usaha Bagan Rakit di Desa Labean Kabupaten Donggala” yang di ketua oleh Dr. Ahsan Mardjudo berhasil memperoleh pendanaan.
Dr Ahsan mencoba mengintegrasikan PLTS dan lampu LED hijau dinilai sebagai langkah strategis dalam meningkatkan efisiensi energi sekaligus menjaga keberlanjutan usaha penangkapan ikan.
Sementara itu, pada skema Penelitian Kerja Sama Antar Perguruan Tinggi (PKPT), penelitian berjudul “Formulasi Kerangka Konseptual Blue Aquaculture Zoning (BAZ) dalam Pengelolaan Budidaya Berkelanjutan pada Kawasan Konservasi Perairan Kabupaten Parimo” juga sukses menembus pendanaan.
Penelitian yang digawangi oleh Andhy Rahmat Padyawan, dosen muda Program Studi Sumber Daya Akuatik yang memiliki rekam jejak impresif.
Ia berhasil meraih pendanaan penelitian secara berturut-turut pada tahun 2025 dan 2026, sebuah capaian yang menegaskan kapasitasnya sebagai peneliti muda potensial di bidang perikanan.
Konsep Blue Aquaculture Zoning (BAZ) yang dikembangkan menawarkan pendekatan integratif antara produktivitas budidaya dan konservasi ekosistem.
Model ini diharapkan menjadi solusi dalam mengatasi konflik pemanfaatan ruang pesisir sekaligus meningkatkan keberlanjutan sektor akuakultur.
Kedua penelitian ini mencerminkan arah baru riset perikanan yang tidak hanya berorientasi pada output akademik, tetapi juga pada dampak nyata bagi masyarakat. Mulai dari efisiensi energi bagi nelayan bagan rakit hingga tata kelola kawasan budidaya berbasis ekosistem.
Dekan Fakultas Perikanan UNISA Palu, Dr. Fachrudin A. Yahya, memberikan apresiasi atas capaian tersebut.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan bukti bahwa dosen-dosen Fakultas Perikanan mampu bersaing di tingkat nasional meskipun berada di tengah kompetisi yang sangat ketat.
“Ini bukan sekedar capaian administratif. Ini adalah bukti bahwa gagasan dan inovasi dari daerah mampu bersaing dan bahkan unggul di tingkat nasional. Yang terpenting, riset ini memiliki dampak langsung bagi masyarakat pesisir,” ujarnya.
Keberhasilan ini sekaligus memperkuat posisi Unisa sebagai salah satu pusat pengembangan inovasi perikanan berkelanjutan di Indonesia Timur.
Dengan tren positif yang terus berlanjut, bukan tidak mungkin kampus warisan guru tua ini akan menjadi salah satu kekuatan utama dalam peta riset perikanan nasional di masa mendatang.

