SANGIHE, MAL – Pasca guncangan Gempa Sangihe berkekuatan Magnitudo 7,7 pada Senin (8/6) pukul 06.37 WIB, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan bahwa peringatan dini tsunami telah dicabut, sementara itu dilaporkan sebanyak 27 kepala keluarga (KK) terdampak di wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Kabupaten Kepulauan Talaud, Provinsi Sulawesi Utara.
Gempa bumi berpusat di laut pada koordinat 5,79 LU dan 125,14 BT dengan kedalaman 47 kilometer. Berdasarkan informasi resmi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), peringatan dini tsunami yang sempat dikeluarkan pascagempa di berbagai wilayah di Sulawesi Utara, kini telah dinyatakan berakhir. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi Gempa Sangihe susulan.
Update terbaru pada Senin (8/6) pukul 12.30 WIB menunjukkan bahwa dampak Gempa Sangihe telah menyebabkan 27 kepala keluarga terdampak, dengan rincian 20 KK di Kabupaten Kepulauan Sangihe dan 7 KK di Kabupaten Kepulauan Talaud. Selain itu, tercatat kerusakan pada 27 unit rumah di kedua wilayah tersebut, dua unit gereja, satu unit sekolah, satu unit rumah dinas guru, dan satu unit gedung GMIM 76 di Kabupaten Minahasa Utara.
Dampak guncangan Gempa Sangihe dirasakan di beberapa kecamatan di Kabupaten Kepulauan Sangihe, seperti Marore, Tabukan Tengah, Tabukan Selatan, Tabukan Selatan Tengah, Tahuna, dan Tahuna Barat. Di Kabupaten Kepulauan Talaud, guncangan terasa di Kecamatan Rainis, sementara di Kabupaten Minahasa Utara dirasakan di Kecamatan Likupang Barat. Kota Manado juga merasakan gempa dengan intensitas sedang selama beberapa detik.
Pada saat kejadian, masyarakat di Kabupaten Kepulauan Sangihe merasakan guncangan cukup kuat selama sekitar 3 hingga 4 detik yang sempat menimbulkan kepanikan. Di wilayah lainnya seperti Talaud, Manado, dan Minahasa Utara, guncangan dirasakan lemah hingga sedang dengan durasi sekitar 2 hingga 4 detik. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama BPBD di masing-masing wilayah segera melakukan pemantauan, pengumpulan data, serta asesmen cepat untuk memastikan dampak yang ditimbulkan dari Gempa Sangihe ini.
BNPB bersama BPBD provinsi dan kabupaten/kota terdampak terus melakukan koordinasi penanganan darurat, termasuk pendataan korban dan kerusakan, pemantauan aktivitas kegempaan melalui informasi resmi BMKG, serta penguatan sosialisasi dan kesiapsiagaan masyarakat di lapangan.
“BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan waspada terhadap kemungkinan gempa susulan. Masyarakat diminta tidak mudah percaya dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, serta selalu merujuk pada informasi resmi dari BMKG, BNPB, BPBD, dan pemerintah daerah. Warga yang rumahnya terdampak kerusakan diharapkan tetap berhati-hati dan melaporkan kondisi bangunan yang berpotensi membahayakan kepada aparat setempat. BNPB akan terus memperbarui informasi sesuai perkembangan di lapangan,” kata Letjen TNI Dr. Suharyanto, Kepala BNPB RI. ***

