JAKARTA, MAL – Pergerakan mata uang Asia berlangsung beragam pada perdagangan Selasa (18/8/2026) di tengah pelemahan indeks dolar Amerika Serikat (AS) yang mendekati level terendah sejak awal Juni. Meski dolar AS melemah, sebagian besar mata uang Asia justru tertekan akibat meningkatnya ketidakpastian pasar terkait ketegangan AS-Iran, kenaikan harga minyak, dan antisipasi arah kebijakan suku bunga The Fed menjelang Simposium Jackson Hole.

Indeks dolar AS (DXY) tercatat berada di kisaran 99,58 hingga 99,65. Pelemahan dolar dipicu data ekonomi AS yang lebih lemah dari perkiraan, termasuk penurunan penjualan ritel Juli yang menjadi penurunan pertama dalam sembilan bulan terakhir, inflasi yang relatif moderat, serta indikasi pelemahan pasar tenaga kerja.

Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September. Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga turun ke kisaran 30,6 hingga 35 persen dari 52,2 persen sepekan sebelumnya.

Namun, pelemahan dolar tidak serta-merta mengangkat seluruh mata uang Asia. Sentimen pasar tetap dibayangi risiko geopolitik setelah ketegangan AS-Iran kembali meningkat. Pada saat yang sama, harga minyak mentah Brent naik di atas USD 91 per barel sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi impor di berbagai negara Asia.

Won Korea Selatan menjadi salah satu mata uang yang menguat dengan kenaikan 0,2 hingga 0,33 persen ke level KRW 1.410,9 per dolar AS. Ringgit Malaysia juga menguat 0,27 persen ke MYR 4,049 per dolar AS, sementara dolar Taiwan naik 0,24 persen ke TWD 31,78 per dolar AS.

Sebaliknya, rupiah melemah 0,14 hingga 0,17 persen ke kisaran Rp17.845 hingga Rp17.850 per dolar AS pada penutupan sesi siang hingga sore. Mata uang lain yang turut melemah antara lain baht Thailand, yuan China, yen Jepang, peso Filipina, dolar Singapura, dan dong Vietnam.

Selain faktor geopolitik, tekanan terhadap mata uang emerging market juga datang dari tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS. Imbal hasil Treasury tenor 10 tahun berada di atas 4,7 persen, sedangkan tenor 30 tahun melampaui 5,3 persen, level tertinggi sejak 2007.

Head of EMEA Fixed Income Sales Citadel Securities, Nohshad Shah, mengatakan inflasi masih menjadi perhatian utama pasar dan bank sentral AS.

“Inflasi berada di atas target hampir sepanjang lima tahun terakhir. Laju inflasi tahunan di kisaran tinggi 2% mungkin dapat diterima The Fed, tetapi itu membuat proses inflasi hampir tidak punya ruang bernapas di tengah dunia yang terus menghadapi guncangan pasokan,” ujarnya.

Kepala Ekonom AS Jefferies, Thomas Simons, menilai ketidakpastian arah kebijakan moneter masih tinggi.

“Masih terdapat cukup banyak kejanggalan dalam data untuk membuat pasar tetap waspada terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun,” katanya.

Ia menambahkan, “Tanyakan kepada 10 orang mengenai prospek suku bunga kebijakan The Fed, dan Anda mungkin akan mendapatkan 20 jawaban.”

Sementara itu, CEO Tuttle Capital Management, Matthew Tuttle, menyoroti dinamika yen Jepang pascaintervensi otoritas moneter.

“Intervensi mengubah jalurnya. Namun, intervensi tersebut tidak menghilangkan insentif suku bunga yang mendukung carry trade,” ujarnya.

Pelaku pasar kini menanti sejumlah agenda penting yang berpotensi memengaruhi arah pasar keuangan global. Risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Juli dijadwalkan dirilis pada Rabu (19/8) dini hari WIB. Selain itu, perhatian investor juga tertuju pada Simposium Jackson Hole akhir Agustus yang kerap menjadi petunjuk arah kebijakan moneter AS.

Di dalam negeri, pasar menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 18-19 Agustus 2026. Pasar memperkirakan BI akan mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen setelah total kenaikan 75 basis poin pada periode April hingga Juni 2026.