KARO SUMUT, MAL – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mendapat protes langsung dari orang tua siswa yang mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) saat menjenguk korban di RS Efarina Etaham, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Minggu (16/8/2026).

Dalam pertemuan itu, orang tua korban mempertanyakan dugaan zat berbahaya yang menyebabkan anak-anak mereka sakit serta menuntut penjelasan terkait insiden yang menimpa ratusan pelajar.

Insiden tersebut terjadi setelah ratusan siswa dari sedikitnya lima sekolah di Kabupaten Karo mengalami gejala gatal, sesak napas, dan mual usai mengonsumsi makanan MBG yang disalurkan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat. Sejumlah korban menjalani perawatan di RS Amanda, RS Efarina Etaham, dan RS Haji Medan. Beberapa pasien dilaporkan sempat dirawat di ICU anak.

Dalam video yang beredar, seorang ibu dari siswa yang menjadi korban meminta penjelasan mengenai penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami anak-anak mereka.

“Racun apa yang dikasih sama anak-anak kami? Kenapa sampai sekarang tidak tahu racun apa yang terdeteksi pada ikan itu? Bisa dikasih obat, tapi jenis racunnya tidak tahu?” ujarnya kepada Sudaryono.

Ia juga menyampaikan kekhawatiran terhadap kondisi anaknya yang masih mengalami trauma.

“Melihat piring makan rumah saja anak saya trauma,” katanya.

Ibu tersebut meminta penjelasan yang lebih rinci terkait hasil pemeriksaan yang telah dilakukan.

“Tolong, Pak. Permintaan maaf Bapak tidak mengubah keadaan. Apa sebenarnya racun yang dimakan anak saya? Agar kami tahu bagaimana mengobatinya,” ujarnya.

Menanggapi tuntutan itu, Sudaryono menyatakan pihaknya akan membuka informasi terkait hasil pemeriksaan yang telah dilakukan.

“Kita akan terbuka, semuanya akan kita buka,” kata Sudaryono.

Ia menambahkan hasil uji terhadap sampel makanan telah tersedia di Dinas Kesehatan dan investigasi sementara menemukan adanya kelalaian dalam proses pengelolaan bahan baku.

“Hasil uji sudah ada di Dinas Kesehatan. Ada kelalaian yang fatal. Kita sudah melakukan penutupan dapur dan kepala SPPG sudah kita copot,” ujarnya.

Menurut Sudaryono, hasil investigasi sementara menunjukkan sebagian bahan baku ikan tidak disimpan sesuai prosedur.

“Kami coba cek investigasi sementara. Jadi, itu kelalaian ada pada pengolahan. Jadi bahan baku ikan itu sebagian besar dimasukkan ke freezer, ada sekitar 200 atau 300 ekor yang tidak masuk ke freezer itu kemudian ditaruh di suhu ruangan dalam kurun waktu 12 sampai lebih dari 12 jam,” katanya.

BGN menyebut SPPG yang memasok makanan tersebut telah disuspend atau dinonaktifkan sementara. Kepala SPPG terkait juga dicopot dan diajukan untuk pemecatan tidak dengan hormat karena dinilai lalai menjalankan prosedur keamanan pangan.

“Sanksinya pertama dapurnya di-suspend berat, kemudian kepala SPPG-nya bukan hanya dicopot tapi saya ajukan pemecatan dengan tidak hormat status ASN-nya,” ujar Sudaryono.

Ia menegaskan BGN menerapkan kebijakan tanpa toleransi terhadap kelalaian yang berpotensi membahayakan kesehatan penerima manfaat program MBG.

“Tidak boleh ada kelalaian, tidak boleh! Zero tolerance, enggak boleh lalai! Dan saya minta kepala dapur atau siapa pun yang merasa enggak sanggup kerja, kau keluar saja daripada kemudian membahayakan nasib nyawa seseorang,” katanya.

Hingga 16 Agustus 2026, laporan yang tersedia menyebut 64 anak masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit. Sebelumnya, ratusan siswa dari lima sekolah terdampak, dengan beberapa laporan mencatat 265 siswa sempat dirawat akibat gejala yang muncul setelah mengonsumsi MBG.

BGN juga menyatakan akan mengevaluasi sistem pengawasan keamanan pangan pada dapur MBG. Salah satu langkah yang sedang dipertimbangkan adalah penerapan chemical test kit di setiap dapur untuk mendeteksi kemungkinan adanya bahan berbahaya atau pembusukan yang tidak teridentifikasi melalui pemeriksaan organoleptik.

“Jadi ini sedang kami pertimbangkan untuk kemudian di setiap dapur nanti kita lakukan test kit. Jadi dites, diberi chemical untuk mengecek apakah ada arsenik, basi, atau bahan berbahaya lainnya,” kata Sudaryono.

Per 16–17 Agustus 2026, BGN menyatakan sampel makanan telah diuji dan hasilnya tersedia di Dinas Kesehatan. Sejumlah pasien yang sebelumnya dirawat di ICU anak dilaporkan berangsur membaik setelah menjalani perawatan selama beberapa hari.