Ada pelajaran penting dalam hidup yang hampir tidak pernah diajarkan kepada anak-anak di sekolah. Bukan matematika, bukan bahasa Indonesia, dan bukan pula cara mengerjakan tugas kelompok. Pelajaran itu sederhana: akan ada orang yang tidak menyukai kita.
Sejak kecil anak lebih sering diajarkan menjadi anak baik, menyayangi teman, mau berbagi, menghormati orang lain dan tidak bertengkar. Semua itu tentu penting dan tidak ada yang keliru dengan nilai-nilai tersebut. Masalahnya, hidup ternyata tidak berhenti pada bagaimana menjadi orang baik.
Kadang-kadang kita sudah bersikap baik, tetapi tetap tidak disukai. Seorang anak bisa saja tidak pernah mengganggu temannya, tetapi tiba-tiba ada yang menjauhinya tanpa alasan yang ia pahami. Bagi orang dewasa mungkin terdengar sepele, tetapi bagi anak yang mengalaminya, hal itu bisa terasa sangat besar.
Anak kemudian mulai bertanya kepada dirinya sendiri, “Apa saya salah?” Kalau pertanyaan itu terus berulang, ia bisa mulai percaya bahwa dirinya memang tidak cukup baik untuk diterima orang lain. Di sinilah persoalan sebenarnya dimulai, karena anak belum tentu tahu bahwa tidak disukai seseorang tidak selalu berarti dirinya bermasalah.
Kita memang sering mengukur keberhasilan anak dari seberapa baik ia bergaul dengan orang lain. Anak yang punya banyak teman dianggap mudah beradaptasi, sementara anak yang lebih sering sendirian kadang langsung dicurigai punya masalah. Padahal, banyak teman dan disukai semua orang bukanlah ukuran tunggal tentang baik atau buruknya seseorang.
Ada orang baik yang tidak disukai. Ada orang pintar yang dianggap menyebalkan karena terlalu kritis. Ada pula orang yang sebenarnya tidak melakukan kesalahan apa-apa, tetapi memang tidak cocok dengan karakter orang lain.
Anak perlu memahami perbedaan antara melakukan kesalahan dan tidak disukai seseorang. Kalau ia melakukan kesalahan, tentu ia perlu mengakuinya, meminta maaf dan berusaha memperbaiki perilakunya. Tetapi kalau seseorang tidak menyukainya karena alasan pribadi, anak tidak harus menghabiskan seluruh energinya untuk mendapatkan penerimaan orang tersebut.
Ini pelajaran yang kelihatannya sederhana, tetapi tidak mudah dilakukan bahkan oleh orang dewasa. Kita sering memikirkan satu komentar buruk lebih lama daripada sepuluh pujian yang kita terima. Anak yang sejak kecil terbiasa mencari pengakuan orang lain akan lebih mudah terluka ketika memasuki dunia yang penilaiannya jauh lebih keras.
Karena itu, pendidikan karakter seharusnya tidak hanya mengajarkan bagaimana menjadi teman yang baik. Anak juga perlu belajar apa yang harus dilakukan ketika temannya tidak bersikap baik kepadanya. Ia perlu tahu kapan harus mengalah, kapan berbicara, kapan menjauh dan kapan meminta bantuan orang dewasa.
Tentu ada batas yang harus diperhatikan. Jika anak mengalami perundungan, penghinaan terus-menerus, ancaman atau kekerasan, persoalannya bukan lagi sekadar “ada orang yang tidak suka”. Dalam keadaan seperti itu, orang tua dan sekolah harus turun tangan untuk memberikan perlindungan.
Namun, tidak setiap konflik pertemanan harus diselesaikan oleh orang tua. Ada kalanya anak perlu diberi ruang untuk mengatakan sendiri bahwa ia tidak nyaman diperlakukan seperti itu. Dari pengalaman-pengalaman kecil semacam inilah keberanian, batas diri dan kemampuan menyelesaikan masalah perlahan tumbuh.
Anak juga perlu belajar bahwa ia tidak harus berteman dekat dengan semua orang. Menghormati orang lain tidak sama dengan harus menyukai semua orang atau selalu berada di lingkungan yang sama. Ia boleh menjaga jarak dari orang yang tidak cocok dengannya selama tidak merendahkan atau menyakiti orang tersebut.
Pelajaran ini akan semakin penting ketika anak tumbuh dewasa. Di kampus, organisasi dan tempat kerja, ia akan bertemu dengan orang-orang yang berbeda kepentingan, karakter dan cara berpikir. Tidak mungkin semua orang yang ditemuinya akan menyukai dirinya.
Apalagi sekarang kehidupan anak tidak hanya berlangsung di sekolah dan lingkungan rumah. Media sosial membuat seseorang bisa menerima pujian dari orang yang tidak mengenalnya, tetapi pada saat yang sama juga menerima komentar buruk dari orang yang bahkan tidak pernah bertemu dengannya. Kalau harga diri dibangun dari jumlah tanda suka dan komentar orang lain, anak akan sangat mudah kehilangan pijakan.
Karena itu anak perlu memiliki semacam “rem” dalam dirinya. Ketika seseorang mengatakan dirinya buruk, ia tidak harus langsung percaya, tetapi juga tidak perlu langsung marah. Ia bisa bertanya lebih dulu, apakah kritik itu memang benar dan ada sesuatu yang perlu diperbaiki.
Kalau memang salah, perbaiki. Kalau memang ada orang yang terluka karena perilaku kita, minta maaf. Tetapi kalau setelah semua itu seseorang tetap tidak menyukai kita, mungkin kita memang harus belajar menerima bahwa tidak semua hal berada dalam kendali kita.
Orang tua juga perlu berhati-hati ketika melihat anak mengalami persoalan pertemanan. Tidak setiap anak yang pulang dalam keadaan sedih harus langsung dicarikan siapa yang salah. Kadang anak hanya membutuhkan tempat untuk bercerita dan orang dewasa yang mau mendengarkan tanpa buru-buru memberikan keputusan.
Dunia orang dewasa akan mempertemukan anak dengan lebih banyak bentuk penolakan. Ia mungkin tidak dipilih menjadi pengurus, tidak diterima dalam sebuah kelompok, mendapat kritik dari atasan atau memiliki rekan kerja yang tidak menyukainya. Semua itu tidak bisa kita cegah, tetapi anak bisa dipersiapkan agar tidak mudah runtuh ketika menghadapinya.
Yang perlu dibangun bukan anak yang kebal terhadap perasaan. Anak tetap boleh sedih ketika ditolak dan boleh kecewa ketika tidak diterima. Yang penting, ia tahu bahwa satu penolakan tidak menentukan seluruh nilai dirinya.
Barangkali inilah bagian pendidikan karakter yang selama ini kurang kita bicarakan. Kita sibuk mengajarkan anak bagaimana menjadi orang baik, tetapi kurang mengajarkan bagaimana tetap menjadi orang baik ketika tidak mendapatkan perlakuan yang baik. Padahal kemampuan itu akan sangat menentukan bagaimana seseorang menjalani kehidupan sosialnya ketika dewasa.
Anak perlu tahu bahwa menjadi baik tidak selalu menghasilkan tepuk tangan. Kadang kejujuran membuat orang lain tidak nyaman, sikap tegas dianggap sombong, dan keputusan untuk berkata “tidak” membuat seseorang kecewa. Semua itu tidak otomatis berarti kita harus mengubah diri hanya agar kembali disukai.
Pada akhirnya, kedewasaan bukan ketika semua orang menyukai kita. Kedewasaan justru mungkin dimulai ketika kita mampu menerima bahwa ada orang yang tidak menyukai kita tanpa buru-buru membenci mereka. Dan yang paling penting, kita tidak ikut membenci diri sendiri hanya karena seseorang memilih untuk tidak menyukai kita.**
